Rekonstruksi Teater Abdul Muluk oleh Teater AiR Jambi: Pelestarian Syair Melayu dalam Panggung Tradisional
Stefanie Brigitha Bengan, lahir di Jambi pada 23 Februari 2009, merupakan siswi kelas XI SMAN 2 Kota Jambi yang memiliki minat besar pada seni teater dan tari. Melalui analisis pementasan teater ini, Stefanie berharap pembaca dapat lebih memahami dan menghargai seni pertunjukan tradisional Melayu Jambi.
Pementasan Rekonstruksi Teater Abdul Muluk (Re:TAM) karya dan sutradara Oky Akbar merupakan bentuk pelestarian teater tradisional Melayu yang berkembang di Jambi. Pertunjukan ini dipentaskan di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 14.30 WIB dengan durasi sekitar ±120 menit dan dapat ditonton secara gratis oleh masyarakat. Pementasan ini melibatkan sejumlah aktor dan seniman lokal Jambi dalam sebuah kolaborasi besar yang mengadaptasi Syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji tanpa melakukan pemotongan cerita.
Pementasan Rekonstruksi Teater Abdul Muluk mengangkat tema tentang perjuangan, kesetiaan, balas dendam, dan pengorbanan dalam kehidupan kerajaan Melayu. Cerita berpusat pada perjalanan hidup Abdul Muluk, putra Sultan Abdul Hamidsyah yang menggantikan ayahnya sebagai pemimpin negeri Barbari.
Pementasan dibuka dengan kemunculan dua pedagang yang membawa kotak kayu menggunakan tongkat dan tali serta memegang cambuk. Kedua tokoh tersebut berfungsi sebagai narator yang hadir di awal, tengah, dan akhir cerita untuk menjelaskan alur melalui syair-syair Melayu yang berima seperti pantun. Suasana pertunjukan terasa hidup karena diiringi musik dan gendang khas Melayu serta tarian para pemain yang berkeliling panggung dengan cahaya lampu berwarna merah, kuning, hijau, biru, putih, dan oranye yang terus berganti.
Sejak kecil Abdul Muluk tumbuh bersama Rahma, seorang anak perempuan yatim piatu yang telah lama hidup di lingkungan kerajaan. Hubungan keduanya sangat dekat dan digambarkan melalui adegan masa kecil yang penuh canda, permainan pedang, dan pantun Melayu yang menyenangkan.
Konflik mulai muncul ketika ayah Sultan Siapudin meninggal di penjara kerajaan Barbari setelah ditangkap oleh Sultan Abdul Hamidsyah akibat perselisihan perdagangan kain. Peristiwa tersebut membuat Sultan Siapudin menyimpan dendam yang besar terhadap kerajaan Barbari. Sebelum meninggal, Sultan Abdul Hamidsyah berpesan kepada Abdul Muluk agar menjadi pemimpin yang bijaksana, tidak menyakiti rakyat, dan selalu mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan. Setelah itu Abdul Muluk resmi diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya dan dinikahkan dengan Rahma karena keduanya telah lama hidup bersama dan saling menyayangi.
Dalam perjalanan pelayaran dan pemerintahannya sebagai raja muda, Abdul Muluk kemudian bertemu dengan seorang perempuan bernama Siti Rafiah. Abdul Muluk jatuh cinta kepada Siti Rafiah dan akhirnya menikah dengannya hingga memiliki dua orang istri, yaitu Rahma dan Siti Rafiah. Hubungan antara Rahma dan Siti Rafiah digambarkan sangat baik tanpa rasa iri ataupun permusuhan. Rahma bahkan menganggap Siti Rafiah seperti adiknya sendiri karena sifatnya yang lembut, setia, dan berbakti kepada keluarga kerajaan.
Konflik cerita semakin memuncak ketika Sultan Siapudin memutuskan menyerang negeri Barbari demi membalas dendam atas kematian ayahnya. Meskipun telah disarankan oleh menterinya untuk mengirim surat terlebih dahulu sebelum berperang, Sultan Siapudin tetap memilih menyerang secara langsung. Peperangan besar pun terjadi dan suasana panggung berubah menjadi menegangkan dengan lampu merah berkedap-kedip. Abdul Muluk turun langsung ke medan perang setelah berpamitan kepada Rahma dan Siti Rafiah yang saat itu sedang hamil.
Dalam peperangan tersebut Abdul Muluk mengalami kekalahan dan terluka parah setelah Sultan Siapudin berhasil menusukkan kris ke lehernya hingga ia tidak sadarkan diri. Mendengar keadaan Abdul Muluk yang kritis, Rahma dan Siti Rafiah merasa sangat sedih. Sultan Siapudin kemudian mencoba merayu Rahma untuk menjadi istrinya, tetapi Rahma menolak dengan tegas dan lebih memilih dipenjara daripada menggantikan Abdul Muluk dengan Sultan Siapudin.
Di sisi lain, Siti Rafiah yang sedang terluka melarikan diri ke hutan sambil menahan kesedihan dan penderitaan. Adegan tersebut diiringi Bacaan Surat Al-Mulk yang membuat suasana terasa sangat haru. Dalam pelariannya, Siti Rafiah kemudian menyamar menjadi seorang laki-laki demi melindungi dirinya sekaligus membalas dendam kepada Sultan Siapudin. Penyamaran itu menjadi salah satu bagian paling menarik dalam pementasan karena menunjukkan keberanian, kecerdasan, dan keteguhan hati Siti Rafiah sebagai seorang perempuan.
