In This Economy: Kalau Minumnya Sudah elit Makanannya yang Harus Sedikit Sulit
Masita Fitri Amalia, perempuan yang menyukai warna biru karena menenangkan, dan bunga teratai karena tahu cara bertahan. Sedang berusaha menaikkan level humor yang masih rendah, tetapi untungnya rasa penasaran selalu lebih tinggi. Sesekali percaya bahwa konsep ekonomi terbaik justru lahir dari pengalaman sehari-hari
Ada satu teori ekonomi yang rasanya belum pernah ditemukan di buku kuliah mana pun. Teori ini tidak lahir dari pemikiran Adam Smith, John Maynard Keynes, ataupun Gregory Mankiw. Teori ini justru lahir dari lima orang yang berdiri di depan kasir sambil diam-diam menghitung sisa saldo rekening. Bunyinya sederhana: kalau minumannya sudah mahal, berarti makanannya harus murah.
Terdengar seperti candaan, tetapi semakin dipikirkan, semakin terasa masuk akal. Setidaknya begitulah cara banyak mahasiswa bertahan di tengah harga-harga yang terus bergerak naik, sementara isi dompet tidak selalu ikut bertambah. Pada akhirnya, setiap keputusan membeli sesuatu selalu dibarengi dengan keputusan untuk mengurangi sesuatu yang lain. Pengalaman itu baru saja terjadi. Awalnya tidak ada yang aneh. Tujuannya hanya ingin mencoba minuman di Pappu. Sesekali menikmati minuman yang sedang ramai dibicarakan rasanya bukan keputusan yang berlebihan. Setelah melewati hari-hari yang dipenuhi tugas kuliah, dan presentasi, memberi hadiah kecil kepada diri sendiri terasa cukup pantas, Self-reward kalau istilah Gen-Z. Minuman pun dipesan. Gelasnya menarik, rasanya enak, dan tentu saja tidak lupa diabadikan lewat kamera sebelum diminum. Bukankah memang begitu kebiasaan zaman sekarang? Kadang kamera mencicipi lebih dulu daripada pemiliknya.
Namun persoalan sebenarnya baru dimulai setelah minuman sudah berada di tangan. “Lalu makan apa?” Pertanyaan sederhana itu mendadak berubah menjadi rapat kecil tentang kondisi keuangan. Keinginan awal sebenarnya cukup ambisius, seperti ingin ketempat viral lainnya. Sayangnya, angka yang baru saja berpindah dari rekening menuju mesin kasir membuat semua pilihan itu terlihat sedikit terlalu optimis. Akhirnya keputusan diambil, “Siomay”. Tidak ada perdebatan panjang, siomay terasa seperti jawaban paling masuk akal bagi dompet yang baru saja mengorbankan sebagian isinya demi segelas minuman.
Lucunya, keputusan itu sama sekali tidak terasa menyedihkan. Justru sepanjang perjalanan, yang muncul adalah tawa. Minumannya terlihat premium, sedangkan makan siangnya begitu sederhana. Kontras itu terasa lucu. Seolah-olah ada keseimbangan tidak tertulis yang memang harus dijaga. Kalau satu pos pengeluaran sudah naik, pos yang lain harus rela turun. Tanpa disadari, kebiasaan sederhana seperti itu sebenarnya adalah praktik ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam ilmu ekonomi dikenal istilah trade-off, yaitu kondisi ketika seseorang harus memilih karena sumber daya yang dimiliki terbatas. Tidak semua keinginan dapat dipenuhi sekaligus. Ketika memilih satu hal, selalu ada hal lain yang harus dikorbankan. Hari itu, trade-off hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Memilih Pappu berarti memilih somay. Kalau dipikir-pikir, hampir semua orang pernah mengalami versi lain dari cerita tersebut. Ada yang memilih membeli buku baru sehingga menunda membeli pakaian. Ada yang memilih menabung untuk liburan sehingga mengurangi waktu nongkrong. Ada pula yang memilih membeli sepatu, lalu beberapa hari berikutnya hidup lebih hemat daripada biasanya.
