Liturgi Kelelahan dan Doa di Jalur Cepat: Membedah “33x” dalam Memorandum Perunggu
Oleh: Aldi Muheldi
Dalam lanskap musik rock Indonesia kontemporer, jarang sekali kita menemukan sebuah entitas yang mampu menangkap esensi “kelelahan urban” seakurat Perunggu. Ketika trio ini—Maulana Ibrahim (vokal/gitar), Adam Adenan (bass), dan Ildo Hasman (drum)—merilis album debut mereka, Memorandum (2022), mereka tidak sedang menawarkan pelarian dari realitas. Sebaliknya, mereka menyodorkan cermin retak bagi kelas pekerja Jakarta yang terjebak di antara ambisi karir, tagihan bulanan, dan sisa-sisa kewarasan spiritual.
Di tengah deretan track yang emosional seperti “Biang Lara” atau anthemic seperti “Pastikan Riuh Akhiri Malammu”, terdapat satu nomor yang berdiri sebagai jantung spiritual album ini: “33x”. Lagu ini bukan sekadar komposisi rock; ia adalah sebuah pengakuan dosa, sebuah keluhan, dan paradoksnya, sebuah doa yang dipanjatkan dengan napas tersengal.
Untuk memahami “33x”, kita harus menanggalkan jaket denim kita dan mengenakan kemeja kerja yang kusut di jam 5 sore. Kita perlu menyelami makna tersirat di balik angka, lirik, dan kebisingan yang dibangun Perunggu.
Konteks: Rock Pulang Kantor sebagai Genre Kehidupan
Sebelum membedah lirik, konteks sejarah perilisan Memorandum sangat krusial. Perunggu melabeli diri mereka sebagai band “Rock Pulang Kantor”. Ini bukan sekadar gimmick pemasaran; ini adalah realitas sosiologis para personilnya. Mereka adalah pekerja korporat penuh waktu yang bermusik di sela-sela meeting dan deadline.
Lagu “33x” lahir dari rahim kecemasan milenial yang spesifik: ketakutan akan ketertinggalan (FOMO) dan tekanan untuk terus produktif (hustle culture). Dalam berbagai wawancara, Maulana (Maul) sering menekankan bahwa lagu-lagu Perunggu adalah catatan harian (memorandum) untuk diri mereka sendiri agar tidak gila. “33x” adalah manifestasi puncak dari upaya menjaga kewarasan tersebut. Jika “Pastikan Riuh…” adalah tentang perayaan pulang kerja, maka “33x” adalah tentang momen panik di tengah hari kerja ketika segala sesuatunya terasa akan runtuh.
Semiotika Angka: Mengapa 33 Kali?
Judul lagu ini adalah kunci utama untuk membuka makna tersiratnya. Angka 33 bukanlah angka acak. Dalam konteks budaya spiritual mayoritas di Indonesia (Islam), angka 33 merujuk pada jumlah hitungan zikir dalam wirid setelah salat: 33 kali Tasbih (Subhanallah), 33 kali Tahmid (Alhamdulillah), dan 33 kali Takbir (Allahu Akbar).
Namun, Perunggu tidak menyajikannya sebagai lagu religi konvensional. Di sini letak jeniusnya. “33x” menyiratkan sebuah dualitas yang ironis.
- Repetisi Ritual vs. Repetisi Rutinitas: Angka 33 bisa dimaknai sebagai upaya pencarian ketenangan (zikir) di tengah badai pekerjaan. Namun, secara tersirat, ia juga menggambarkan repetisi pekerjaan yang memuakkan—33 email yang harus dibalas, 33 revisi yang harus dikerjakan, atau 33 kali kita menghela napas panjang menahan amarah.
- Doa yang Transaksional: Ada nuansa keputusasaan dalam penggunaan simbol ini. Seolah-olah subjek dalam lagu ini melakukan ritual spiritual bukan semata-mata untuk Tuhan, melainkan sebagai “obat penenang” instan agar ia mampu kembali “memacu” dirinya dalam pekerjaan. Ini adalah kritik halus terhadap bagaimana kapitalisme modern bahkan mengooptasi spiritualitas kita menjadi sekadar alat produktivitas.
Analisis Lirik: Dialog Antara Hamba dan Ambisi
Lirik “33x” tergolong hemat kata, namun padat makna. Gaya penulisan Maul sangat efisien, layaknya memo kantor yang langsung pada inti masalah, namun puitis dalam kepedihannya.
“Tuhan, memacu lagi / Memburu lagi / Habis-habisan”
Baris pembuka ini langsung melempar pendengar ke tengah aksi. Tidak ada intro yang santai. Kata “Tuhan” di sini berfungsi ganda: sebagai seruan doa dan sebagai keluhan (seperti sigh). Frasa “memacu lagi” menyiratkan siklus yang tak berkesudahan. Kita baru saja selesai, tapi harus lari lagi. Kata “habis-habisan” menegaskan totalitas yang diminta oleh dunia kerja, yang seringkali menguras cangkir energi kita sampai tetes terakhir.
