Puisi-Puisi E.M Yogisawara
EM Yogiswara, sastrawan dan pendidik asal Jambi, adalah pendiri Teater Art in Revolt (AiR) dan aktif menulis puisi, naskah drama, serta mengkurasi karya sastra di tingkat lokal dan nasional. Sebagai redaktur Jambi Ekspres dan dosen Universitas Jambi, ia konsisten membina generasi muda melalui pengajaran, penyutradaraan teater, dan workshop sastra.
JANGAN RETAK KASIH SAYANG
Ini hari, Kalbu menegur lengan agar jangan
retak kasih sayang ibu, jika belum kuat tuk
berbagi. “Berbakti bukan sekadar memberi
harta, tapi menjaga hatinya tanpa menambah
luka. Diam, lebih mulia daripada banyak bicara
tanpa makna.”
Ini hari, Kalbu pun mengingatkan kaki, agar
jangan retak kasih sayang ibu, jika belum bisa
membahagiakan perjalanan hidupnya. “Ridho
Ibu adalah pembuka rumah-Nya. Kebajikan
tak selalu tentang apa yang dilakukan, tapi
memeluk dengan keikhlasan adalah surga
yang diam-diam menanti di hatimu.”
Ini hari, Kalbu menasihati akal agar jangan
tukar peluhnya dengan keluh, sebab setiap
helaan napasnya ada titipan kasih sayang
dari-Nya. “Usah tunggu kesadaran menjelma
jika tak ingin langkahmu ragu mencium bumi.
Usah tuntut dunia tuk mengerti diri, sebelum
kau mengerti cinta ibu yang mengasihimu
tanpa syarat.”
Saat tangan, kaki dan akal terdiam disentil,
Kalbu bergegas melepas petuah: Tinggalkan
dunia, jika kau ingin dipeluk ibu di rumah-Nya.
Sebab dunia hanyalah permainan kehidupan
yang tak bisa menyaingi kasih sayang ibu.
Teater AiR Jambi, 22122025
MENGHITUNG PASIR DI TEPI WAKTU
Di tepi waktu, ruh melihat perempuan berlutut,
menghitung pasir. Meski si perempuan telah
menahan genggamannya, namun butir demi
butir jatuh ke bumi dan tak kembali. Kini ia
tahu, sebutir pasir yang hilang kan jadi luka
di akhirat.
Tersebab pasir di tangan selalu ingin kembali
ke takdir-Nya, si perempuan pun hanya bisa
menyusun harapan di celah ketidakpastian
hidup. “Ku ingin, hitungan amal ini tak terhenti
sebelum waktu ditutup-Nya,” lirih perempuan
pada Ruh.
Ruh diam. Ia melihat jemari tangan perempuan
gelisah saat pasir pergi memikul hitungannya
menuj keridhoan-Nya. Ruh tersadar: Di jemari
perempuan tiap butir pasir kan lahir kesabaran
yang kelak jadi zikir. “Hidup bukan garis lurus
yang bisa diukur dengan kebanggaan, sebab
keselamatan jiwa tak dicatat dari melimpahnya
kesuksesan tapi seberapa ikhlas amal diserahkan
pada-Nya,” getar perempuan.
Sebelum Ruh menanyakan alasan menghitung
pasir, si perempuan menjawab: Yang kulakukan
ini, agar perjalanan di batas hidup tak tersesat.
Pasir mengajariku bahwa menjalani hidup di
kefanaan dunia ini hanya permainan tiada akhir.
“Sementara penyelamat kehidupan adalah
keikhlasan akal tuk menghentikan laku hidup.
Hidup tercipta dari pengorbanan hati yang tak
menuntut balasan,” tunduk perempuan yang setia
menanti takdir hidup di sujud akhir.
Teater AiR Jambi, 12122025

