Iuran Paksa Acara Kampus Mengkhianati Janji Inklusivitas
Editor: Aldi Muheldi
Semangat aktivisme dan ambisi akademik seringkali melahirkan mega-proyek dengan tujuan mulia di lingkungan kampus—mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan, dan membangun kebersamaan antar mahasiswa. Namun, keindahan rencana ini seringkali ternodai oleh satu persoalan klasik: Ketika kegiatan dipaksakan berjalan meski anggaran belum memadai, dan akhirnya mahasiswa diminta memberikan iuran demi menambal kebutuhan acara. Inilah titik awal di mana nilai kemanusiaan diuji, dan janji inklusivitas mulai retak.
Di sinilah nilai kemanusiaan diuji. Idealnya, kegiatan akademik dirancang agar dapat merangkul semua peserta, bukan justru menciptakan jurang antara mereka yang mampu dan yang tidak. Ketika sebuah acara dipaksakan tanpa landasan anggaran yang jelas, dalam situasi ini mahasiswa dengan kondisi ekonomi terbatas sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Rasanya perih ketika panitia atau pengambil kebijakan lebih mengutamakan keberlanjutan kegiatan ketimbang kesejahteraan finansial anggota sendiri. Penting untuk menyadari bahwa tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan finansial yang sama. Kampus seharusnya berfungsi sebagai ruang inklusif yang memberi kesempatan setara bagi semua anggotanya, bukan tempat yang menciptakan beban baru. Prinsip kesetaraan dan aksesibilitas akan runtuh seketika di hadapan kebijakan iuran wajib yang tidak mempertimbangkan kondisi ekonomi. Ketika kegiatan dipaksakan tanpa memperhatikan keberagaman latar belakang ini, maka tujuan mulia untuk menciptakan suasana belajar dan berkarya yang positif dan merangkul semua pihak akan gagal tercapai secara inklusif.
Akan jauh lebih baik jika kegiatan besar dirancang dengan mempertimbangkan kondisi finansial mahasiswa secara menyeluruh, mengutamakan zero burden policy (kebijakan tanpa beban). Untuk memastikan kegiatan tetap berjalan tanpa menambah beban finansial bagi peserta, ada beberapa langkah strategis yang harus diambil: memaksimalkan dukungan dari pihak luar (sponsorship atau alumni), rasionalisasi kebutuhan acara yang disesuaikan dengan kemampuan anggaran riil, atau memiliki integritas untuk menunda pelaksanaan sampai pendanaan benar-benar siap. Dengan menerapkan cara ini, kegiatan yang dibuat bukan hanya menjadi ajang berkumpul atau unjuk kebolehan, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa lingkungan kampus benar-benar bertanggung jawab dan memprioritaskan kesejahteraan anggotanya.
Pada akhirnya, esensi sejati dari kegiatan akademik dan kemahasiswaan tidak terletak pada kemegahan anggaran, melainkan pada inklusivitas partisipasi. Kegiatan apa pun akan jauh lebih bermakna jika semua anggota dapat terlibat tanpa merasa terpaksa atau terbebani secara finansial. Keharmonisan sejati dalam komunitas akademik tidak hanya dibangun melalui acara besar dan sorotan panggung, tetapi jauh lebih fundamental, melalui perhatian tulus terhadap hal-hal kecil yang menyangkut kenyamanan dan martabat setiap mahasiswa.
