Ketika Cewek-Cewek Komentar Liar di TikTok—Harusnya Kita Mulai Malu, Girls
Beberapa waktu terakhir, ada beberapa video TikTok yang menarik perhatian banyak orang, memperlihatkan seorang cowok dengan wajah menarik dan gaya santai yang membuat banyak netizen terutama cewek berduyun-duyun mampir ke kolom komentar. Kalau kamu sempat scroll komentar di video itu, sebagian besar isinya bukan cuma pujian biasa, tapi ada komentar-cewekan yang kurang sopan, agak terlalu frontal, dan kadang bikin risih kalau dibaca secara keseluruhan oleh semua orang yang melihatnya. Komentar seperti “kapan kamu nikahin aku?” atau kalimat-kalimat yang terlalu “terbuka” itu mungkin niatnya lucu atau genit, tapi secara keseluruhan memberi impresi bahwa kita sebagai perempuan sedang melewati batas sopan santun yang seharusnya dijaga ketika berinteraksi di ruang publik digital seperti TikTok. Ini bisa bikin orang yang membaca merasa tidak nyaman dan memberikan citra yang kurang terpuji terhadap perempuan secara umum. Di media sosial sendiri, platform-platform seperti TikTok sebenarnya punya panduan komunitas yang mewajibkan komentar yang sopan dan tidak menyinggung pihak lain agar tetap nyaman untuk semua pengguna, termasuk pembuat konten dan pemirsa lain yang melihatnya.
Padahal, selama ini cewek sering banget nuntut laki-laki buat menghargai perempuan nggak boleh objektifikasi, nggak boleh komentar seenaknya, nggak boleh goda-goda. Tapi pas cewek yang komentar begitu? Tiba-tiba “boleh kok, kan cuma bercanda”… eh, double standard banget, kan? Justru hal ini bisa bikin bodoh kita sendiri tanpa sadar ikut menurunkan standar kesopanan. Kalau laki-laki bisa ditegur karena komentar tidak pantas, kenapa perempuan yang melakukan hal serupa kemudian dianggap lucu atau wajar? Ini jelas jadi semacam paradoks sosial yang sering kita lihat di komunitas digital Gen Z, di mana viralitas dan humor sering menutupi batasan-batasan etika komunikasi yang sehat.
Sebagai perempuan, sebenarnya kita punya marwah. Marwah adalah kemuliaan diri, harga diri, dan kehormatan yang harus dijaga. Bukan cuma biar kelihatan classy di mata manusia, tapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap diri kita sendiri di mata Tuhan dan masyarakat luas. Perempuan itu punya posisi yang mulia, yang perlu dijaga dari fitnah dan perilaku yang bisa merendahkan nilai dirinya. Namun ketika kolom komentar cewek berubah jadi ajang godaan, kalimat mesum, atau ungkapan yang terlalu sugestif, itu sama aja kita sendiri yang ikut menurunkan martabat kita sendiri bukan hanya di mata sesama manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan. Sikap itu bukan hanya merusak citra pribadi, tapi ikut membentuk bagaimana masyarakat melihat perempuan secara umum: seolah perempuan itu tidak punya kontrol diri ketika melihat lawan jenis yang menarik. Padahal kenyataannya perempuan bisa berinteraksi dengan sopan tanpa harus mengorbankan martabatnya.
Dari kacamata sosial, komentar-komentar semacam itu bisa merugikan perempuan sendiri. Itu memberi sinyal kepada anak-anak muda, termasuk adik-adik perempuan kita di bawah umur yang ikut scroll TikTok setiap hari, bahwa komentar semacam itu adalah “hal yang lumrah”. Padahal, sebagai generasi yang sedang tumbuh, Gen Z punya kesempatan dan tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa kita bisa berinteraksi di ruang digital dengan elegan, tetap fun tanpa harus jatuh ke komentar kasar atau mengarah seksual. Selain itu, TikTok punya kontrol untuk atur siapa yang bisa komentar di konten kita, termasuk kita bisa memfilter atau bahkan menonaktifkan komentar agar ruang interaksi tetap aman dan nyaman bagi semua pengguna.
Menjaga adab dan etika komunikasi itu adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain. Kalau ngeliat cowok ganteng… cukup bilang dalam hati atau ungkapkan dengan cara yang sopan. Kita manusia, wajar kagum sama penampilan seseorang. Tapi nggak harus diumumkan ke semua orang kalau itu bikin kesan kurang pantas. Jaga lisan, jaga keyboard, hindari komentar yang bernada menggoda atau seksual, karena itu bukan hanya bikin citra diri jelek, tapi juga melanggar etika sosial dan kadang nilai agama yang mengajarkan kita untuk menjaga diri.
Perempuan bisa tetap classy dan tetap seru di TikTok tanpa harus terjebak di komentar yang mengarah negatif. Karena perempuan yang elegan akan jauh lebih dihargai, dan generasi setelah kita pun akan melihat contoh yang baik tentang bagaimana perempuan bisa kuat, bersuara, dan tetap mulia. Lewat cara ini, kita bukan hanya menjaga diri sendiri, tapi juga ikut membentuk budaya digital yang lebih sehat untuk semua.

