Goa Mayat, Nafsu Lebih Busuk dari Jasad
Pementasan Goa Mayat ditulis oleh Khaira Aguila Puspa dan disutradarai oleh E.M. Yogiswara. Pementasan ini diperankan oleh Bella Ferliananda, Nadia Anas Tasha, Zakiyah Desriyani A.P., Rihaisyah Syalfina, Pelangi Carissa Putri, Hasila Dinda Permata, Nurul Oktaviani, Lila Dwi Andini, Hayfa Raihana Faras Nayla, Muhammad Reyfan Al-Ghifari, Adinda Khusnul Khotimah, Airin Sakira Maulani, dan Fitria Umu Salamah.
Pertunjukan ini diselenggarakan di Gedung Teater Arena, Taman Budaya Jambi.
Tema utama pementasan Goa Mayat adalah kemanusiaan dan dampak keserakahan manusia. Cerita ini menyoroti bagaimana sifat serakah, kejam, dan tidak bermoral dapat menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan mengorbankan nyawa orang lain. Goa Mayat menjadi simbol penderitaan, ketidakadilan, dan kebrutalan yang lahir dari penyalahgunaan kekuasaan serta hilangnya rasa empati terhadap sesama.
Dikisahkan terdapat beberapa mayat yang dibekukan di dalam sebuah goa sejak zaman penjajahan Jepang. Para pejabat mendatangi goa tersebut dan memohon kepada mayat-mayat agar keinginan mereka dikabulkan, seperti jabatan yang langgeng, kekayaan, dan pengaruh. Namun, ketika permintaan itu tidak dikabulkan, para pejabat justru mengamuk. Para mayat pun menghadapi persoalan tersebut hingga akhirnya mereka pergi.
Cuplikan Dialog:
Dukun: “Hei! Apa yang kalian lakukan!? Sudahi persoalan ini.”
(berkata kepada para pejabat)
Pejabat 2: “Siapa kau?”
Dukun: “Aku dukun. Aku tahu mengapa permintaan kalian tidak dikabulkan.”
Pejabat 3: “Kenapa permintaan kami tidak dikabulkan?”
Dukun: “Karena mereka tak sudi mengurus orang-orang yang berperilaku korupsi, nepotisme, dan kolusi seperti kalian!”
Di luar goa, para pejabat digambarkan sebagai sosok yang berkuasa dan sombong. Namun di dalam goa, martabat mereka terdegradasi. Mereka yang biasanya memerintah, kini harus merangkak dan memohon di hadapan entitas yang sudah mati.
Suasana penuh keserakahan dan keputusasaan menjadi gambaran nafsu belaka. Permintaan para pejabat bukan ditujukan untuk kebaikan, melainkan demi kekuasaan, jabatan, atau menutupi dosa. Hal ini menciptakan suasana yang ironis dan satir. Ketegangan terasa kuat dari interaksi antara para pejabat dan mayat-mayat di dalam goa. Namun, suasana berubah saat hadir sosok anak kecil yang memegang boneka dengan rambut dikepang, yang justru menambah unsur kontras dan daya tarik visual sehingga penonton terpaku.
Pesan moral dalam cerita Goa Mayat menegaskan bahwa korupsi dan keserakahan hanya akan membawa kehancuran, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Keserakahan membuat manusia kehilangan nurani, rela mengorbankan kejujuran, keadilan, bahkan nyawa demi keuntungan pribadi. Korupsi yang lahir dari sifat tamak tidak pernah memberi kebahagiaan sejati, melainkan menjerumuskan pelakunya ke dalam penderitaan, rasa takut, dan penyesalan. Melalui kisah ini, penonton diajak menyadari bahwa kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama jauh lebih bernilai daripada harta yang diperoleh dengan cara yang salah. Pementasan ini juga menyoroti bagaimana nafsu manusia tidak mengenal batas, bahkan hingga bersekutu dengan kekuatan supranatural demi mempertahankan kursi kekuasaan.
Drama ini menggunakan bahasa simbolik dan satir. Goa dan mayat menjadi simbol kehancuran moral, ketamakan, serta kosongnya nilai spiritual para pejabat.
Petunjuk pementasan terasa sangat menarik untuk ditonton karena mengangkat isu politik di Indonesia. Dari pementasan ini, penonton dapat belajar mengambil sikap positif dan menjauhi sifat-sifat negatif dalam praktik politik. Pertunjukan ini menjadi kritik tajam terhadap fenomena politik praktis, di mana pejabat sering kali menghalalkan segala cara, termasuk percaya pada takhayul atau praktik klenik demi mempertahankan posisi mereka.
Akting para pemain sudah cukup baik dan mampu menyampaikan emosi kepada penonton. Adegan-adegan penderitaan korban terasa kuat dan menyentuh. Alur cerita berhasil menggugah emosi penonton karena mengangkat realitas sosial dengan simbol-simbol yang mendalam. Penokohan para pemain terlihat hidup, didukung oleh ekspresi dan dialog yang jelas dalam menyampaikan konflik batin tokoh. Tata panggung dan pencahayaan juga berhasil membangun atmosfer mencekam sesuai dengan tema cerita.
Secara keseluruhan, pementasan Goa Mayat merupakan pertunjukan yang kuat secara pesan dan suasana. Pertunjukan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk berpikir kritis dan merenungkan kembali nilai-nilai kemanusiaan.

