Sepuluh Kisah, Seribu Makna: Monofolk, Persembahan Teater AiR untuk Jambi”
Khairul Ni’mah adalah seorang alumnus Sastra Indonesia yang kini bergiat di dunia pendidikan dan teater. Ia berprofesi sebagai guru sekaligus aktif berkarya bersama Teater AiR, Jambi. Menulis, mengajar, dan berteater menjadi ruang belajar tanpa henti baginya—sekaligus jalan untuk terus bertumbuh dan memberi kebermanfaatan, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda.
Jambi, 11 Oktober 2025
Dua malam di Gedung Teater Arena, Taman Budaya Jambi, berubah menjadi ruang penuh emosi, tawa, dan renungan. Tepuk tangan bergema silih berganti, menyambut setiap akhir monolog dalam rangkaian pertunjukan Monofolk, karya terbaru dari Teater AiR.
Selama dua hari, 10–11 Oktober 2025, teater ini menyajikan sepuluh pementasan monolog yang diadaptasi dari cerita rakyat berbagai kabupaten di Provinsi Jambi. Tak sekadar hiburan, Monofolk menjadi ajang untuk menghidupkan kembali kisah-kisah lama yang nyaris tenggelam di antara buku-buku dan ingatan masyarakat.
Proyek besar ini mendapat dukungan penuh dari Badan Pengawas Kebudayaan Wilayah V, dan menghadirkan kolaborasi 10 penulis, 10 sutradara, serta 10 aktor muda. Mereka menafsirkan ulang cerita rakyat dengan gaya yang segar, jenaka, kadang getir, tapi selalu sarat makna.
10 Cerita, 10 Wajah, 10 Suara
Kesepuluh penulis dari Teater AiR — E.M. Yogiswara, Oky Akbar, Rilect Amigos, Titas Suwanda, Randa Gusmora, Laila Fajrianti, Windy Kaunang, Devi Hanan, Ririn Dwi Anggraini, dan Ike Selviana Prawolo — menulis ulang kisah rakyat Jambi menjadi naskah monolog yang kuat dan puitis. Dari tangan mereka, lahirlah sepuluh pertunjukan dengan formasi lengkap berikut:
- Duako – Aktor Bimo Abimayu, sutradara Regi Winardo
- Anak yang Bodoh – Aktor Meiti Nurhalimah, sutradara Deby Satria
- Nenek Puti – Aktor Lely Rosalina, sutradara Aldi Muheldi
- Puti Unduk – Aktor Niken Aulia Ramadiansyah, sutradara Ridho Ramadhan
- Bujang Bingung – Aktor Aulia Zaky, sutradara Arianza Rafindo
- Datuk Tagak Kudo – Aktor Reffo Argo Bhernando, sutradara Agung Syaputra
- Rajo Mudo – Aktor M. Fauzal Akhli, sutradara Wahyu Cristopan
- Umar Jeje – Aktor Ridho Amanta Rajak, sutradara Gesang Tri Wahyudi
- Suamiku, Kambing – Aktor Nabila Agustina, sutradara Khairul Ni’mah
- Tengkorak Batu – Aktor Astria Angela Putri, sutradara Rani Iswari
“Kami ingin membuktikan bahwa cerita rakyat Jambi belum benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk diceritakan kembali dengan cara baru,” ujar Oky Akbar, Ketua Panitia Monofolk, pada kata sambutan pertunjukan malam kedua.
“Dalam berbagai perlombaan, cerita yang digunakan itu-itu saja. Kami mencoba menyuguhkan sepuluh cerita berbeda dari berbagai kabupaten, agar masyarakat tahu betapa kaya kisah dan nilai yang kita punya.”
Cerita Rakyat, Kritik Sosial, dan Keberanian
Monofolk bukan sekadar menghidupkan tradisi, tetapi juga menyuarakan kembali kritik sosial yang tersirat dalam kisah-kisah rakyat Jambi. Banyak monolog menyinggung isu kekuasaan, Feminisme, budaya patriarki, ketimpangan, dan perjuangan manusia melawan ketidakadilan. Cerita-cerita itu seolah berkata: yang dulu terjadi, masih terus berulang — hanya berganti nama dan bentuk.
Selvita, guru seni budaya SMPN 2 Kota Jambi, mengaku terkesan dengan pertunjukan Suamiku, Kambing.
“Monolog itu menggugah sekali. Tentang perempuan yang berani melawan tatanan yang menindas. Meskipun berasal dari cerita lama, relevansinya dengan kondisi sekarang luar biasa kuat.”
Sementara Ica, mahasiswa Universitas Jambi, mengatakan,
“Saya baru tahu cerita rakyat daerah saya bisa sekeren itu. Pementasannya sederhana, tapi punya kekuatan emosional yang dalam. Rasanya seperti melihat cermin kehidupan.”
Teater Takkan Tergantikan oleh AI
Dalam empat sesi selama dua hari — dua pada Jumat (pagi dan siang), dua lagi pada Sabtu (siang dan malam) — Monofolk sukses membius perhatian publik. Penonton datang dari berbagai latar belakang: pelajar, akademisi, budayawan, hingga masyarakat umum. Setiap kursi penuh, setiap adegan disambut dengan keheningan khidmat atau tawa lepas.
Pada malam penutupan, Oky Akbar menyampaikan pesan yang menjadi sorotan banyak penonton:
“Produksi teater tidak akan tergantikan oleh prompt-prompt AI. Teater akan terus hidup karena di dalamnya ada manusia, ada jiwa, ada rasa.”
Kalimat itu seolah menjadi kesimpulan bagi keseluruhan pertunjukan. Monofolk bukan hanya pentas seni, melainkan pernyataan eksistensi manusia terhadap kemajuan teknologi: bahwa kepekaan, emosi, dan kisah tak bisa direplikasi oleh mesin.
Warisan yang Menyala Kembali
Teater AiR berhasil membuktikan bahwa cerita rakyat bukan sekadar dongeng tidur, tapi juga dokumen perlawanan dan kebijaksanaan lokal. Dari Duako hingga Tengkorak Batu, tiap pementasan menawarkan sudut pandang baru tentang kehidupan, cinta, dan ketabahan manusia.
Monofolk menjadi bukti bahwa budaya tak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu panggung untuk kembali bersuara. Dan di tangan Teater AiR, suara itu menggelegar — lembut tapi menggetarkan, tradisional namun terasa sangat kini.

