Puisi-puisi Aliya Noor Asiana
Dunia Luar Sekejam itu, Ya?
Dulu aku pikir,
Dunia ini adalah rumah yang hangat
Dimana setiap luka diberi pelukan
Dan setiap tangis dibalas ketenangan
Tapi setelah ku beranjak dewasa
Sedikit demi sedikit aku mulai sadar
Semua terasa bohong
Semua tak seperti yang ku pikirkan
Rupanya,
Dunia luar tak mengenal belah kasih
Ia tak mengenal ap aitu pelukan hangat
Menertawakan Langkah yang goya
Dan menutup mata hati yang tulus
Dunia luar mengajariku
Bahwa tak semua senyum berarti baik
Tidak semua genggam berarti setia
Dan tak semua janji punya niat tuk di tepati
Diluar sana
Banyak orang yang menyembunyikan lukanya dengan senyum
Menyembunyikan sedihnya dengan tawa
Bahkan mengganti hati nuraninya dengan topeng logika
Namun dibalik semua itu,
Aku masih ingin percaya
Bahwa di balik kejamnya dunia ini
Masih ada sedikit cahaya kebaikan
Yang masih berani bertahan
Seperti diriku, yang tak berhenti berharap
Mama, Papa, Ini Arahnya Kemana?
Saat aku kecil
Engkau selalu ada untuk ku andalkan
Selalu menjaga setiap langkahku
Dan mengarahkan apa yang perlu aku lakukan
Dulu, dunia serasa sangat kecil
Hanya sejauh batas apa yang aku bisa lihat
Namun kini aku telah beranjak dewasa
Tapi anehnya, sekarang semua nampak sepi
Dari situ aku mulai belajar banyak hal
Mulai dari yang kuat ternyata juga bisa rapuh
Yang sabar tak selalu mudah
Juga belajar bangkit dari banyaknya hal yang membuatku jatuh
Mama, aku rindu pelukan hangatmu
Saat tangis tak butuh alasan
Papa, aku rindu nasehat bijakmu
Yang aku jadikan tempat untuk bersandar tanpa takut salah
Kini aku berjalan di jalan yang dulu kalian tunjukkan
Tapi Langkahku ini sering goyah
Kadang tak tau arah
Dan pura-pura tau kemana aku harus pulang
Sekarang semua harus ku tentukan sendiri
Mulai menentukan arah dan tujuan sendiri
Doakan aku ya ma, pa
Agar aku senantiasa ada di jalan yang benar
Tuhan, Apakah Engkau Mendengar Doaku?
Malam ini aku berlutut di tepi letih
Mengulang doa yang sama
Mengulang pinta yang dari dulu ku dambakan
Dengan harapan yang tinggi
Aku tidak meminta banyak hal
Aku hanya ingin tau
Apakah engkau mendengar doa-doa yang ku panjatkan
Diantara jutaan doa yang lebih keras dariku
Terkadang,
Tetes demi tetes air mata membasahi pipiku
Satu per satu harapan mulai pupus hilang
Dalam diam, keyakinan itu mulai goyah
Tuhan, Aku rindu jawabanmu
Aku rindu pada tenang yang dulu pernah kau titipkan
Rindu disaat tak ada keraguan yang bersandar dalam diriku
Karena sujud di sepertiga malam ku
Jika ini semua adalah ujian darimu
Ajari aku cara bertahan
Ajari aku untuk bersabar
Apabila ini adalah bagian dari rencanamu
Izinkan aku tetap percaya
Bahwa engkau mendengar doaku
Dan pilihanmulah yang terbaik bagiku
Meski sekarang aku merasa sedang sendiri

