Puisi-Puisi Windy Sherin Faraditha
Windy Sherin Faraditha adalah seorang freelancer lulusan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rajawali, Kota Jambi. Selain aktif di dunia lepas, ia adalah seorang pembaca yang sesekali menulis dan memublikasikan karya-karyanya di berbagai media daring. Ia dapat disapa melalui akun Instagram @sherinfaraa.
Muatan Orang Asing
Hanya sedikit dari kita memahami dan memaknai
sampah-sampah yang ada di dalam diri seseorang
atau kapal-kapal kecil yang berlayar di atas kepalanya.
Mereka melintasi batas mata,
membawa rongsokan percakapan lama yang mengendap,
pecahan keputusan yang membusuk di sudut ingatan,
namun tetap dirawat seolah itu peninggalan berharga.
Sementara di langit-langit tempurung,
nakhoda-nakhoda kerdil sibuk mengikat jangkar pada kecemasan.
Kapal kayu itu ringkih, layarnya robek oleh asumsi,
tetapi terus melaju penuh kekerasan kepala,
mencari pelabuhan yang barangkali sudah runtuh sejak lama.
Kita hanya melihat orang-orang berjalan,
tanpa pernah tahu bau hangus dari sisa pembakaran di dadanya,
atau ke mana armada kecil di kepalanya akan karam.
(Jambi, 2026)
–
Singgasana dari Reruntuhan
Kau susun batu bata dari harga diri mereka yang kau patahkan,
Kau rekatkan dengan tawa ego, di atas panggung yang kau paksakan.
Berdiri tegak di atas pundak-pundak yang sengaja kau buat membungkuk,
Merasa paling tinggi, saat melihat kepala orang lain menunduk.
Kau petik cacat mereka, kau jadikan pupuk bagi kuasamu,
Seolah redupnya lampu mereka akan menerangi jalanmu.
Setiap kata tajam yang kau lempar untuk merubuhkan menara sesama,
Hanya trik murahan agar sinarmu terlihat paling utama.
Namun lihatlah ke bawah, ke dasar pijakan yang kau banggakan,
Kau tak sedang terbang tinggi, kau hanya berdiri di atas tumpukan.
Sebuah singgasana rapuh yang lahir dari rasa takut yang kau sembunyikan,
Bahwa tanpa menjatuhkan mereka, kau sebenarnya tak punya ketinggian.
Sebab emas tak butuh lumpur untuk membuktikan kilaunya,
Dan langit tak perlu memeras bumi untuk menunjukkan luasnya.
(Jambi, 2026)
–
Berbagi Selaras
Kau telah belajar menjinakkan badai di balik senyuman,
Menjadi tiang penopang saat sekeliling kehilangan pegangan.
Dunia memintamu tegak, kukuh bagai dinding batu yang perkasa,
Hingga kau lupa bagaimana rasanya jeda.
Namun, pundakmu bukan tempat bagi seluruh isi bumi,
Dan jemarimu tak harus mengepal semua peluh ini.
Menjadi kuat bukan berarti mengunci rapat pintu ruang rasa,
Atau membiarkan semua letih mengendap di dalam dada.
Letakkan sejenak sisa perjalanan yang melelahkan itu,
Ulurkan talinya pada tangan yang bersedia membantumu.
Sebab sesama manusia diciptakan untuk saling berpangku,
Menjadi tempat bersandar saat langkahmu terasa kaku.
Kau tetaplah pelindung yang berani dan tangguh,
Namun tak ada salahnya membagi berat agar tak runtuh.
Di tangan yang tepat, menyerahkan sebagian beban tak membuatmu kalah,
Ia hanya memberimu napas untuk kembali melangkah.
(Jambi, 2026)

