BERKACA TENTANG REALITA KEHIDUPAN MASYARAKAT MELALUI PEMENTASAN MEGA-MEGA OLEH TEATER KUJU
Febrianiko Satria adalah seorang guru yang memiliki cita-cita mendirikan sekolahnya sendiri. Di tengah aktivitasnya sebagai pendidik, ia juga aktif sebagai Ketua Forum Pegiat Literasi Jambi dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan literasi, pendidikan, serta pengembangan budaya baca. Selain itu, ia dikenal sebagai penggemar budaya populer Jepang yang kerap mewarnai sudut pandangnya dalam melihat dunia pendidikan dan kreativitas. Berbagai gagasan, refleksi, dan tulisannya dapat dibaca melalui akun Instagram @niko.x7, blog pribadinya di nikox7.blogspot.com, serta laman Kompasiana miliknya, yaitu Kompasiana Niko X7.
Kamis malam, 11 Juni 2026, saya mendapat undangan elektronik dari bang Dwi Raharyoso untuk hadir pada pementasan teater mahasiswa Sastra Indonesia yakni Festival Tapak Kuju pada Sabtu–Senin, 13–15 Juni 2026 bertempat di Taman Budaya Jambi. Saya mengiyakan bisa hadir melalui pesan Whatsapp.
Sabtu malam akhirnya tiba. Saya lalu pergi ke Taman Budaya. Saya melihat parkiran Teater Arena penuh seperti biasanya. Karena jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 19:40, saya memutuskan masuk ke dalam teater Arena. Sebelum masuk Teater Arena, saya sempat mengobrol dengan Radit dari Mahasiswa Merah yang ternyata mahasiswa Sastra Indonesia. Dia mengajak saya untuk datang pada pementasan kelompoknya besok malam dan meminta saya mengulas pertunjukkan mereka.
Saya masuk ke dalam Teater Arena. Sebelah kanan ruang pameran sudah ada Kay dari Malam Puisi Jambi yang berjaga di stand puisi. Setelah registrasi saya masuk ke dalam ruang pertunjukan. Ruang pertunjukan sudah lumayan ramai dengan penonton. Saya memilih duduk di sebelah kiri tribun penonton. Saya sengaja memilih tempat duduk di tribun sebelah kiri agar tidak disuruh pindah lagi seperti pertunjukan sebelumnya.
Sembari menunggu tamu undangan datang. Pewara berulang kali mengingatkan tentang tata tertib selama menonton pertunjukan. Sekitar jam 20:00 lewat, pewara masuk ke panggung untuk memulai acara. Acara dimulai dari sambutan singkat dari Ketua Jurusan Sastra Indonesia dan Arkeologi FKIP UNJA, Irma Suryani. Setelah selesai sambutan, Pewara membacakan sinopsis singkat pertunjukan Mega-Mega karya Arifin C. Noer dan disutradarai oleh Dea Irma Suryani. Tak lama kemudian pertunjukan segera dimulai.

Pertunjukan dimulai dari Retno, seorang pelacur yang mangkal di alun-alun. Dia bernyanyi menghibur diri sembari menunggu pelanggannya lewat. Di sana sudah ada Mak’e seorang Ibu-ibu yang tinggal menginap di alun-alun. Mak’e memberi nasehat kepada Retno tentang pekerjaanya. Tidak lama kemudian, masuklah Punut yang merupakan seorang perampok gagal. Mak’e menesehati Punut agar bekerja sebagai kuli dan berhenti melakukan pekerjaan haram. Punut tidak menurut dan pergi meninggalkan alun-alun untuk menjadi pencuri. Koyal datang ke alun-alun dan bercerita bahwa dia hampir memenangkan judi lotre. Hamung lalu datang dan Tukijan yang baru selesai nonton film di bioskop pulang ke alun-alun untuk beristirahat. Tidak lama kemudian Koyal bermimpi dia menang lotre dan mentraktir teman-temannya. Pertunjukan ini diakhiri dengan Punut yang pulang membawa uang dan Tukijan membawa Retno pindah untuk bekerja di Sumatera.

Sumber gambar: Febrianiko Satria
Pertunjukan Mega-mega ini merupakan simbol dari permasalahan yang ada di masyarakat. Mulai dari Retno yang melambangkan kehidupan wanita yang ingin cepat kaya dengan cara menjadi pelacur. Punut yang lelah miskin dan menjadi pencuri. Koyal yang bercita-cita menjadi kaya dengan instan dengan cara berjudi. Serta Takijan yang lelah dengan semua permasalahan kehidupan di kota dan memutuskan untuk pindah transmigrasi ke Sumatera. Semua permasalahan ini sudah ada melekat pada masyarakat bawah sejak jaman dulu dan terus berubah mengikuti pola zaman dan tidak pernah berakhir.
Secara umum pertunjukannya sudah lumayan baik. Semua aktor sudah memerankan tokoh dengan luwes. Hanya saja dari segi artistik dan blocking masih perlu dibenahi. Menurut saya, teman-teman aktor ketika latihan lebih berfokus dengan panggung berbentuk prosenium. Hal ini ditandai dengan penataan properti kursi taman yang membelakangi tribun kiri penonton. Karena tempat duduk yang salah posisi ini mengakibatkan blocking aktor menjadi ikut membelakangi penonton tribun kiri dan kanan. Ada baiknya ketika gladiresik di Teater Arena, aktor dan artistik segera menyesuaikan bentuk panggung yang seperti tapal kuda.
Ketika pertunjukan berlangsung saya iseng mengecek di Google, ternyata naskah ini ditulis pada tahun 1966. Sehingga ada banyak isu yang tampak kurang kekinian. Saat ini sudah sulit ditemukan judi lotre, judi yang lebih banyak ditemukan pada masyarakat adalah judol. Begitu juga pelacuran mangkal di pinggir jalan juga sudah sulit ditemui, karena mereka sudah banyak di aplikasi. Apalagi isu transmigrasi ke Sumatera, karena saat ini di Sumatera sudah banyak kebun sawit. Alangkah lebih baik sutradara menyadari hal ini dan mengadaptasikan naskah sesuai kondisi masyarakat hari ini tanpa mengurangi esensi dari naskah Mega-Mega.
Begitu juga dengan durasi pertunjukan yang cukup lama yakni 2 jam. Jika pertunjukan 2 jam, ada baiknya adegan-adegan tidak perlu diulang-ulang karena akan membuat penonton menjadi bosan. Serta sebaiknya pertunjukan tidak ngaret terlalu lama dan dimulai tepat waktunya.
Meski banyak kekurangan di sana-sini. Kita perlu mengapresiasi teman-teman dari Sastra Indonesia sudah berusaha mementaskan naskah Mega-Mega ini dengan baik. Selamat! Semoga selalu terus aktif dalam berkarya.

