Nilai Moral dan Kritik Kekuasaan dalam Drama“Goa Mayat”
Aika Nafisah Putri adalah siswi kelas XI di SMA Negeri 2 Kota Jambi. Ia lahir di Jambi pada tanggal 19 Mei 2009 dan saat ini berusia 16 tahun. Aika memiliki hobi membaca dan mendengarkan cerita yang membantunya menambah wawasan dan pengetahuan,dalam bidang akademik Aika pernah meraih prestasi dengan masuk peringkat 10 besar. Ia dikenal sebagai pribadi yang rajin, tekun, dan bertanggung jawab dalam belajar. Dengan semangat yang dimilikinya, Aika terus berusaha mengembangkan diri untuk meraih cita-cita di masa depan.
Drama “Goa Mayat” karya Kahira Augualya Puspa merupakan sebuah pementasan teater yang mengangkat tema sejarah dengan balutan kritik sosial yang kuat dan relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Pementasan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi bagi penonton untuk melihat kembali nilai-nilai perjuangan, kejujuran, serta moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melalui cerita yang sederhana namun sarat makna, drama ini berhasil menyampaikan pesan moral yang mendalam tanpa harus bersifat menggurui.
Pementasan drama “Goa Mayat” disutradarai oleh E. M. Yogiswara dan diperankan oleh Riha, Adinda, Airin, Reyfan, Zakia, Lila, Hasila, Nurul, Salma, Salama, Bima, Nadia, dan Pelangi. Pertunjukan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 30 Januari, pukul 14.00 WIB, bertempat di Taman Budaya Jambi. Pemilihan tempat pementasan ini sangat tepat karena suasana gedung yang mendukung membantu memperkuat nuansa tegang dan mistis yang ingin disampaikan oleh naskah drama.
Latar cerita drama ini berada di sebuah goa angker yang dikenal dengan sebutan Goa Mayat. Goa tersebut digambarkan sebagai tempat penguburan para pahlawan dan korban kekejaman tentara Jepang pada masa penjajahan. Walaupun jasad mereka telah lama tiada, arwah para pahlawan masih digambarkan tetap menjaga goa tersebut. Mereka tidak hanya hadir sebagai makhluk halus, tetapi sebagai simbol perjuangan, nasionalisme, dan akal sehat yang tidak pernah mati.
Suasana cerita dibangun dengan nuansa gelap dan mistis sejak awal pementasan. Tata panggung yang sederhana namun efektif mampu menggambarkan kondisi goa yang sunyi, menyeramkan, dan penuh kenangan sejarah. Pencahayaan yang redup serta tata suara bernuansa horor semakin memperkuat kesan angker, sehingga penonton dapat merasakan ketegangan emosional yang ingin disampaikan oleh para pemain di atas panggung.
Konflik utama dalam drama ini mulai muncul ketika tiga orang pejabat datang ke Goa Mayat dengan membawa sesajen. Kedatangan mereka bukan dilandasi rasa hormat kepada para pahlawan, melainkan didorong oleh kepentingan pribadi yang bersifat duniawi. Melalui dialog-dialog yang tajam dan lugas, penonton dapat melihat dengan jelas sifat serakah, ambisius, dan tidak bermoral yang melekat pada tokoh-tokoh pejabat tersebut.
Para pejabat itu datang dengan harapan mendapatkan kekayaan, kelancaran proyek, serta kenaikan jabatan melalui cara-cara mistis. Mereka percaya bahwa dengan memberikan sesajen, arwah para pahlawan akan membantu memenuhi keinginan mereka. Adegan ini secara tidak langsung menyindir praktik-praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan yang masih sering terjadi di masyarakat, terutama oleh orang-orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan.
