Mohon Maaf Penjual Gorengan, jangan jadikan Bihun jalan Pintas
Ada kekecewaan yang pelan-pelan mengendap tiap kali saya berdiri di depan lapak gorengan. Di sana, bakwan, risol, dan tahu isi berderet dengan warna keemasan yang menjanjikan. Namun, janji itu sering kali gugur tepat pada gigitan pertama.
Entah sejak kapan, bihun menjadi jawaban atas segala persoalan gastronomi jalanan kita. Tahu isi? Bihun. Risol? Bihun juga. Seolah-olah tauge, kol, wortel, dan daun bawang sedang melakukan cuti bersama dari kancah penggorengan. Kita tidak lagi menemukan tekstur sayuran yang renyah dan segar, melainkan bihun polos yang rasanya netral dan teksturnya gampang menyerah saat digigit.
Risol pun mengalami krisis identitas yang serupa. Kita membelinya dengan bayangan akan gurihnya kentang atau manisnya wortel yang dulu menjadi tulang punggung camilan ini. Kini, isi tersebut telah menjadi legenda; pernah ada, namun jarang ditemui. Yang tersisa hanyalah bihun yang dibungkus kulit, digoreng, lalu dipaksakan menyandang nama “risol”. Ini bukan lagi soal selera, melainkan manifestasi dari keputusan yang setengah hati.
Saya paham ada nalar ekonomi yang mencekik di balik kuali panas itu. Harga minyak goreng yang fluktuatif dan bahan pokok yang terus mendaki memaksa pedagang berkompromi agar harga tetap ramah di kantong. Namun, di sinilah letak ironinya: ketika bihun dimasukkan ke semua jenis gorengan hanya demi mengejar volume, ia menjadi jalan pintas yang terlalu telanjang. Dari luar ia tampak kokoh, namun di dalam, ia adalah simbol efisiensi yang membunuh imajinasi rasa.
Gorengan, bagi masyarakat kita, bukan sekadar urusan logistik perut. Ia adalah “harapan kecil” di sela kemacetan atau jeda di antara jam kerja yang melelahkan. Ada seni dalam mengolah isi yang sederhana agar tetap terasa “niat”. Memasukkan bihun ke segala lini seolah mereduksi sebuah karya kuliner menjadi sekadar gumpalan karbohidrat berminyak.
Mungkin ini terdengar rewel. Namun, bukankah hidup memang sering diisi oleh kekecewaan-kekecewaan kecil seperti ini? Tahu dan risol isi bihun itu seperti sedang tidak menawarkan rasa. Mereka menyerah pada minyak panas tanpa sempat menyiapkan karakter. Sebuah pengabdian yang menyedihkan bagi sebuah gorengan yang seharusnya menjadi penghibur lara di sore yang gerah.

