Puisi-Puisi Ardhi Ridwansyah
Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Termasuk 115 karya terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Bengkel Deklamasi 2021. Puisinya juga dimuat di media seperti Suara Sarawak (Malaysia), koran Merapi, Pontianak Post, Harian Waspada, Radar Tuban, Media Indonesia, Republika, situs Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), Banten Raya, Bangka Pos, Rakyat Sumbar. Instagram: @ardhigidaw
BERANDAL MABUK
Detak jantung kencang
Ribut di dada semacam
Kumpulan kuda berpacu
Di arena perjudian
Merah senja mata rabun
Duduk menatap kereta
Mondar-mandir angkut
Komplotan domba
Mengembik
Berdesakan dan dungu
Tinggal sedikit
Di botol hijau dekil
Senyawa yang melayang
Di udara; kepul asap
Tak terbayang dari mabuk
Dan amuk.
Dari kepala yang remuk
Melihatmu kasih,
Terombang-ambing
Masa ke masa
Jatuh didekap nelangsa
Pulang membawa daksa
Lelap di ranjang putus asa
Darimu berandal pemabuk
Di kepala; bernyanyi riang
Berteriak-teriak, membakar
Puisi menjadikannya alat
Masturbasi
Darimu para berandal
Membual tentang kecantikan
Dan kematian sebelum
Tanganmu yang lembut
Hanya tulang
Yang kerap mengusap
Air mata berlinang
Jakarta, 2026
PERTEMUAN MALAM ITU
Pertemuan malam itu
Tanpa kancing
Tanpa resleting
Biarkan angin bercumbu
Hujan dan menggedor jendela
Sedang lampu telah ditikam
Sampai mampus
Sepasang mata
Saling dekap
Saling cakap
Biarkan secarik kertas
Dan pena tergeletak pasrah
Buku-buku puisi yang muram
Menganga kelam kala
Berlutut dia di hadapan
Mulai berkelana napasnya
Di kulit yang hangat
Semacam api menjilat batu
Seperti embun mengecup bara
Jakarta, 2026
TEPIAN SEPI
Dia mulai menuliskannya
Perlahan; sebelum senja telan
Tubuhnya dalam-dalam.
Nama terukir sudah
Setiap napasnya mengandung
Aroma melati yang mengetuk hati
Seperti pintu dia buka
Isi kepala dan merebahkan
Yang hidup sebagai yang mati
Segala menjadi pasir usai
Lama menjelma batu dalam diri
Ilalang sudah bisu, hari-hari
Muram dan bersemi kembali
Senyum yang muda kini menua
Terpatri dalam daun-daun
Yang terkapar nyeri
Waktu yang tangkas berlari
Mulai lumpuh karena letih sekali
Menepi dan menyepi
Jakarta, 2026
SELINTAS SENSASI
Selang tarik napas sebentar
Gedung-gedung menua dan
Jalan raya terbelah
Sepeda motor hilang kendali
Terpelanting menjadi
Ranting patah
Mobil-mobil mendengkur
Lelap dalam mimpi seorang
Penjaja gorengan dan
Karyawan swasta
Sedang pepohonan merunduk
Mencium tanah lebih rendah
Lagi menyambut kematian
Bunga-bunga rindu pada
Duri yang kini banyak
Menancap di pundak
Sampai petang retak dan
Malam terasa ringkih
Mata yang curiga
Dan dengki
Saling sapa
Dalam derap langkah kaki
Yang lupa arah pulang
Jakarta, 2026
MENIMANG API
Faleria pulang
Membawa api
Di tangan kiri
Dia timang sembari
Menyanyikan lagu sedih
Bangkitkan malam sunyi
Dan sekawanan
Tikus yang merenung
Dan merintih.
Faleri mencintai api
Seperti bagian dari tubuhnya
Berkelana dari hati ke hati
Menemukan jati diri
Bersimbah darah
Berlumur keringat
Bermata rengat
Sampai api mendekap
Hingga api mengecup
Sekujur wajah dan kakinya
Dia benar-benar pulang
Meraba abu dan debu
Yang legam
Jakarta, 2026

