Puisi-Puisi Indri Dwi Esterina Mei Lani Ginting.
Indri Dwi Esterina Mei Lani Ginting, yang akrab dipanggil Indri, lahir di Bandung pada 22 Mei 2006 dan berasal dari Berastagi, Sumatra Utara. Saat ini ia tinggal di Jambi dan sedang menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Jambi angkatan 2024. Ia tengah mendalami dunia kepenulisan, khususnya puisi dan cerpen, dan karya ini merupakan salah satu tulisannya yang diajukan untuk publikasi. Email: esterinaindri@gmail.com No. HP: 082287465203
Rajutan Rindu
Sejak tinggalkan rumah pertama kali,
Tanpa sadar itu terakhir tinggal lama.
Dari penghuni tetap jadi tamu mampir,
Di rumah sendiri yang sekarang sunyi.
Kurajut benang hidup jauh dari orangtua,
Tak bawa apa-apa, tapi berharap ada motifnya.
Tapi jarumnya suka menggores pikiran,
Dan hati yang kadang ikut terasa.
Jauh dari rumah mengajarkan arti rindu,
Juga cara berjuang setiap hari.
Anak rantau kuat, biasa melangkah sendiri,
Bawa doa dan harap ortu di hati.
Ujung Kosan yang Sepi
Di kamar kosan yang dindingnya bernapas peluh, aku sendirian, memeluk dompet tipis seperti sahabat setia yang tak pernah puas. Uang pas-pasan, terbelah dua: sepiring nasi kuning untuk perut yang meronta, dan tinta hitam untuk cetak revisi yang tak pernah usai. Dua bulan lagi, jarum kalender menusuk dada, wisuda harus tahun ini, kata mereka, tuntutan yang menggigit seperti angin musim kemarau di Jambi. Kampung berbisik, omongan mengalir deras bagai sungai Batanghari saat banjir: “Kenapa jarang pulang? Malu ya?” Aku tak pulang, bukan karena lari, tapi karena di sini, di antara tumpukan buku dan mimpi retak, aku menyusun jembatan dari kertas ke gelar.
Keheningan kosan merayap pelan seperti kabut pagi yang setia menyelimuti, kipas tua berputar lesu bagai napas lama yang tak pernah lelah, hembusannya menyapu layar laptop agar tetap lancar mengerjakan revisi yang menumpuk. Di relung malam ini, harapan mengalir sederhana bagai air sungai kecil: pikiran tetap tenang bagai daun terapung di permukaan danau, istirahat malam yang nyenyak dan penuh, dikelilingi orang-orang baik bagai angin sepoi yang mendorong layar maju. semua demi memperkuat jembatan kertas dari mimpi retak ini, membawaku menyeberang omongan kampung menuju wisuda yang hangat, siap pulang dengan hati penuh.
Takut
Ketika malam sudah datang
dinginnya juga ikut merasuk
malam yang sunyi
Suasana pun amat sepi
Ketakutan itu muncul lagi
menghantui diri ini
Takut akan hari esok apa yg akan terjadi
Takut akan masa depar talk spt yg di harapkan.
Walau malam begitu sunyi
tapi rasa takut itu tak pernah berhenti.
Manisnya Nempel banget
Manisnya kayak permen karet di sepatu,
Gak bisa dilupain, nempel terus!
Tiap langkah ingat, senyum sendiri,
Cinta ini lucu, tapi bikin ketagihan abis.

