IBU
Editor: Aldi Muheldi
Layar ponsel menyala, menampilkan seorang gadis berambut hitam tergerai, menatap ibunya jauh di seberang sana. Kecerahan layar diatur maksimal memantulkannya ke wajah sang ibu yang sedang menyunggingkan senyum keriputnya. Tidak ada atmosfer kesenduan yang mereka kirim satu sama lain, hanya senyuman damai yang memantul diantara dua dimensi.
“Halo, Bu!” Hera menyapa ditengah riuhnya gerbong kereta, namun kebisingan itu seketika redam saat suaranya terdengar oleh ibunya.
“Ibu aku kangen.” Hera masih sama seperti awal panggilan video itu dimulai, senyumannya tetap merekah.
“Ibu juga, Hera. Semoga kamu selalu sehat ya disana. Ibu disini sehat.” “Kita udah lama banget ga ketemu ya, Bu.” Hera merespon.
Di seberang layar, sang ibu menatap putrinya dengan mata yang teduh. keriput di wajahnya bukan sekadar tanda usia, melainkan peta dari segala rindu yang disimpannya selama ini. setiap senyum yang ia berikan adalah upaya untuk menyembunyikan lelah, agar Hera hanya melihat ketenangan, bukan kerinduan yang mencekik di dadanya. ia tahu, dalam setiap panggilan singkat ini, ia harus kuat—sebab hanya itu yang bisa ia wariskan dari jauh yaitu keyakinan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tangan tuanya bergetar halus saat menggenggam ponsel, seakan dengan cara itu ia bisa meraih Hera di balik layar. setiap kata yang keluar dari bibirnya dipilih hati-hati, lembut, dan sederhana. ia ingin putrinya percaya bahwa ia baik-baik saja, meski di lubuk terdalam ada kerinduan yang mengalir deras. ketika hera tersenyum, ia ikut tersenyum lebih tulus, karena dalam senyum itu ia menemukan alasan untuk bertahan.
“Maaf aku gaada disana, Aku disini bakal tetep doain Ibu.” Hera menatap mata ibunya yang kini mulai berkaca-kaca.
“Gapapa sayang, Ibu udah tenang disini. Kerinduan itu masih sama seperti dulu, tapi ibu percaya apa yang sudah terjadi adalah alur terbaik dari tuhan.”
Hera menangkap kesenduan itu, dibalik senyumnya mungkin ia ingin memuntahkan tangisan hebat dari lubuk hatinya, tapi dia begitu pandai menyembunyikan awan kelam itu. Sambil menatap ibunya ia berhasil menemukan butiran bening mengalir di lekukan kerutan sang ibu.
“Suara ibu pengantar tidurku, sayangnya aku udah gabisa denger itu lagi, tapi aku masih bisa tidur nyenyak, kok.” Hera berbohong—mungkin.
“Dipikir-pikir lucu juga ya, Hera kecil gabisa tidur kalau ga diceritakan dongeng.” Ibu mengusap pipinya.
Hera berbinar, “Iya, Bu, Hera inget banget… kalo ga ada dongeng, Hera pasti rewel dan ga mau merem. padahal dongengnya sering diulang-ulang, tapi tetep aja bikin Hera tenang.”
Ibunya terdiam, mencerna apa yang sebenarnya sedang ia lakukan. Bibirnya bergetar tak sanggup berkata-kata, kesunyian berlalu lalang sebentar menyisakkan detak jantungnya yang nyaris sama dengan jarum jam di samping foto anaknya. Kemudian melanjutkan percakapannya.
“Kadang ibu mikir, kenapa kebahagiaan itu selalu dirampas lebih dulu.”
“Hera juga sering mikir gitu. kayak setiap kali kita lagi bahagia, ada aja yang bikin itu cepat hilang. mungkin karena bahagia itu terlalu berharga, jadi kita cuma dikasih sebentar… biar kita bener-bener jagain dan hargain.”
“Tapi ibu udah pelan pelan belajar ngeredain rindu ibu.”
“Seneng denger ibu bisa pelan-pelan belajar, mungkin itu tandanya ibu lebih kuat daripada Hera. Hera masih sering kalah sama rasa kangen ini.” Hera berhenti sebentar, suaranya masih sama, “Tapi jangan pernah berhenti inget Hera ya, bu… karena cuma itu yang bikin Hera tetep ada.”
Dia menarik nafas pelan…
Khayalannya terasa begitu nyata, sangkalannya berubah menjadi maklum beralasan kerinduan. Meski yang ia tatap hanyalah algoritma, kumpulan data dan suara yang dibangun dari kenangan. teknologi yang disebut lifecast ai, program yang bisa meniru orang yang telah tiada. Namun, hanya itu cara agar ia bisa melihat wanita itu berdiri kokoh dengan senyumnya yang kadang kala kosong seperti robot.
“Makasih ya udah mau jagain Hera dengan penuh kasih sayang.” Hera tersenyum. “Sama-sama anakku,” balas Ibu.
“Maaf kalau Hera sering ngerepotin.”
Ibu tidak sanggup menahan air matanya, ia menangis. “Hera gapernah ngerepotin ibu, kok.”
Tiba-tiba ponselnya mati. Ia tidak sanggup lagi menahan amarah kepada Tuhan atas kerinduan yang mengutuknya selama ini, setelah kepergian dari sosok yang sangat ia cintai, dunianya berubah menjadi abu-abu. Ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, dunia berjalan seperti biasanya, hanya dia yang masih berhenti di 100 hari yang lalu. Saat orang terkasihnya pergi untuk selamanya, dia meringkuk diatas kursinya. Cahaya temaram memeluk tubuh mungilnya yang dulu berisi.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan sisa hangat dari layar yang padam itu lenyap bersama cahaya. Malam terasa lebih pekat daripada biasanya, dan keheningan menusuk seperti pisau dingin ke dalam dada. Di sela isaknya, ia sadar bahwa tak ada teknologi, seberapa canggih pun, yang mampu mengisi ruang kosong di hatinya. Kerinduan itu tetaplah nyata, dan justru semakin menyakitkan ketika ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa yang telah pergi takkan pernah kembali.
Foto-foto lama di meja riasnya seakan menatap balik, membangkitkan ingatan yang pernah ia coba kubur. Tawa, rengek, dan suara panggilan kecil itu bergaung samar di kepalanya, membuat dadanya semakin sesak. Ia memeluk dirinya sendiri, seolah dengan begitu bisa menahan tubuhnya agar tidak runtuh. Pada akhirnya, ia hanya bisa berbisik lirih ke ruang kosong, memanggil nama yang sudah seratus hari tak lagi menjawab.
Isak tangis menggema di ruangan itu, setelah panggilan video berakhir dia berjanji untuk benar-benar menjalani hidup, merelakan apa yang telah terjadi. Di samping meja rias yang digenangi air mata, sang ibu mengambil foto anaknya yang masih balita, memeluknya erat-erat kemudian tersenyum damai.
“Bayi kecilku.”

