Kecurangan Yang Berakhir Menyedihkan
Hari ini adalah hari pertama Alvaro bekerja, setelah ribuan kali melayangkan lamaran di berbagai perusahaan, tapi memang dia harus sering meratapi nasib karena ditolak. Dasi sudah terlingkar rapi di lehernya. Celana dan kemeja pun juga terlihat sangat necis. Sepatu hitamnya memantulkan cahaya membuat mata menjadi silau karenanya.
Nasib Alvaro ternyata tersangkut menjadi operator komputer di suatu perusahaan konstruksi kecil yang baru tumbuh. Dengan semangat yang membara, ia berjalan lebih cepat dari biasanya. Sesampainya di kantor, ia menarik napas sejenak sebelum mengetuk daun pintu ruang direktur—bukan untuk berpidato tentang dedikasi, melainkan sekadar memastikan dirinya benar sudah berada di tempat.
Direktur itu bernama Pak Manaf, seorang pria yang baru saja merintis perusahaannya. Kurang-lebih baru 3 tahun usahanya berjalan. Karyawannya pun hanya berjumlah 10 orang yang baru genap dengan kehadiran Alvaro.
“Selamat pagi, Pak,” ucap Alvaro sambil mengetuk pelan pintu yang setengah terbuka.
“Mas Alvaro, ya? Masuk,” jawab Pak Manaf singkat, senyumnya ramah namun tidak berlebihan.
Di ruang itu, Pak Manaf menjelaskan pekerjaan Alvaro dengan nada tenang dan berurutan. Sesekali ia membuka buku panduan yang sampulnya mulai pudar, menandai halaman-halaman penting dengan ujung jarinya, setelah itu Sang Direktur memberikan buku itu sebagai pegangan bagi Alvaro. Lima belas menit kemudian percakapan itu berlangsung, ia menekan bel kecil di mejanya.
“Ghulul, tolong antar Mas Alvaro ke ruang operator,” katanya.
Seorang pria bertubuh sedang muncul dari balik pintu, mengangguk cepat sebelum mengajak Alvaro keluar.
Begitu duduk di kursinya, Alvaro langsung menyalakan komputer dan membuka berkas-berkas yang telah dijelaskan sebelumnya. Jemarinya bergerak cepat, meski sesekali berhenti lebih lama dari seharusnya ketika ia membuka kembali buku panduan yang tebal itu. Ia membaca ulang instruksi dengan saksama, takut ada satu langkah yang terlewat.
Ia tahu betul betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan; sebab itu, bahkan kesalahan kecil terasa seperti ancaman yang bisa merenggut semuanya.
***
Tiga bulan berlalu tanpa banyak kesalahan berarti yang telah terjadi. Ia datang lebih pagi dari kebanyakan karyawan dan sengaja pulang dalam waktu yang sudah ditentukan, seolah kursi itu bisa sewaktu-waktu diambil kembali darinya.
“Mas Alvaro, nanti malam kosong?” suara Pak Ghulul terdengar dari ambang pintu.
Alvaro segera berdiri. “Kosong, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Pak Ghulul tersenyum tipis. “Bukan bantu. Pak Manaf mau traktir makan. Katanya, kerja kamu sejauh ini memuaskan.
Untuk sesaat Alvaro terdiam. Ia tidak menyangka namanya disebut dalam konteks yang menyenangkan. “Baik, Pak,” jawabnya akhirnya, mencoba menjaga nada suaranya tetap biasa, meski ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya.
Malam datang lebih cepat dari yang Alvaro kira. Sepanjang perjalanan menuju warung, ia lebih banyak diam, mendengarkan percakapan Pak Manaf dan Pak Ghulul yang terdengar santai. Bau aspal yang masih hangat dan deru kendaraan sesekali membuatnya merasa canggung—ini bukan lembur, bukan rapat, melainkan pertemuan yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Mereka duduk di sebuah warung lalapan di pinggir jalan, sederhana, dengan meja kayu yang permukaannya mulai mengelupas. Pak Ghulul mengambil secarik kertas dan pulpen kecil dari laci meja kasir, lalu kembali ke tempat duduk.
“Pak Manaf, pesan apa?” tanya Pak Ghulul sambil membuka tutup pulpen.
“Ayam kampung, es jeruk,” jawab Pak Manaf singkat, matanya tak lepas dari layar ponsel.
“Mas Alvaro?”
Alvaro sempat ragu. Tangannya bertaut di bawah meja. “Apa saja, Pak.”
Dia merasa sangat sungkan dengan keadaan ini, karena ini untuk pertama kalinya dia makan dengan dua pria yang menjadi atasannya itu.
Pak Manaf melirik sekilas. “Samakan saja dengan saya,” katanya, lalu kembali menunduk ke ponsel.
Setelah mencatat pesanan, Pak Ghulul berdiri dan berjalan ke arah meja kasir. Alvaro kini tinggal berdua dengan Pak Manaf. Ia mengaduk pelan es jeruknya yang sebelumnya sudah datang, berusaha menemukan topik pembicaraan yang tak kunjung datang. Keheningan ini membentuk rasa canggung yang membatin di dalam dirinya.
