Puisi-Puisi Ahmad Norhudlari
Tangga Masa Depan
Punggung gunung yang jauh dan sunyi
Kabut bersujud di kaki pagi
Berdiri sekolah bersinar, embun-embun menyelimuti
Atap bersahaja, hati merajut impian
Dinding dari kayu, lantai terhampar tanah
Di dalamnya menebar cahaya menyala
Buku-buku lama bersuara lirih
Mengajarkan cita-cita di mata bersahaja
Anak-anak berjalan dari lembah dan lereng
Menyusuri perjalanan berliku
Kaki-kaki mungil membawa semangat membara
Tas punggung membawa waktu harapan
Wajah ibu guru, teduh dan tenang
Menulis huruf-huruf di papan tulis
Papan tulis berdenyut kelembutan menembus perhatian
Menyulam kisah menuju masa depan
Tak ada bunyi lonceng emas, tak ada pendingin udara
Hanya bunyi desiran angin, dipadu nyanyian burung-burung
Mereka menyemai, seperti ilmu padi
Perlahan-lahan menguning hingga panen impian
Sekolah di gunung, nan jauh dari sorotan bangsa
Kau pelita menerangi di kegelapan pengetahuan
Tempat mimpi mulai dibentuk
Dan ilmu menjadi jembatan cahaya.
Menyusuri Gunung
Gunung tinggi menawarkan kesejukan
Air terjun jatuh, doa-doa mengalir deras
Puncak nan jauh membawa aliran kehidupan
Membasuh luka bangsa, hujan pun turun
Bambu-bambu itu, ringan namun keras
Berubah jadi perahu jiwa-jiwa rindu
Meluncur di arus bening, menembus hutan waktu
Menantang sunyi yang terus mengalir
Sungai berkelok, angin menyapa harum tanah basah
Suara burung bergema, tak kenal jenisnya
Dibalik rimbanya hutan, kesyahduan menenangkan jiwa
Mengantarkan langkah kaki, membuka penelusuran desa
Desa kecil, terpencil. mereka tak sepi
Langkah menjalani arus pertumbuhan lembut
Dengan irama keasrian, Anak-anak berlarian di ladang
Nuansa desa menyelimuti kebersamaan
Di beranda kayu nenek menenun kisah
Berbagai kisah mengundang detak jantung
Tentang cinta dipoles kerinduan pohon
Tentang hujan dipoles kabar kesuburan
Betapa damai desa di sana
Gemuruh air bergelora bukan ancaman
Melainkan nyanyian alam membawa ketenangan
Siapa pun singgah, hati terpikat berima alam.
Potret Anak-anak
Gunung jauh dan sunyi
Pundak-pundak waktu berselimut embun
Anak-anak berlarian membawa tawa
Mengejar bayangan sendiri di cahaya pagi
Langit biru bukan layar kaca
Melainkan jadi lukisan awan
Matahari memancarkan sinar lentera
Burung-burung dongeng terbang mencari mangsa
Tawa mereka memecah sunyi, bukan gema kota
Desiran angin bertiup di ruas bambu
Menari di sela ilalang menambah rindu
Menyentuh kupu-kupu, menyemai rasa
Di sana tak kenal gawai
Mereka tau nama-nama binatang liar dan arah angin
Hutan jadi teman sunyi, jauh dari perkotaan
Sungai-sungai bening memecah riang
Di balik mata berbinar dan wajah legam
Tersimpan cahaya kelembutan tak bisa dibeli
Cahaya lahir dari perjuangan ibu
Pelukan kasih ibu dan bapak, membawa penerang bangsa
Mereka bertumbuh bersama alam
Bait-bait tenaga, bait-bait pikiran menembus keterbatasan
Dengan harapan setinggi langit
Dan jiwa-jiwa sebening embun pagi.
Sinyal Tak Menepi
Lereng gunung sunyi, berkabut asap putih
Berselimut doa dan pelita cahaya
Langit indah membentang luas tanpa kabel
Tapi sinyal tak singgah menjenguk kami
Anak-anak memandang layar ponsel dengan senyap
Menanti akses pengetahuan tak kunjung tiba
Akankah terus menunggu hujan di kala kemarau
Atau surat dari luar desa tak pernah dikirimkan
Mendaki bukit demi seberkas internet
Menyusuri jalan setapak, menanjak tinggi
Mencari titik di mana dunia bersuara
Dari kabar jauh menyapa desa terpencil
Sinyal itu mengambang seperti kabut pagi
Datang menyentuh hati, hilang membawa harapan
Meninggalkan jejak kami di kala sunyi
Hanya seberkas cahaya ponsel, namun tak bersuara gemuruh dunia
Di sini teknologi menjadi dongeng
Diceritakan mata berbinar
Tapi tak muncul di kala dibutuhkan
Di antara bukit-bukit dan langit kesabaran
Menanam biji-biji harapan
Terus berjuang menyuarakan kalbu
Sinyal bertumbuh bersama mentari
Desa tak sunyi, dunia terbuka memandang desa kami.
Listrik Sunyi
Malam membawa senyap
Doa-doa berjejeran mengisi angkasa
Terhampar desa kecil penuh cerita
Menyulam detik waktu di cahaya malam
Listrik datang bagai tamu pemalu
Menyapa kehadiran sebentar, lalu pamit tanpa permisi
Lampu tak lagi menyala, menggigil di dinding rumah
Berkali-kali padam, seperti janji melepas tangan
Anak membuka pelajaran, bercahaya remang
Api pelita biasa dan huruf menari bersama bayang
Ibu memasak nasi, menghidupkan tungku
Memanggang ikan, lampu redup, gosong diterima
Angin gunung terus berembus membawa kabar kota
Di sana tak putus cahaya, perkotaan terang
Tapi di bawah langit desa, gelap jadi sahabat
Bulan dan bintang berkelip cahaya semesta
Istirahat bukan berhenti, lelah bukan mundur
Jalan panjang menembus langit cahaya
Menghidupkan penerang listrik
Berjuang membawa tali penerang desa.

