Teater AiR Jambi Siap Melaju ke Temu Teater Se-Sumatera di Palembang dengan “Manifesto Dapur Retak”
Teater AiR Jambi akan membawa langkahnya ke panggung Temu Teater Se-Sumatera yang digelar di Taman Budaya Sriwijaya, Palembang. Pada gelaran yang mengusung tema besar “Pangan: Tanah, Air, dan Ingatan” ini, rombongan dari Teater AiR Jambi akan mempersembahkan Manifesto Dapur Retak, karya sekaligus sutradara Windy Kaunang—sebuah pertunjukan yang mengajak kita menengok lagi relasi kita terhadap dapur yang tidak menjadi tempat yang mengandung memori kolektif lagi bagi kehidupan modern sekarang.
Bagi Teater AiR Jambi, perjalanan ke Palembang bukan sekadar keberangkatan fisik, melainkan kelanjutan dari upaya menyambung loka pementasan di Jambi—yang sebelumnya hadir dalam Blasteran Volume Keenam pada 19 September 2025 di Taman Budaya Jambi—dengan percakapan teater yang lebih luas di lingkup Sumatera.
Teater AiR Jambi sudah beberapa kali menampilkan karya yang menyentuh persoalan sosial. Karena itu, pengiriman Manifesto Dapur Retak terasa tepat: sebuah karya yang berangkat dari isu sederhana tentang dapur—yang sekilas tampak remeh—namun justru menyimpan kesadaran besar tentang pangan, ingatan, dan keterasingan di era modern. 
Dalam Manifesto Dapur Retak, dapur tidak hanya hadir sebagai yang memproduksi makanan, tetapi juga sebagai ruang ingatan—sebuah arsip yang menyimpan jejak tradisi dan pengalaman manusia. Windy Kaunang mengolah ‘retak’ pada dapur sebagai metafora, bukan sekadar pecahnya tembok atau hilangnya fungsi ruang, melainkan retaknya hubungan manusia dengan pangan, retaknya tradisi yang dahulu hidup di dapur, serta retaknya aktivitas yang pernah menyatukan keluarga. Retakan itu akhirnya berbicara tentang keterasingan manusia modern yang semakin jauh dari akar ingatannya sendiri.
Tema festival — Pangan: Tanah, Air, dan Ingatan — memberi lahan luas bagi setiap grup untuk membaca ulang pangan dalam perspektif ekologis, kultural, dan historis. Di sini, Manifesto Dapur Retak mengambil posisi dialogis: bukan menggurui, melainkan membuka tanya tentang apa yang terjadi di dapur sekarang, apa yang hilang dari meja makan kita, dan bagaimana ingatan kolektif tentang dapur yang menjadi aktivitas yang begitu penting.
Persiapan menuju temu teater terlihat intens. Teater AiR Jambi memusatkan energi pada dramaturgi ruang dan memperkuat fragmen-fragmen tertentu untuk membentuk simbolis mengenai aktivitas kehidupan dapur di dalam garapan ini. Sutradara Windy Kaunang—yang sebelumnya aktif menggarap beberapa produksi lokal—memimpin proses selama beberapa minggu terakhir, membenahi koreografi nonverbal dan penempatan objek panggung agar pesan tersampaikan tanpa harus “diucapkan” terus-menerus. Ini juga jadi momen bagi aktor muda untuk menajamkan teknik improvisasi yang kerap diperlukan dalam pementasan bertema sosial.
Temu Teater Se-Sumatera III akan berlangsung di Taman Budaya Sriwijaya, Sumatera Selatan, pada 24–25 September 2025. Teater AiR Jambi dijadwalkan tampil pada Rabu, 24 September 2025, pukul 15.00 WIB. Bagi Teater AiR Jambi, langkah ke Temu Teater Se-Sumatera bukan sebagai ajang kompetisi estetika, melainkan ruang untuk berbagi cerita tentang bagaimana pangan membentuk tubuh, ingatan, dan kebudayaan kita. Manifesto Dapur Retak hadir sebagai pengalaman teater yang sederhana namun menggigit; sebuah undangan bagi penonton untuk pulang sambil membuka kembali lembar-lembar memori di dapur rumah masing-masing. Dukungan penonton dari Jambi dan Sumatera akan menjadi napas penting agar karya-karya semacam ini terus hidup, tumbuh, dan diperdebatkan.


