Puisi-puisi Julius Hidayat
Aku Perlu Mengingatmu Atas Nama Cinta
Dan baru kusadari, aku telah larut tenggelam dalam lautan yang mengombak di tiap iris pupilmu, yang semakin kunikmati. Namun, kian menciptakan luapan cedera pada diriku. Kau perlahan menjelma minggu tenang yang semu, aku menuntut keadilan atas kehilangan dalam satu denyut waktu. Dan bagaimana mungkin senyum itu begitu purnama pada awalnya, aku terkesima saat siaga dirimu memantikkan tawa. Pada awalnya, dan mesti harus pada awalnya. Aku perlu mengingatmu atas nama cinta.
Teruslah Melahapku Atas Nama Cinta
Dan bila aku menua, kau masih mengemban gema yang enggan padamkan lamunku. Dan akan ku singgahi di antara fana yang mulai dipudari, meraba namamu laksana mencari cahaya abu-abu. Sebab tak ada lagi sungguh sejak kau pergi. Maka, benarlah. Aku begitu sukarela tenggelam dan terbabi buta oleh gema yang kau pijari. Sampai detik ini, detik ini dan seterusnya, teruslah melahapku atas nama cinta.
Kudekapkan Hangatku Padamu Atas Nama Cinta
Dan sungguhlah lucu, kukira kau adalah manusia yang diciptakan dari betahnya keindahan bernaung di muka bumi. Berbekal dua pasang matahari pagi, kelimpungan raguku kau buat bersemi. Namun dan jika teringat lagi, akan ku peluk sehebat kobaran api. Apakah begitu mengutarakan kehebatan cinta? Perihal itu, aku sungguh gagap tak berdaya, Namun bagiku, ada kalanya, kala kudekapkan hangatku padamu atas nama cinta

