Puisi-Puisi Rafityen Syahara
Kursi Kekuasaan
Di atas kursi berlapis janji
mereka tersenyum seperti pagi,
sementara di bawah baliho tinggi
perut-perut tetap sunyi.
Entah ribuan janji mana lagi
yang katanya akan ditepati.
Kami sekonyong-konyong menengadah,
mencari ujung dari segala resah.
Adakah akhirnya?
Ah, tentu tidak ada.
Setelah kursi berhasil digenggam,
kami hanya bayangan yang dipendam;
dipojokkan oleh gemerlap kekayaan,
menonton harta kami berubah jadi kemewahan.
Suara rakyat tinggal gema,
dipakai saat ramai saja.
Sesudah itu kami dilupakan,
seperti debu di pinggir jalan.
Tanah yang Menunggu Pulang
Di kampungku,
sawah masih hafal langkah bapak-bapak tua
yang berangkat sebelum matahari menyapa
Embun malu-malu jatuh ketanah
namun harga hidup terus meninggi.
Anak-anak kecil berlari di genangan jalan nan becek
tertawa di antara debu dan lubang jalan
yang tiap pemilu dijanjikan perbaikan.
Spanduk-spanduk datang lebih cepat
daripada bantuan yang dijanjikan.
Di ujung desa,
surau kecil tetap memanggil senja,
meski suara pengerasnya kalah
oleh pidato-pidato kendaraan kampanye.
Kami pernah percaya
bahwa kota akan mengingat kampung halaman
bahwa tangan-tangan yang meminta suara
tak akan lupa jalan pulang.
Namun setelah kursi-kursi penuh terisi,
desa kembali menjadi sunyi.
Lampu jalan tetap redup,
jembatan kayu tetap rapuh,
dan ibu-ibu masih menghitung beras
dengan cemas yang sama.
Kampungku tidak meminta istana,
tidak juga emas dan pesta.
Ia hanya ingin didengar
tanpa harus menunggu musim pemilihan.
Catatan Malam untuk Skripsi
Aku kira
Akan ada akhirnya
pada halaman-halaman ini
Aku lulus,
berfoto dan tersenyum bahagia
Sedang kepalaku
tak lagi dirubung cemas.
Tapi malam tumbuh panjang
dan aku terdampar
di meja yang sama.
Dikutuk deadline
dan jam yang tak mau diam
Aku mengetik
lalu menghapus lagi
Tak satu juga kalimat
terasa selesai.
Maka baik juga
kopi ini kita dinginkan
Sebab mataku
sudah terlalu merah
untuk memaksa terang.
Dan skripsi itu
tetap menatapku dingin
Sedang aku
pelan-pelan hangus
di bawah lampu kamar
yang letih.
Tahun yang Membekam
Pagi-pagi lahir
bersama harapan yang utuh.
Langkah melaju penuh percaya,
menunggu hidup berpihak meski sebentar saja.
Doa-doa naik diam-diam
ke langit yang tak banyak bicara.
Namun mimpi runtuh perlahan,
jatuh ke dasar sunyi tanpa jawaban.
Usaha yang dipeluk erat
akhirnya tinggal kecewa.
Tangis disimpan di balik tawa,
sedang hati pelan-pelan retak tanpa suara.
Tahun itu tetap tinggal
membekam ingatan,
menguras tenaga dan harapan,
lalu mengajar bahwa hidup
tak selalu selesai dengan kemenangan.
Goresan Merah
Sesak mengalir pelan di dada,
membuka luka yang lama reda.
Napas jatuh dalam diam,
sedang hati remuk perlahan.
Air mata turun tanpa suara,
menemani malam yang tak selesai juga.
Kuat yang susah dikumpulkan
hilang lagi bersama kenangan.
Tangis kusimpan rapat sendiri,
di balik wajah yang pura-pura baik hari ini.
Namun pedih datang tanpa izin,
menggores batin yang sudah miskin tenang.
Masa lalu memang telah pergi,
tapi lukanya tinggal menetap di sini.
Dan setiap kali hidup menampar,
darah lama terasa mengalir kembali
merah
di dalam diri.

