Membaca Kembali Abdul Muluk Melalui Pementasan Re:TAM
Pementasan teater yang di gelar oleh TeaterAirJambi yang di adakan pada Jumat, 22 Mei 2026 di Taman Budaya Jambi yang di mulai pukul 14.00. Mementaskan rekonstruksi Teater Abdul Muluk yang disutradarai oleh Oky Akbar yang berdurasi ± 2 jam.
Cerita ini mengisahkan seorang pangeran mahkota bernama Sultan Abdul Muluk yang diangkat menjadi raja oleh ayahnya untuk memimpin Negeri Barbari. Sebelum pengangkatan tersebut, ayahnya telah menjodohkan Abdul Muluk dengan sahabat masa kecilnya, yaitu Siti Rahma. Setelah resmi menjadi raja, Sultan Abdul Muluk memutuskan untuk berkeliling ke berbagai negeri untuk memperluas pengalaman dan hubungan kerajaannya.
Dalam perjalanannya, Sultan Abdul Muluk tiba di sebuah negeri dan bertemu dengan putri sultan setempat yang bernama Siti Rafi’ah. Kecantikan dan kelembutan Siti Rafi’ah membuat Sultan Abdul Muluk jatuh hati. Akhirnya mereka menikah, lalu Sultan Abdul Muluk membawa Siti Rafi’ah kembali ke Negeri Barbari. Kedatangan Siti Rafi’ah disambut baik oleh rakyat maupun Siti Rahma sehingga kehidupan kerajaan berjalan damai dan harmonis. Tidak lama kemudian, Siti Rafi’ah mengandung anak Sultan Abdul Muluk.
Kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama karena datang musuh yang menyerang Negeri Barbari. Sultan Abdul Muluk turun langsung ke medan perang untuk mempertahankan kerajaannya. Namun, dalam peperangan itu Sultan Abdul Muluk mengalami kekalahan sehingga musuh berhasil menguasai Negeri Barbari. Setelah menguasai kerajaan, musuh berniat meminang seluruh istri Sultan Abdul Muluk, termasuk Siti Rafi’ah. Akan tetapi, Siti Rafi’ah menolak dan memilih melarikan diri ke hutan. Sebelum pergi, ia memalsukan kabar kematiannya agar musuhtidak mencarinya.
Di dalam hutan, Siti Rafi’ah bertemu dengan seorang kakek dan nenek yang kemudian menolong dan merawatnya hingga melahirkan anak Sultan Abdul Muluk. Setelah melahirkan, Siti Rafi’ah bertekad membalaskan dendam atas kehancuran suaminya dan merebut kembali Negeri Barbari. Ia kemudian menyamar sebagai seorang prajurit dan menitipkan anaknya kepada kakek dan nenek tersebut. Dengan penyamarannya, Siti Rafi’ah bergabung dengan pasukan pemberontak dan dikenal sebagai prajurit yang kuat, cerdas, dan disegani.
Ketika waktu yang tepat tiba, Siti Rafi’ah memimpin perlawanan terhadap musuh yang telah merebut Negeri Barbari. Berkat keberanian dan kecerdasannya, ia berhasil mengalahkan musuh, membalas dendam atas kekalahan Sultan Abdul Muluk, dan merebut kembali kerajaan Barbari. Setelah kemenangan itu, Siti Rafi’ah memimpin kembali Negeri Barbari untuk sementara waktu sambil membesarkan anaknya. Kemudian, anak Sultan Abdul Muluk dipersiapkan sebagai penerus tahta kerajaan di masa depan. Dengan kembalinya kedamaian di Negeri Barbari, berakhirlah kisah Sultan Abdul Muluk.
Penyutradaraan dalam pementasanteater Sultan Abdul Muluk sudah berjalan dengan baik karena alur cerita dapat disampaikan secara runtut dan mudah dipahami penonton. Sutradara mampu mengatur perpindahan adegan perang, kerajaan, hingga suasana hutan dengan cukup jelas. Selain itu, penggunaan layar tembak membantu memperjelas latar tempat dan alur cerita sehingga penonton lebih mudah mengikuti jalannya pertunjukan.
