Puisi-Puisi Erni Rahmawati
Erni Rahmawati, lahir di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Saat ini aktif berkarya sebagai content writer di beberapa media daring. Di sela kesibukannya mengolah kata untuk konten digital, ia juga aktif menulis puisi dan karya sastra lainnya sebagai bentuk refleksi diri. Beberapa karyanya telah dipublikasikan di berbagai platform media. Instagram @ernirahmaw_
Membasuh Bayang-bayang di Bak Mandi
Di rumah ini, aku adalah vas bunga yang dipaksa tegak,
meski air di dalamnya sudah lama berbau lumut dan mati.
Belenggu itu tidak melingkar di pergelangan kaki,
ia tumbuh di lidahku—seperti sariawan yang perih setiap kali
aku mencoba mengeja kata pergi.
Dapur tempat aku menumis amarah menjadi aroma masakan yang wangi,
agar orang-orang tak tahu ada yang sedang terbakar di dadaku.
Jendela menjadi lubang kecil yang hanya memberiku izin untuk mencuri sedikit warna langit, sebelum gorden ditarik menutup kembali.
Sepatu yang ujungnya selalu menghadap ke dalam rumah, seolah jalan raya adalah dongeng yang terlalu berbahaya untuk dibaca.
Aku melihat diriku dalam pantulan sendok perak,
wajahku melengkung, aneh, dan penuh distorsi.
Ada suara-suara yang menjahit bibirku dengan benang takdir,
mengatakan bahwa bakti adalah membiarkan diri perlahan memudar
menjadi bagian dari wallpaper dinding yang kusam.
“Apakah ada pintu yang tak punya kunci?”
tanyaku pada debu yang menari di bawah cahaya lampu temaram.
Debu itu tak menjawab, ia hanya jatuh ke lantai,
setia pada gravitasi, seperti aku yang setia pada rantai yang tak terlihat ini.
Aku ingin berlari, tapi kakiku sudah menjadi akar.
Aku ingin berteriak, tapi suaraku sudah menjadi rayap.
Di antara tinggal dan menghilang,
aku adalah jeda yang dipaksa abadi.
2026
Lemariku Mendadak Luang
Di gedung ini, lampu kristal berpijar seperti ribuan mata saksi,
tapi aku hanya melihat sebuah ayunan kosong di halaman belakang rumah kita.
Hari ini, aku menyerahkan tanganmu pada seorang lelaki
yang baru kemarin sore belajar cara menjaga api di dadamu,
sementara aku, sudah sejak tangis pertamamu, menjadi pemadam bagi setiap gelisahmu.
Di pelaminan, kau adalah angsa yang siap terbang,
sementara aku adalah dahan pohon yang mendadak merasa ringkih ditiup angin.
Di saku jas aku menyembunyikan sapu tangan yang basah, bukan oleh sedih,
tapi oleh kenangan tentang caramu menggenggam jempolku saat belajar berjalan.
Di rumah nanti akan ada satu piring yang tak lagi perlu dicuci, dan sebuah pintu kamar yang akan lebih sering tertutup rapat.
Aku melihatmu berjalan menjauh, mengikuti langkah yang bukan langkahku.
Ada semacam patah yang tak berbunyi, seperti retak pada fondasi rumah
yang tertutup karpet mahal. Aku senang kau menemukan dermaga,
tapi aku juga patah, sebab aku menyadari bahwa tugasku sebagai kompas
telah resmi dipensiunkan oleh waktu.
“Jaga dia,” bisikku pada lelaki itu,
tapi sebenarnya aku sedang bicara pada diriku sendiri;
memohon agar aku cukup tabah melihat kamarmu perlahan-lahan
hanya akan berisi debu dan sisa aroma masa kecil yang asing.
Kini kau bukan lagi bait yang bisa kutulis sesukaku.
Kau sudah menjadi buku sendiri,
dan aku hanyalah pembaca yang duduk di baris paling belakang,
bertepuk tangan dengan hati yang sedikit koyak di bagian tepi.
2026
Membaca Alamat yang Kehilangan Bunyi
Aku tiba di kota ini dengan koper yang lebih berat oleh doa ibu
daripada helai pakaian. Di peron yang bising, aku menyadari
bahwa merantau adalah cara paling sunyi untuk menghukum diri sendiri;
menukar bantal yang akrab dengan aroma detergen di kamar kos
yang dindingnya menyimpan rahasia penghuni-penghuni terdahulu.
Meja kayu tempat aku menyusun rencana-rencana yang sering kali layu sebelum sarapan.
Kaca jendela yang memantulkan wajah asing,
wajahku sendiri yang mulai kehilangan rona tanah kelahiran.
Telepon genggam satu-satunya jembatan tipis tempat suara ibu menyeberang, membawa bau masakan dapur yang tak bisa kunikmati lewat layar.
Di sini, hujan tidak membawa aroma tanah basah yang kukenal.
Ia hanya membawa genangan yang memantulkan lampu-lampu reklame,
warna-warni yang indah namun tak punya pelukan.
Aku belajar mengecilkan suara radio, agar sunyi tak terlalu tersinggung,
dan belajar bicara pada dinding-dinding yang hanya menjawab dengan gema.
“Kapan kau pulang?” tanya sebuah pesan singkat yang tak berani kubalas.
Sebab pulang bukan lagi soal menempuh jarak di peta,
melainkan soal mencari kembali potongan diriku yang tercecer
di sela-sela ubin rumah lama yang kini mungkin sudah berdebu.
Merantau adalah memelihara kerinduan seperti memelihara tanaman plastik;
ia tetap hijau di sudut ruang, tapi tak pernah memberi oksigen.
Kita hanya berjalan, menjauhi asal, untuk menyadari
bahwa bayang-bayang kita selalu tertinggal di pintu rumah yang lama.
2026

