KISAH PEAK DARI SERIES KAMEN RIDER: KAMEN RIDER SABER
Aldiu Maulana, yang akrab disapa Diu, adalah mahasiswa Sastra Indonesia yang tumbuh bersama kisah-kisah heroik dari tontonan masa kecil seperti Ultraman, Power Rangers, dan Kamen Rider. Meski kini ia menontonnya kembali dengan rasa yang berbeda, keseruan dan semangat dari cerita-cerita tersebut tetap melekat, membentuk cara pandangnya terhadap dunia dan kekuatan sebuah kisah.
Kamen Rider Saber merupakan entri ke-31 dalam waralaba panjang panjang Tokusastsu Jepang, sekaligus menjadi seri kedua yang mengudara di era Reiwa pada tahun 2020. Selama puluhan tahun, series Kamen Rider konsisten mengusung tema yang relevan dengan zamannya. Pada era Showa, misalnya, meski ditujukan bagi anak-anak dan remaja di rentang usia 4 hingga 12 tahun, ceritanya masih kerap menyelipkan unsur gore serta atmosfer yang kelam. Memasuki era Heisei, fokus bergeser pada Jepang. Kini, di era Reiwa, narasi kembali mendekat pada dunia anak-anak dengan mengangkat isu kontemporer, seperti kecerdasan buatan (AI) pada series Kamen Rider Zero-One dan hingga komodifikasi mainan.
Keunikan mencolok muncul dalam entri Reiwa kali ini, Kamen Rider Saber. Seri ini mengusung premis yang sangat berani: sebuah upaya untuk menghidupkan kembali masa di mana buku menjadi primadona bagi anak-anak. Melalui narasi yang dibangun, Saber mencoba membawa penonton pulang ke dunia fantasi, sebuah ruang di mana lembaran kertas dan imajinasi masa kecil berkelindan dengan selaras.
TEMA KSATRIA, PEDANG, DAN BUKU
Keajaiban terjadi ketika sang ksatria berpedang memanfaatkan kekuatan Wonder Ride Book, sebuah item transformasi berupa deretan buku yang merangkum berbagai literatur dunia—mulai dari dongeng klasik, novel, komik, hingga kisah pahlawan legendaris. Keunikan konsep ini terletak pada cara esensi cerita di dalam buku-buku tersebut divisualisasikan menjadi kekuatan nyata, yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa penasaran penonton terhadap sumber kisah aslinya.
Berbagai pertanyaan imajinatif pun muncul: bagaimana kisah Tiga Ekor Babi dapat menjadi fondasi kekuatan pertahanan? Bagaimana lampu ajaib dan karpet terbang dialihfungsikan sebagai sarana untuk menolong sesama? Bahkan, terdapat dimensi emosional yang kuat ketika kisah seekor naga yang hidup dalam kesepian—karena kawanannya punah diburu manusia—menjelma menjadi kekuatan yang sarat kesedihan sekaligus tak terkendali saat dipinjam oleh sang ksatria.
Kehadiran audio pembacaan kisah sebelum buku digunakan semakin memperkuat daya tarik fiksi dalam seri ini. Pada akhirnya, Saber menawarkan pendekatan yang menyegarkan dalam perkembangan genre pahlawan super: sebuah tontonan yang tidak hanya menekankan pertempuran, tetapi juga merayakan kekuatan yang lahir dari setiap cerita.
KARAKTER UTAMA: SANG NOVELIS
Karakter utama bernama Kamiyama Touma adalah seorang novelis yang mengalami amnesia akibat sebuah peristiwa yang terjadi lima belas tahun lalu. Meski kehilangan ingatan, ia memiliki keyakinan dan ambisi yang kuat: membuktikan bahwa buku mampu membawa kebahagiaan bagi siapa pun. Touma juga dikenal sebagai sosok yang selalu menepati janji-janjinya.
Salah satu contohnya terlihat ketika ia berjanji kepada seorang anak bernama Sora, yang awalnya membenci buku karena menganggapnya membosankan. Janji itu berhasil ditepati—melalui pendekatan yang hangat dan penuh imajinasi, Touma perlahan menumbuhkan ketertarikan Sora terhadap buku. Tak hanya kepada Sora, Touma juga gemar berbagi cerita secara langsung dengan anak-anak yang singgah di rumah buku yang ia dirikan. Cara bertuturnya yang ekspresif dan ceria membuat anak-anak selalu antusias mendengarkan kisah darinya.
Lebih jauh, Kamiyama Touma menemukan teman sekaligus tujuan hidup melalui buku-buku yang ia baca. Hal ini menegaskan besarnya pengaruh positif yang dapat lahir dari sebuah bacaan. Sebagai seorang novelis, ia sangat mencintai proses merangkai cerita—bahkan hanya melalui satu kalimat. Prinsip inilah yang menjadikannya pribadi yang terus berdiri tegak, pantang menyerah, dan percaya bahwa masa depan dapat diubah melalui kata-kata, sebagaimana keyakinannya: “Akulah yang akan menulis akhir ceritanya.”
