Takdir di Ujung Pena
Aliya Noor Asiana adalah mahasiswa Pendidikan Fisika UNS, berdomisili Klaten yang gemar menulis cerpen bertema kehidupan dan spiritualitas. Saya percaya bahwa setiap kata bisa menjadi jembatan antara hati manusia dan makna yang lebih tinggi
Di kamar kecil yang penuh kertas berserakan, dengan cahaya yang hanya bersumber dari lentera kuno, Rafi menatap layar laptopnya yang menyala redup. Kursor berkedip tanpa kata, seolah menantangnya untuk menulis sesuatu, apa saja. Tetapi, jari-jemarinya tetap diam, ia tidak bisa memikirkan apa-apa saat itu.
Sudah tiga bulan ia tak menulis sejak naskah filmnya ditolak semua rumah produksi. Ia merasa kehilangan arah. “Mungkin Allah memang nggak kasih aku jalan di dunia tulis-menulis,” gumamnya lirih. Ia menarik napas panjang, dan memutuskan untuk berbaring di tempat tidur, tak lama kemudian angin bertiup kencang dan meluncur menyelimuti kamarnya melewati ventilasi kecil pada dinding-dinding, membawa aroma tanah basah ke dalam kamar, dan tiba-tiba “Trak…” sebuah pena hitam jatuh dari atas meja dan membuat mata Rafi menoleh seketika.
Rafi teringat bahwa pena itu pemberian almarhum ayahnya, seorang guru pesantren yang dulu sering berkata, “Menulis itu ibadah, Nak. Tapi jangan hanya menulis karena ingin dikenal, menulislah karena seakan-akan langit mengenalmu.”
Rafi tersenyum kecil karena mengingatnya. Dalam keputusasaan, ia mengambil pena itu dan bangkit dari tidurnya, ia lalu pergi duduk di meja belajarnya, yang sudah nampak using tapi di setiap sudutnya tersimpan jejak perjuangan bertahun-tahun dari coretan pertama hingga catatan mimpi yang kini hamper pupus entah kemana. Rafi mulai menggambil kertas yang ada di meja itu dan mulai berpikir.
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana, tapi mungkin… aku cuma perlu menulis.”
Ia mulai menulis sebuah kisah tentang seseorang yang selalu gagal, tapi terus mencoba memahami makna takdir. Tokohnya bernama Raka, ia di gambarkan sebagai seseorang yang sangat mirip dirinya sendiri. Dalam ceritanya, Raka kehilangan pekerjaan, kehilangan cinta, lalu kehilangan semangat hidup. Namun suatu hari, Raka menemukan selembar surat bertuliskan, “Yang kamu anggap akhir, sebenarnya itu hanyalah sebuah halaman yang belum kamu buka.”
Jarum jam terus berputar, tak terasa hari sudah menunjukkan tengah malam. Rafi menulis hingga larut malam. Tapi anehnya, tangannya belum berhenti menulis. Seolah setiap kata yang lahir adalah pelararian dari sunyi, dan hanya pen aitu yang mengerti isi hatinya, setiap kalimat yang ia tulis terasa nyata. Rafi merasa bahwa semua kata-kata yang ia tulis di lembar-lembar itu sangat linear dengan apa yang baru saja dialaminya, mulai dari kegagalan sampai dimana saat ia menemukan titik cahaya dipuncak buntu pikirannya.
Rafi terdiam lama di depan layar.
“Jangan-jangan… aku sedang menulis takdirku sendiri?”, batinnya dengan rasa agak terheran-heran.
Malam berikutnya, ia melanjutkan menulis, kini dengan hati bergetar. Ia mencoba mengubah arah kisah: yang awalnya Raka hanya mengalami kegagalan yang bertubi-tubi, kini Raka mulai belajar menerima semua yang terjadi, dan Raka percaya bahwa Allah pasti akan menulis setiap peristiwa dengan tujuan tersembunyi.
Di halaman terakhir, Rafi menulis:
“Raka berhenti berdoa agar hidupnya mudah, tetapi Raka mulai berdoa agar hatinya kuat menerima apa pun yang Allah pilihkan.” Seperti yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 216, yang menyatakan bahwa “ada kalanya kita membenci sesuatu padahal itu baik, dan menyukai sesuatu padahal itu buruk, karena Allah yang mengetahui segalanya sementara manusia tidak.”
Begitu titik terakhir ia tulis, satu satunya sumber pencahayaan di kamar Rafi, lentera kuno di kamarnya tiba-tiba padam. Dalam kegelapan, Rafi merasakan udara hangat di sekitarnya, bukan menakutkan, tapi menenangkan. Seolah ada sesuatu yang berkata dalam hatinya,
“Kau tak sedang menulis fiksi, Rafi. Kau sedang menulis pemahamanmu tentang takdir.”
Esoknya, ia bangun dengan perasaan ringan. Ia menatap keluar jendela, melihat langit yang sama tapi terasa berbeda. Ia membuka laptop, mulai mengetik naskah-naskah yang sudah ia buat sampai larut malam, dan tanpa sadar ia menangis.
Rafi menyadari bahwa semua penderitaan yang ia tulis ternyata adalah bentuk curhatnya pada Tuhan, dan di antara baris-baris itu, ada jawaban yang ternyata Rafi butuhkan selama ini.
Bahwa takdir bukan sesuatu untuk dilawan, melainkan untuk dipahami. Karena di balik setiap peristiwa yang kita sebut kebetulan, ada tangan halus yang menuntun arah pena kehidupan. Kita menulis dengan tinta harapan, namun lembarannya sudah lama disiapkan oleh Sang Penulis Segalanya.
Beberapa minggu kemudian, ia mengirimkan naskah itu ke sebuah lomba menulis bertema “Perjalanan Jiwa.” Ia tak berharap menang. Tapi tiga bulan setelahnya, sebuah email datang: naskahnya menjadi juara pertama.
Karena sudah memenangkan perlombaan tersebut, tak lama kemudian ia di panggil untuk wawancara singkat, panitia bertanya, “Apa yang menginspirasi Anda menulis cerita ini?”
Rafi tersenyum, menatap pena tua di tangannya.
“Saya cuma menulis tentang seseorang yang akhirnya berhenti memaksa Tuhan untuk mengikuti jalan pikirannya sendiri.”
Malam hari pun tiba, ia kembali membuka buku catatan itu. Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat sederhana:
“Pena ini tak pernah menulis kisahku, ia hanya menuntunku kembali pada-Nya.”
Rafi menutup buku itu perlahan, tersenyum kecil, menatap langit, lalu berbisik:
“Terima kasih, Ya Allah. Ternyata setiap titik dalam hidupku memang telah Kau tulis sejak awal, jauh sebelum aku memahami arti kehilangan, keberanian, dan harapan. Aku hanya perlu belajar membacanya perlahan, dengan hati yang tenang dan jiwa yang pasrah..”
Matanya mulai berair, tersapu haru yang tak bisa dijelaskan. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik selimut dan memutuskan untuk beristirahat malam itu.
