Puisi-Puisi Silmy Fachriya
CELA YANG KU PILIH
kusampaikan kepada penguasa raga
atas mengalirnya dosa berbumbu romansa
yang ku petik tanpa sengaja
atas jejak tanpa kendali waktu yang hampa
ku isyaratkan pada iris sepekat jelaga
mengenai rambu hati yang bergema
ku bisikan melalui bisu yang nyata
tanpa ada lirihan asa yang terucap
cela ini kupilih atas nama cinta
ku kiblatkan netra ini pada paras indahnya
ku libatkan sujud untuk meminta
ku rendahkan mahkota kepada sang pencipta
mengharap sahutan akan lewat
melalui telapak yang mengadah
dalam bentuk ikatan benang
yang ditakdirkan sebagai penyempurna
jikalau patahan jiwa ini tidak layak
bawalah pelengkap terbang oleh jarak
tanpa hadirnya alur sebagai wadah jumpa
biarlah kursi disamping kosong menunggu takdirnya
KELABU
hari itu tidak mendung,
tapi dia memakai warna kelabu
warna itu seolah terbaikan oleh waktu,
dan dia pun tidak terganggu
matanya menyorot lurus
tanpa khawatir tujuan nya kabur
lalu apa yang membuatmu layu?
sikap nya yang abu abu?
atau langkah nya yang terlalu berlarut-larut?
hari itu mungkin bukan milikku
tapi yang membuatmu patah justru adalah kamu bukan yang dia tuju.
di berjalan lurus,
mengabaikanmu, melewati mu
seolah kamu tenggelam oleh semu
ya, yang kelabu bukan awan tapi angan angan mu
HANGAT KOPI
ku petik nikmat itu,
dari jeda tak kenal masa
di tuang hangat kopi dalam cangkir.
Ya, seperti itu lorong hampa diriku
tetes jelaga mengalir deras, tanpa arah.
meluber, meluap, membludak berantakan.
hari itu tidak hujan,
tapi noda hitam menggenangi labirin asam
mengisi tiap kosong pada jiwa,
membakar hasrat semangat.
cangkir yang dituang,
menemani malam dan mengobati suram

