Puisi-Puisi M. Febriansyah
M. Febriansyah, lahir pada 28 Februari 2004 di kota Cirebon provinsi Jawa Barat. Ia seorang mahasiswa prodi Tasawuf dan Psikoterapi di Univesitas Muhammadiyah Cirebon. Dan menyantri di pondok Buntet Pesantren Cirebon. Beberapa puisinya sudah ada yang terpilih dan dimuat di sayembara buku-buku antologi puisi dan tersebar di media sastra online Indonesia.
NAPAS MALAM
Dari luar jendela
Napas malam menghembuskan tubuhnya
Merasuk dari rongga pintu
Menghempaskan debu-debu di bingkai foto itu
Semakin dekat kudengar lenguh di dadanya
— Ia mulai mendekap tubuhku
“Tubuhmu kacau. Tubuhmu tak kunjung kemarau.”
Ia pun rambatkan dekapannya pada jemariku yang kering
“Tanganmu peluh. Tanganmu tak kunjung menyentuh.”
Kemudian kedua mataku terpelanting di dadanya
yang masih melingkar-lingkar di tubuhku
“Matamu telaga yang haus.
Matamu gunung berapi yang tak kunjung meletus.”
Ia berjinjit mengecup pusaran di kepalaku
—menyeka satu-persatu yang telah mendidih di dadanya
“Tak ada yang paham perihal kehilangan di Negeri ini.
Bahkan yang ada di rambutmu sendiri.”
Cirebon, 2025
DI ASTINAPURA
seusai kau bersenang-senang bermain dadu
dan kaulucuti gaunnya dengan penuh berahimu
di beranda—
kulihat awan subam berderai-derai
di tubuhnya yang telanjang itu
“Tenang saja lagi pula Drupadi permaisuri juga, bukankah
ia mengenakan gaun di tubuhnya?”
airmatanya tak putus-putus menghilir di payudara
menerjang ladang, hewan-hewan,
dinding-dinding tempat pemuda menorehkan cita-cita
dan kulihat sekumpul bayi melayang-layang bagai dedaunan tua
yang tergesa-gesa menuju kemarau di matamu
Cirebon, 2026
WAJAH KOTA
: Pasca Tragedi 12 Mei 1998
Rembulan di pagi hari
Sudah bersiap mengahantam pipi kota
Merah jambu di pipinya akan tiba meletup-letup
Di bawah awan ke biru-biruan jingga
Mungkin
Kiamat kecil akan menimpa wajahnya
Dari bulu mata tsunami datang menjelma manusia
Yang akan memuntahkan keringatnya
Cirebon, 2025
BAHASA MAYAT
Tuhan
Saya sudah berpulang
Pada genggamanmu
Yang tak kenal kusam
Yang entah oleh siapa
Tubuhku disajikan kepada engkau
Dengan tubuh yang telanjang
Cirebon, 2025
BURONAN III
Ditangkap,
diajarkan bicara
agar mulut tak bersuara
Dikandang,
diberi makan
agar tak mati dipelihara
Diasingkan,
diasingkan,
diasingkan,
belum tentu
juga jera
Cirebon, 2025