Ekonomi ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk grafik, dan kurva. Kadang ekonomi hadir dalam pertanyaan sederhana sebelum memesan makanan, “Kalau beli ini, nanti sisanya cukup tidak?” Itulah mengapa ekonomi sering kali terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sayangnya, media sosial sering memperlihatkan sisi yang berbeda. Linimasa dipenuhi foto-foto kopi , dessert cantik, restoran estetik. Semua terlihat menyenangkan, semua terlihat mudah.
Yang jarang muncul adalah cerita setelah foto itu diunggah. Cerita ketika seseorang membuka aplikasi mobile banking untuk memastikan saldo masih aman. Cerita ketika harus memilih makan yang lebih sederhana karena anggaran hari itu sudah banyak digunakan. Cerita ketika berkata kepada teman, “Hari ini siomay saja, ya.” Padahal justru cerita-cerita seperti itulah yang paling dekat dengan kenyataan.
Tidak semua orang yang menikmati minuman mahal sedang hidup berlebihan. Bisa jadi itu hanyalah bentuk kecil menghargai diri sendiri setelah melewati minggu yang melelahkan. Dan tidak semua orang yang makan sederhana sedang kekurangan. Bisa jadi itu hanyalah cara menjaga keseimbangan agar pengeluaran tidak kehilangan arah. Pada akhirnya, mengatur uang bukan berarti selalu memilih yang paling murah. Mengatur uang juga bukan berarti selalu menolak kesenangan. Yang terpenting adalah memahami kapan boleh memberi hadiah kepada diri sendiri dan kapan harus menahan keinginan demi kebutuhan yang lebih penting.
Karena sebetulnya, setiap rupiah memiliki tugasnya masing-masing. Ada yang memang ditakdirkan untuk membayar transportasi, ada yang disimpan sebagai tabungan, ada yang digunakan membeli buku, dan ada pula yang dengan sukarela berubah menjadi segelas minuman favorit, sisanya? Ya, menyesuaikan. Mungkin itulah alasan mengapa siomay terasa begitu nikmat hari itu. Bukan semata-mata karena rasanya, melainkan karena ia hadir sebagai penyeimbang. Di saat satu pengeluaran sudah melambung, selalu ada pengeluaran lain yang tetap membumi. Begitulah cara sederhana menjaga keseimbangan.
Dalam ekonomi dikenal istilah skala prioritas. Namun dalam kehidupan sehari-hari, skala prioritas sering kali tidak hadir dalam bentuk daftar yang rapi. Ia muncul dalam keputusan-keputusan kecil yang tampak sepele, tetapi sebenarnya mencerminkan cara seseorang mengelola sumber daya yang dimiliki. Segelas minuman mungkin memang bukan kebutuhan pokok. Namun sesekali, ia bisa menjadi kebutuhan emosional. Begitu pula dengan makan siang yang sederhana. Selama tetap mengenyangkan dan tidak mengganggu kondisi keuangan, pilihan itu bukanlah sesuatu yang keliru.
Barangkali, inilah pelajaran ekonomi yang paling mudah dipahami. Bukan tentang rumus, bukan tentang teori yang, melainkan tentang kemampuan menemukan titik seimbang di antara banyak keinginan. Sebab hidup tidak selalu menuntut untuk memiliki semuanya sekaligus. Kadang cukup memilih satu hal yang benar-benar diinginkan, lalu berdamai dengan pilihan lain yang lebih sederhana. Jadi, jika suatu hari melihat seseorang sedang menikmati minuman premium sambil menyantap seporsi siomay, tidak perlu buru-buru heran. Bisa jadi mereka hanya sedang mempraktikkan teori ekonomi yang lahir dari pengalaman sehari-hari.
Teori yang mungkin tidak akan pernah masuk ke dalam buku kuliah, tetapi hampir semua mahasiswa pernah mengalaminya. Kalau minumannya sudah elit, makanannya memang harus sedikit sulit.