Arwah para pahlawan dalam drama ini digambarkan sebagai sosok yang memiliki prinsip kuat dan tidak dapat dibeli oleh kepentingan apa pun. Mereka menolak permintaan para pejabat karena bertentangan dengan nilai perjuangan, kejujuran, dan pengorbanan yang selama ini mereka junjung. Penolakan tersebut menjadi titik penting dalam cerita, karena menegaskan tema utama drama, yaitu kritik terhadap keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Dialog antara arwah pahlawan dan para pejabat disampaikan dengan bahasa yang tegas dan penuh makna. Dialog ini tidak hanya berfungsi sebagai penggerak alur cerita, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral kepada penonton. Melalui percakapan tersebut, penonton diajak untuk berpikir bahwa kekuasaan yang diperoleh dengan cara tidak jujur pada akhirnya hanya akan membawa kehancuran dan rasa malu.
Merasa gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan, salah satu pejabat kemudian memilih mencari jalan lain dengan mendatangi seorang mbah dukun. Tokoh mbah dukun dalam drama ini digambarkan secara unik dan tidak sesuai dengan stereotip dukun pada umumnya. Ia justru tampil sebagai sosok yang sadar moral, bijak, dan mampu melihat kebusukan niat manusia dengan sangat jelas.
Melalui dialog bernada sindiran dan humor satir, mbah dukun menertawakan para pejabat tersebut dan menolak membantu mereka. Ia menyadari bahwa permintaan para pejabat hanya didorong oleh keserakahan dan ambisi pribadi. Adegan ini memberikan sentuhan satir yang kuat sekaligus menyampaikan pesan bahwa bahkan jalan mistis sekalipun tidak akan membenarkan niat yang salah.
Kehadiran tokoh mbah dukun menjadi elemen penting dalam memperkuat amanat cerita. Tokoh ini seolah menjadi suara hati dan akal sehat yang mengingatkan bahwa kekayaan dan kekuasaan yang diperoleh dengan cara curang tidak akan pernah membawa kebahagiaan sejati. Pesan moral disampaikan dengan cara yang ringan, namun tetap mengena dan mudah dipahami oleh penonton.
Keributan yang terjadi di sekitar Goa Mayat kemudian menarik perhatian seorang anak Indigo yang kebetulan melintas. Anak Indigo ini digambarkan sebagai sosok yang peka terhadap energi dan kehadiran makhluk tak kasat mata. Kehadirannya menambah unsur mistis dalam cerita, namun disajikan dengan cara yang tidak berlebihan sehingga tetap terasa wajar dalam alur cerita.
Anak Indigo datang karena mendengar suara gaduh, lalu berhenti sejenak untuk mengamati situasi dan merasakan energi yang tidak biasa di tempat tersebut. Ia berbincang singkat dengan tokoh lain tanpa ikut campur terlalu jauh. Kehadirannya memberi variasi suasana, sekaligus menjadi penghubung antara dunia manusia dan dunia gaib dalam cerita drama ini.
Dari segi tata rias dan kostum, anak Indigo ditampilkan dengan busana sederhana dan gerak tubuh yang natural. Hal ini membuat tokoh tersebut terasa kontras dengan suasana horor Goa Mayat, namun tetap menyatu dengan keseluruhan pementasan. Kontras ini justru membuat adegan menjadi lebih hidup dan tidak monoton.
Menjelang akhir pementasan, para pejabat akhirnya menyadari bahwa semua usaha mereka sia-sia. Mereka tidak mendapatkan kekayaan, jabatan, maupun kekuasaan seperti yang mereka harapkan. Dengan perasaan malu dan kecewa, mereka meninggalkan Goa Mayat dengan tangan kosong, sementara arwah para pahlawan tetap menjaga tempat tersebut dengan penuh kehormatan.
Penutup drama “Goa Mayat” menegaskan pesan moral bahwa keserakahan, korupsi, dan ambisi pribadi tidak akan pernah mengalahkan nilai kejujuran, pengorbanan, dan nasionalisme. Secara keseluruhan, drama ini berhasil memadukan cerita, tokoh, dialog, serta unsur teknis pementasan seperti tata panggung, tata lampu, dan tata suara menjadi satu kesatuan yang kuat dan bermakna. Drama “Goa Mayat” tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pelajaran penting bagi penonton untuk selalu menjunjung nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.