KISAH PERSAHABATAN
Serial ini menghadirkan beragam kisah persahabatan yang kaya dan berlapis. Mulai dari persahabatan antar para ksatria, hubungan di antara tokoh-tokoh antagonis, ikatan para pendatang awal, hingga persahabatan masa kecil antara Kamiyama Touma, Kento, dan Luna—makhluk dari Wonder World.
Tema persahabatan tidak kalah menarik untuk diulas dibandingkan tema buku dan ksatria. Meskipun unsur persahabatan bukanlah hal baru dalam seri Kamen Rider, Kamen Rider Saber berhasil menghadirkannya dengan kedalaman emosional yang membekas. Bagi penonton yang mengikuti serial ini hingga akhir, persahabatan para tokohnya meninggalkan memori tersendiri. Hal ini terjadi karena persahabatan menjadi salah satu “nyawa” utama dalam cerita. Takdir sang tokoh utama untuk menjadi pahlawan berakar dari persahabatan masa kecilnya, yang kemudian melahirkan ambisi kuat untuk menyelamatkan sahabat. Dari sinilah cerita mengajarkan keteguhan pendirian: terus melangkah, tidak menyerah pada tujuan, dan setia pada ikatan yang melahirkan ambisi tersebut.
Salah satu figur penting dalam kisah ini adalah Kento, sahabat masa kecil Kamiyama Touma dan Luna. Ia memikul ambisi dan janji yang sama—menyelamatkan Luna akibat peristiwa yang terjadi lima belas tahun lalu. Namun, penglihatannya tentang masa depan membuat Kento memilih jalan yang berbeda dari Touma. Perbedaan ini bukan karena hilangnya tujuan, melainkan karena ambisi Kento berkembang menjadi keinginan untuk menyelamatkan dunia secara keseluruhan. Jalan yang ia pilih menuntut pengorbanan besar: nyawanya sendiri. Keputusan inilah yang ditentang keras oleh Touma.
Konflik tersebut menimbulkan dilema bagi penonton: apakah jalan yang diambil Kento benar atau keliru? Meski demikian, nilai positif yang dapat dipetik sangat jelas. Kento adalah sosok sahabat yang mencintai dengan sepenuh hati, rela memikul beban sendirian, dan bersedia mengorbankan hidup demi orang-orang yang ia sayangi. Walau tindakannya kerap terlihat egois, ia justru merepresentasikan makna sahabat sejati—seseorang yang memilih terluka agar yang lain tetap selamat.
KESERAKAHAN ATAU KEPUTUSASAAN
Awal kisah dalam seri ini berpusat pada sebuah buku terlengkap yang memuat seluruh pengetahuan di bumi—sejak awal penciptaan hingga akhir segalanya. Mereka yang menemukan buku ini dikenal sebagai Orang-Orang Permulaan. Dikisahkan terdapat lima Orang Permulaan yang berhasil menguasainya. Tiga di antaranya—Storius, Reigel, dan Zuous—berubah menjadi pemimpin antagonis dalam cerita.
Ketiganya terhasut oleh keserakahan terhadap kekuatan yang terkandung dalam buku tersebut dan berniat menguasai dunia dengan memperoleh kendali penuh atas isinya. Pilihan ini membuat mereka berpisah dengan dua Orang Permulaan lain yang memilih jalan kebaikan. Sejak saat itu, persahabatan mereka pun hancur, digantikan oleh ambisi dan konflik.
Dalam perkembangannya, Reigel dan Zuous berhasil dikalahkan oleh para ksatria, menyisakan Storius sebagai lawan terakhir dalam perjuangan menyelamatkan dunia. Namun, di balik perannya sebagai antagonis utama, terungkap fakta mengejutkan: Storius pada mulanya adalah seorang penulis yang gemar menciptakan cerita dan membacakannya kepada anak-anak. Keputusasaan mulai menguasainya ketika ia mengetahui bahwa ambisi dan akhir dari segalanya telah tertulis di dalam buku terlengkap. Bagi Storius, hal ini menghilangkan makna imajinasi—jika akhir cerita sudah ditentukan, maka menulis menjadi sia-sia. Dari sinilah lahir keyakinannya bahwa dunia lebih baik dihancurkan.
Pada bagian akhir, seri ini menyampaikan pesan yang kuat: masa depan memang tidak pernah benar-benar kita ketahui, tetapi ia dapat dibentuk melalui tindakan yang kita lakukan hari ini. Sosok Kamiyama Touma menjadi representasi dari perlawanan terhadap takdir yang tertulis—ia terus berjuang, mempercayai sahabat, serta berpegang pada keberanian dan tekadnya.
Serial ini ditutup dengan akhir yang bahagia, sejalan dengan semangat khas Kamen Rider. Sebuah penutup yang meninggalkan kesan mendalam—membuat Kamen Rider Saber terasa sangat memorabel dan layak disebut sebagai salah satu puncak dari seri ini.