Akting para pemain terlihat cukup baik dan mendalami karakter masing-masing. Tokoh Sultan Abdul Muluk diperankan sebagai sosok pemimpin yang berani dan bertanggung jawab, sedangkan Siti Rafi’ah digambarkan sebagai perempuan setia, kuat, dan berani berjuang demi keluarganya. Ekspresi, dialog, dan gerakan para pemain mampu membangun suasana cerita sehingga penonton dapat merasakan emosi yang ditampilkan.
Tata cahaya digunakan untuk memperkuat suasana dalam setiap adegan. Cahaya redup digunakan saat adegan sedih dan konflik, sedangkan cahaya terang digunakan pada adegan kerajaan dan kemenangan. Pergantian cahaya juga membantu penonton memahami perubahan suasana dantempat dalam cerita.
Tata rias dan kostum menyesuaikan karakter kerajaan Melayu yang ditampilkan dalam cerita. Kostum Sultan Abdul Muluk terlihat megah dan menunjukkan status kerajaan. Sementara itu, kostum Siti Rafi’ah berubah menyesuaikan alur cerita, mulai dari pakaian kerajaan hingga penyamarannya sebagai prajurit.
Tata suara dalam pementasan cukup jelas sehingga dialog antar pemain dapat didengar dengan baik oleh penonton. Musik pengiring juga membantu membangun suasana, terutama pada adegan perang, kesedihan, dan kemenangan. Efek suara digunakan untuk memperkuat ketegangan dalam cerita.
Tata panggung dibuat sederhana tetapi mendukung jalannyacerita. Dalam pementasan ini digunakan layar tembak sebagai latar visual untuk membantu memperjelas alur cerita dan pergantian tempat. Penggunaan layar tembak memudahkan penonton memahami suasana kerajaan, hutan, maupun medan perangtanpa perlu banyak properti panggung.
Konflik utama dalam cerita terjadi ketika Negeri Barbari diserang musuh hingga Sultan Abdul Muluk kalah dalam peperangan dan kerajaannya direbut. Konflik semakin berkembang saat Siti Rafi’ah harus melarikan diri dan berjuang untuk merebut kembali kerajaan.
Tokoh utama dalam cerita ini adalah Sultan Abdul Muluk dan Siti Rafi’ah. Sultan Abdul Muluk digambarkan sebagai raja yang berani, sedangkan Siti Rafi’ah digambarkan sebagai perempuanyang setia, kuat, dan pantang menyerah.
Pementasan berlangsung dengan alur yang runtut mulai dari pengangkatan Sultan Abdul Muluk menjadi raja, pernikahannya dengan Siti Rafi’ah, peperangan, hingga perjuangan Siti Rafi’ah merebut kembali Negeri Barbari.
Latar waktu dalam cerita menggambarkan kehidupan kerajaan pada masa lampau. Suasana yang ditampilkan berubah-ubah, mulai dari suasana bahagia saat pernikahan, tegang saat peperangan, sedih ketika kerajaan jatuh, hingga suasana semangat dan haru saat kemenangan kembali di raih.
Tokoh utama menggambarkan pengalaman perjuangan, kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian dalam menghadapi masalah. Siti Rafi’ah terutama menunjukkan sikap pantang menyerah demi keluarga dan kerajaannya.
Suasana batin para tokoh ditampilkan melalui ekspresi wajah, intonasi dialog, gerakan tubuh, serta musik pengiring. Adegan sedih dan marah diperlihatkan melalui nada bicara dan ekspresi pemain yang kuat.
Makna dan pesan moral dalam cerita ini adalah pentingnya kesetiaan, keberanian, dan perjuangan dalam menghadapi cobaan hidup. Selain itu, cerita ini juga mengajarkan bahwa perempuan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk berjuang demi kebenaran dan keadilan.