“Saya ke kamar mandi sebentar, Pak,” ucapnya memecah keheningan.
Pak Manaf mengangguk singkat.
Alvaro melangkah menyusuri sisi warung. Di dekat meja kasir, langkahnya melambat tanpa ia sadari. Pak Ghulul berdiri membelakangi meja makan, berbicara dengan kasir yang sedang menulis nota.
“Mbak.” Suara itu terdengar rendah, hampir menyatu dengan bunyi sendok dan piring pelanggan, “tolong harganya dibuat dua kali saja.”
Langkah Alvaro mendadak terasa berat. Ia berhenti beberapa detik sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi, seakan berharap ia salah dengar. Suara itu masih terngiang di kepalanya—dibuat dua kali saja.
Ia membasuh wajahnya lebih lama. Air mengalir, tetapi pikirannya tidak ikut jernih.
Malam itu, di meja makan, Pak Manaf berkali-kali memuji ketelitiannya. “Karyawan seperti kamu jarang,” kata beliau sambil tersenyum.
Alvaro membalas dengan senyum tipis. Ia mengangguk setiap kali namanya disebut, tetapi pikirannya terpecah. Setiap suapan terasa hambar. Ia bertanya dalam diam: apakah ia harus mengatakan apa yang didengarnya? Atau diam demi menjaga kursi yang baru saja ia peroleh?
***
Pagi itu, sebuah daftar kerusakan diantar oleh seorang karyawan, berkas diletakkan di atas meja Alvaro. Ia membacanya sekilas sebelum mulai mengetik: AC dan CCTV tercantum di baris paling atas. Tangannya bergerak rapi, tetapi pikirannya sesekali terhenti pada angka-angka yang ia susun.
Setelah laporan itu tercetak, ia membawanya ke ruang Pak Manaf.
“AC dan CCTV,” gumam Pak Manaf sambil membaca. “Tolong sampaikan ke Pak Ghulul, hari ini AC segera diganti. CCTV bulan depan saja, dananya belum cukup. Lagipula, kantor ini aman.”
Alvaro mengangguk. Kata “aman” itu tertinggal lebih lama di kepalanya daripada yang lain dan menjelaskan semuanya.
Mendengar perintah itu, Alvaro berjalan menuju ruang sekretaris dengan langkah yang sedikit tertahan. Pintu diketuk pelan sebelum ia masuk.
Ia menyampaikan instruksi Pak Manaf tanpa banyak tambahan.
“Oke, makasih Mas Alvaro,” jawab Pak Ghulul ringan. Ia menutup map di mejanya lalu berdiri. “Kalau sudah tidak ada kerjaan lagi, ikut saya ya. Beli AC. Angkutnya tidak bisa sendirian.”
Kalimat itu terdengar biasa. Namun bagi Alvaro, ada sesuatu yang mengganjal. Ia mengangguk pelan, meski dalam benaknya pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan.
Tanpa banyak pilihan, Alvaro ikut bersama Pak Ghulul menuju toko AC menggunakan mobil kantor. Sepanjang perjalanan, ia lebih memilih tidak banyak berbicara, hingga sampai ke tujuan.
Di dalam toko, mata mereka berkeliling melihat berbagai macam alat elektronik yang terpampang. Pak Ghulul mulai menunjuk salah satu AC dan memilih salah satu unit yang dianggap paling sesuai. Prosesnya berlangsung cepat, seolah ini urusan biasa.
“Mas Alvaro, tolong bawa ke mobil ya. Saya bayar dulu,” kata Pak Ghulul santai.
Alvaro mengangguk. Ia memanggil petugas toko untuk membantu mengangkat AC ke bagasi. Setelah itu, bukannya langsung kembali ke mobil, ia melangkah pelan mendekati meja kasir. Tidak terlalu dekat. Cukup untuk mendengar.
Suara kipas angin tua berderit di langit-langit. Kertas nota bergesekan.
Lalu kalimat itu terdengar lagi, nyaris sama seperti semalam.
“Pak, ini kan harganya 2,1 juta. Tolong di nota ditulis 4,2 juta saja.”
Jantung Alvaro berdetak lebih keras dari biasanya. Kini ia tahu, ini bukan kebetulan.
Alvaro berdiri mematung beberapa detik. Kalimat itu kembali terngiang, sama persis seperti yang ia dengar semalam. Ia menarik napas panjang, menatap lantai toko yang dingin dan mengilap.
Ini tersadar bahwa ini bukan kesalahan sesaat. Bukan pula kebetulan.
Ia tahu, jika ingin bicara, ia harus membawa sesuatu yang lebih kuat dari sekadar cerita.
***
Hari pun berganti, pagi itu Pak Manaf memecah suasana. “Perhatian sebentar,” seru Pak Manaf.
Satu persatu karyawan keluar dari ruangan masing-masing.
“Ponsel saya hilang. Sejak lembur semalam, sepertinya tertinggal di kantor. Ada yang melihat?”
Mereka bertatapan satu sama lain.
“Coba cek CCTV saja, Pak,” usul seseorang.
“CCTV kita rusak,” sahut yang lain cepat.