Makna tersirat di sini adalah ketidakberdayaan. Subjek lagu ini sadar bahwa ia sedang diperah, namun ia secara sukarela (“memacu lagi”) masuk kembali ke dalam roda gila tersebut karena tuntutan hidup.
“Tergesa-gesa / Melupa saja / Tenang yang dipesan”
Di sini, Perunggu menyentil fenomena modern tentang “membeli ketenangan”. Kita memesan liburan, memesan kopi mahal, memesan kelas yoga, memesan waktu istirahat (“tenang yang dipesan”), namun karena “tergesa-gesa”, ketenangan itu terlupakan atau bahkan menjadi sumber stres baru.
Ada autokritik yang tajam dalam baris ini. Kita bekerja keras untuk mencari ketenangan, namun proses bekerja itu sendiri yang membunuh ketenangan tersebut. Kita menjadi pelupa; lupa bersyukur, lupa bernapas, dan lupa pada esensi hidup itu sendiri.
Klimaks Spiritual: Zikir di Jalur Cepat
Bagian paling krusial dari lagu ini adalah ketika musik memuncak dan vokal Maul terdengar seperti orang yang sedang berteriak di dalam mobil yang melaju kencang di jalan tol.
Pengulangan narasi dan eskalasi instrumen di “33x” merepresentasikan detak jantung yang meningkat (takikardia) akibat stres atau kafein berlebih. Ketika judul “33x” dikaitkan dengan lirik yang penuh ketergesaan, muncul interpretasi bahwa zikir atau doa yang dilakukan pun menjadi terburu-buru.
Bayangkan seseorang yang sedang salat atau berdoa, namun pikirannya melayang pada pekerjaan yang belum selesai. Mulutnya mengucap zikir 33 kali dengan cepat—bukan untuk meresapi maknanya, tapi sekadar menggugurkan kewajiban agar bisa segera kembali bekerja. Ini adalah tragedi spiritual manusia modern yang dipotret dengan sangat brilian oleh Perunggu. Lagu ini bertanya: Apakah kita berdoa untuk Tuhan, atau kita berdoa agar Tuhan membereskan masalah kantor kita?
Arsitektur Suara: Kebisingan sebagai Metafora
Sebagai penulis musik, kita tidak bisa mengabaikan aspek sonik. Di “33x”, aransemen musik bukan sekadar pengiring, melainkan narator kedua.
- Tempo yang Mendesak: Beat drum Ildo yang konstan dan driving menciptakan perasaan urgensi. Tidak ada ruang untuk bernapas, persis seperti jadwal back-to-back meeting.
- Gitar yang “Raw”: Suara gitar yang distorsif namun melodius mencerminkan kekacauan pikiran yang berusaha diredam. Ada keindahan dalam kekacauan tersebut, sebuah estetika stres.
- Vokal: Cara Maul bernyanyi di lagu ini tidak “bersih”. Ada grain dan strain dalam suaranya yang menyiratkan kelelahan fisik yang nyata. Ini menambah otentisitas pesan yang disampaikan.
Kesimpulan: Sebuah Memorandum untuk Jiwa yang Lelah
“33x” dari album Memorandum bukan sekadar lagu tentang capek kerja. Jika kita menyelam lebih dalam, ini adalah lagu tentang krisis eksistensial di mana batas antara ibadah dan rutinitas menjadi kabur.
Secara tersirat, Perunggu ingin mengatakan bahwa di zaman ini, “berhenti sejenak” adalah sebuah kemewahan yang mahal. Angka 33 menjadi simbol pertahanan terakhir—sebuah pegangan tasbih (baik harfiah maupun metaforis) yang digenggam erat-erat agar kita tidak hanyut dalam arus ambisi yang mematikan.
Lagu ini tidak memberikan solusi. Ia tidak menyuruh Anda resign (berhenti bekerja), dan tidak juga menyuruh Anda menjadi religius secara fanatik. Ia hanya memvalidasi perasaan Anda. Ia berkata, “Kami tahu rasanya. Kamu lelah, kamu berdoa dengan terburu-buru, kamu takut, dan itu manusiawi.”
Dalam diskografi musik Indonesia, “33x” akan dikenang sebagai salah satu potret paling jujur tentang kondisi psikologis kelas pekerja urban di dekade 2020-an. Ia berwibawa bukan karena kemegahan orkestranya, melainkan karena kejujurannya yang menohok ulu hati. Perunggu berhasil mengubah keluhan di pantry kantor menjadi sebuah liturgi rock yang agung.