Siti Rafiah menjalani kehidupan baru dan berhasil mendapatkan kepercayaan banyak orang. Ia bahkan menikah dengan Siti Rahayu. Dalam penyamaran tersebut, Siti Rafiah kembali bertemu dengan Abdul Muluk dan Rahma yang tidak mengenalinya. Pada adegan itu Siti Rafiah diam-diam menguji kesetiaan Abdul Muluk dengan bertanya apakah ia bersedia menikah lagi jika ada perempuan lain yang lebih baik. Abdul Muluk menjawab bahwa kasih sayangnya kepada Siti Rafiah tidak pernah berubah walaupun ia mengira istrinya telah meninggal dunia.
Sementara itu, Abdul Gani yang merupakan anak Abdul Muluk dan Siti Rafiah diasuh oleh pasangan Sherk di hutan. Ketika mulai beranjak besar, Abdul Gani berusaha mencari kedua orang tuanya. Dalam perjalanannya ia mengalami berbagai kesulitan, bahkan sempat dituduh mencuri oleh seorang perempuan di perjalanan. Abdul Gani akhirnya diselamatkan oleh seorang tukang gandum yang kemudian membawanya bertemu dengan raja negeri Bahram yang ternyata merupakan kakeknya sendiri.
Pada bagian akhir cerita, identitas Siti Rafiah yang menyamar akhirnya terbongkar dan Abdul Muluk menyadari bahwa sosok tersebut sebenarnya adalah istrinya. Pertemuan kembali Abdul Muluk, Siti Rafiah, dan Abdul Gani menjadi penutup yang sangat emosional dan mengharukan. Konflik panjang yang dipenuhi dendam, peperangan, dan penderitaan akhirnya berakhir dengan kebahagiaan serta persatuan keluarga.
Tata panggung dirancang sederhana tetapi kreatif dan mendukung suasana kerajaan Melayu. Pada bagian belakang panggung terdapat gapura besar berwarna putih yang dapat berubah warna karena sorotan lampu cahaya dari belakangnya. Selain itu, terdapat layar latar putih yang menampilkan gambar sesuai lokasi adegan, seperti kerajaan, lautan, gurun pasir, hutan, pasar serta kondisi saat peperangan dan terdapat beberapa kotak kayu yang digunakan sebagai properti tambahan.
Tata cahaya sangat membantu memperkuat emosi cerita, seperti warna hijau dan kuning yang melambangkan keharmonisan, warna biru yang menggambarkan pelayaran di lautan, warna merah saat konflik dan peperangan, serta lampu merah berkedap-kedip yang mempertegas suasana tegang ketika Abdul Muluk terluka dalam perang bersama Sultan Siapudin.
Tata suara dan musik memainkan peran penting dalam membangun suasana pertunjukan. Lagu-lagu Melayu selalu dimainkan pada setiap pergantian adegan sehingga nuansa tradisional tetap terasa sepanjang pementasan. Selain itu, terdapat pula bunyi gendang yang memperkuat suasana. Selain itu, artikulasi para pemain terdengar jelas sehingga penonton dapat mendengar dan paham dengan alur cerita.
Kostum dan tata rias para pemain sangat mendukung karakter dan latar cerita kerajaan Melayu. Para tokoh kerajaan mengenakan pakaian Melayu lengkap dengan aksesoris emas, mahkota, dan kalung, sedangkan rakyat biasa dan pedagang menggunakan pakaian Melayu dengan sandal sederhana. Tata rias juga membantu memperjelas karakter tokoh, seperti kumis dan janggut pada Sultan Abdul Hamidsyah, riasan cantik pada permaisuri, serta penampilan menteri tua Sultan Siapudin yang dibuat bungkuk dan tampak berusia lanjut.
Pementasan ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bentuk pelestarian budaya Melayu Jambi melalui seni pertunjukan tradisional. Penyutradaraan yang menggunakan gaya realisme tradisional berhasil membuat cerita terasa hidup dan emosional. Kehadiran syair, pantun, musik Melayu, tarian, serta penggunaan bahasa khas Melayu menjadi ciri utama yang membuat pertunjukan ini memiliki identitas budaya yang kuat.
Amanat yang dapat diambil dari pementasan ini adalah bahwa dendam hanya akan membawa penderitaan dan kehancuran, sedangkan kesetiaan, keberanian, dan kasih sayang keluarga mampu menyatukan kembali hubungan yang telah hancur. Selain itu, pementasan ini juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan dan keberanian yang besar, seperti yang ditunjukkan oleh tokoh Siti Rafiah dalam memperjuangkan keluarganya.
Secara keseluruhan, Pementasan Rekonstruksi Teater Abdul Muluk berhasil menyampaikan pesan moral dan budaya dengan sangat baik. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur penonton melalui cerita kerajaan yang penuh konflik dan emosi, tetapi juga memperkenalkan kembali warisan teater tradisional Melayu kepada masyarakat modern. Melalui pementasan ini, penonton diajak untuk memahami pentingnya menjaga budaya daerah sekaligus menghargai nilai kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian dalam kehidupan.
Demikianlah pementasan Rekonstruksi Teater Abdul Muluk karya Oky Akbar yang dipentaskan oleh sejumlah aktor dan seniman lokal Jambi di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi. Dengan tata panggung sederhana namun penuh makna, pertunjukan ini berhasil menghadirkan suasana kerajaan Melayu yang hidup dan meninggalkan kesan mendalam bagi penonton tentang pentingnya melestarikan budaya tradisional daerah.