Pak Manaf menghela napas. “Baik. Kalau begitu, kita cari bersama. Semua ruangan.”
Satu jam berlalu tanpa hasil. Wajah Pak Manaf tampak menegang. “Tidak mungkin ada pencuri di sini,” gumamnya, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.
Alvaro berdiri sedikit terpisah. Ia menimbang-nimbang kata-katanya.
“Kalau lapor polisi, Pak?” ucapnya akhirnya.
Pak Manaf terdiam. “Ponselnya bukan soal harga,” katanya pelan. “Tapi data di dalamnya.”
“Kalau begitu saya yang ke kantor polisi,” sela Pak Ghulul cepat, seolah ingin menutup pembicaraan.
Lama Pak Manaf berpikir hingga akhirnya memutuskan melaporkan kehilangan ponsel itu ke polisi. Ia meminta Pak Ghulul berangkat lebih dulu, sementara dirinya pulang untuk memastikan barangkali ponsel itu tertinggal di rumah.
Di tengah perjalanan, ponsel Pak Ghulul berdering. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.
“Halo?”
“Tidak perlu tahu saya siapa,” suara di seberang terdengar singkat dan dingin. “Putar arah. Jangan ke polisi. Kalau mau ponsel itu kembali, minta bosmu transfer sepuluh juta.”
Sambungan terputus. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk berisi nomor rekening.
Pak Ghulul langsung membelokkan mobil. Ia memilih menuju rumah Pak Manaf.
“Pak, barusan saya dapat telepon dari nomor tak dikenal,” katanya setibanya di teras. “Orang itu minta tebusan. Sepertinya dialah yang mengambil ponsel.”
Pak Manaf terdiam sesaat. “Berarti orang ini tahu betul keadaan kita,” ucapnya pelan.
“Apa kita tetap lapor polisi?” tanya Pak Ghulul, berhati-hati.
Pak Manaf menggeleng. “Semua data perusahaan ada di ponsel itu. Kalau kita gegabah, semuanya bisa hilang.” Ia menarik napas panjang. “Dia minta berapa?”
“Dua puluh juta, Pak.”
Mendengar permintaan itu, Pak Manaf masuk ke dalam rumah tanpa banyak bicara. Sekitar sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan sebuah koper hitam di tangannya.
“Segera ditransfer,” katanya singkat sambil menyerahkan koper itu kepada Pak Ghulul. “Setelah itu, hubungi orang tersebut. Saya ingin ponsel itu kembali malam ini.”
Pak Ghulul langsung menuju mesin ATM terdekat. Uang itu berpindah tangan tanpa saksi, tanpa suara. Ia mencoba menghubungi nomor yang sama, berkali-kali, hingga akhirnya sebuah pesan masuk: oke.
Ia kembali ke rumah Pak Manaf dan menunjukkan pesan itu tanpa berkata apa-apa.
Malam semakin larut. Pak Manaf duduk sendiri di kamar, gelisah. Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak.
“Ayah,” suara putrinya terdengar dari balik pintu. “Tadi aku nemu paket di depan gerbang, habis pulang les.”
Sebuah kardus hitam diletakkan di hadapannya. Pak Manaf membukanya perlahan. Di dalamnya, ponselnya terbaring rapi. Di sampingnya, terlipat plastik berisi uang sepuluh juta.
Pandangannya berhenti pada sebuah amplop di dasar kardus.
Maaf, Pak. Saya tidak berniat mencuri. Saya hanya ingin menunjukkan kecurangan yang selama ini terjadi tanpa sepengetahuan Bapak. Di dalam amplop ini terdapat bukti transfer uang yang masuk ke rekening saya.
Pak Manaf membaca kertas itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Tangannya mengeras. Wajahnya memerah, bukan karena kehilangan, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
***
Paginya, Pak Manaf datang lebih awal dari biasanya. Langkahnya cepat dan lurus, tanpa menoleh ke siapa pun. Suasana kantor seketika mengeras; tidak ada karyawaIa berhenti di depan ruang sekretaris dan mendorong pintu hingga terbuka lebar.
“Silakan kemasi barang-barang Anda,” katanya datar. “Mulai hari ini, Anda tidak lagi bekerja di sini.”
Pak Ghulul berdiri terpaku. “Apa salah saya, Pak?” tanyanya pelan.
Pak Manaf mengeluarkan lembar bukti transfer dari map yang dibawanya. Ia meletakkannya di meja, tepat di hadapan Pak Ghulul.
“Sepuluh juta itu kembali hari ini,” katanya singkat. “Atau saya yang ke polisi.”
Pak Ghulul membaca lembar itu dengan wajah yang perlahan kehilangan warna. Ia tidak lagi bertanya.
“Saya kembalikan hari ini, Pak.”
Tanpa banyak kata, ia masuk ke ruangannya, membereskan beberapa barang, lalu berjalan melewati deretan meja karyawan yang memilih menunduk.
Dari balik meja operatornya, Alvaro memperhatikan langkah itu sampai menghilang di ujung koridor.
Ia tidak tersenyum. Hanya menarik napas panjang, seolah beban yang beberapa hari ini menempel di dadanya akhirnya terlepas.

