Apakah Stimulus Sebesar Rp 16,23 Triliun Salah Satu Cara Terbaik untuk Memulai Pemulihan Ekonomi?
Hairiza Satia merupakan alumnus Magister Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia memiliki ketertarikan yang besar dalam menulis dengan fokus pada tema pendidikan, lingkungan, serta ekonomi politik. Melalui tulisan-tulisannya, Hairiza berusaha menghadirkan perspektif kritis sekaligus solutif terhadap isu-isu sosial yang berkembang. Dapat dihubungi melalui email: hairizasati@gmail.com atau Instagram: @hairiza_satia97.
Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan meluncurkan paket stimulus senilai Rp 16,23 triliun (sekitar US$989 juta) saat ekonomi mulai melambat di pertengahan hingga akhir tahun 2025. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kecepatan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya beli masyarakat, dan mengurangi dampak dari faktor luar seperti inflasi global dan penurunan permintaan domestik. Namun, apakah stimulus ini cukup dan tepat sasaran untuk mencapai tujuan ekspansi yang telah ditetapkan? Apakah itu hanya fokus sementara yang akan hilang begitu dana habis?. Paket stimulus yang diluncurkan terdiri dari delapan program utama yang menyasar berbagai lapisan masyarakat. Beberapa komponen utamanya adalah:
- pemberian 18,3 juta rumah tangga menerima 10 kilogram beras sebagai bantuan pangan pada (Oktober–November 2025).
- Program “Cash For Work” yang akan menyerap sekitar 600.000 orang melalui proyek infrastruktur.
- Insentif pajak untuk sektor pariwisata termasuk perluasan PPh 21 DTP (ditanggung pemerintah) dan perpanjangan tarif PPh Final UMKM 0,5% sampai 2029, yang merupakan kenaikan yang ditunda sebelumnya.
- Magang berbayar bagi 20.000 mahasiswa lulusan perguruan tinggi.
- Diskon premi asuransi untuk truk dan pengemudi ojek online.
- Program reboisasi besar-besaran pada tahun 2026 direncanakan untuk menanam kembali 870.000 hektar, menciptakan pekerjaan untuk sekitar 1,6 juta orang.
Pemerintah menegaskan bahwa stimulus ini tidak akan meningkatkan defisit APBN. Dananya berasal dari sisa anggaran (SAL—Sisa Anggaran Lebih), optimalisasi anggaran kementerian dan lembaga, dan alokasi dana yang tersedia dalam APBN. Defisit pada tahun 2025 diperkirakan sebesar 2,78% dari PDB. Keunggulan Paket Stimulus:
- Pertama, Memungkinkan Reaksi Cepat terhadap Perlambatan Ekonomi,beberapa sektor ekonomi Indonesia sudah mulai menunjukkan kelemahan, seperti penurunan konsumsi rumah tangga, pertumbuhan kredit yang lebih lambat, dan peningkatan ketidakpastian global. Agar efek negatifnya tidak semakin parah, stimulus ini adalah tindak balasnya.
- Meskipun ukurannya tidak terlalu besar, paket ini mencakup sejumlah bidang dan kelompok masyarakat yang berbeda. Ini termasuk rumah tangga yang menerima bantuan pangan, pekerja informal dan formal kecil yang menerima insentif pajak dan magang, dan proyek padat karya yang membutuhkan tenaga kerja. Ini membantu memastikan bahwa stimulus tidak hanya “jatuh” ke satu sektor.
- Paket stimulus juga diharapkan dapat mengurangi Defisit Secara Substansial, janji pemerintah bahwa stimulus ini tidak akan melanggar batas defisit yang telah diatur (maksimal 3% dari PDB) melalui pengoptimalan belanja dan SAL. Ini sangat penting untuk menjaga kredibilitas fiskal.
- Potensi Multi-Efek: Stimulus seperti proyek padat karya dan reboisasi dapat memiliki efek berulang. Misalnya, proyek infrastruktur dan reboisasi bukan hanya menyerap tenaga kerja langsung, tetapi juga meningkatkan permintaan bahan baku lokal, meningkatkan kualitas lingkungan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Dibalik kelebihan paket stimulus yang diluncurkan tentu Tantangan dan Keterbatasan nyapun tak terelakan yakni :
- Anggaran kecil dan waktu terbatas
Anggaran sebesar Rp 16,23 triliun sangat kecil dibandingkan dengan skala APBN atau kebutuhan nyata. Bisnis dan masyarakat telah mendapatkan manfaat dari banyak stimulus sebelumnya, jadi efek stimulus baru akan semakin memudar dengan cepat.
- Efektivitas setiap program tidak merata
Bantuan pangan dianggap memiliki dampak sosial yang kuat tapi kecil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara proporsional, karena serapan produktivitasnya rendah. Program perpajakan dan padat karya dianggap lebih efektif dalam mendorong aktivitas ekonomi daripada bantuan pangan. Namun, implementasi membutuhkan prosedur administratif, pengawasan, dan kolaborasi antar kementerian yang kadang-kadang memakan waktu.
- Kemungkinan efisiensi dan penyalahgunaan
Ada kemungkinan bahwa beberapa dana mungkin tidak digunakan secara efektif atau terserap lama, terutama di wilayah terpencil atau komunitas dengan akses terbatas.
- Ketergantungan sementara
Transparansi dan pengawasan sangat penting karena sebagian stimulus bersifat konsumtif. Ini karena kebijakan berakhir atau dana habis. Jika tidak ada kebijakan struktural yang mendukung konsumsi rumah tangga, seperti kenaikan pendapatan riil, peningkatan produktivitas, regulasi yang mendukung UMKM, dan infrastruktur yang memadai, konsumsi rumah tangga akan kembali menurun.
- Tantangan dari sumber luar dan risiko terkait nilai tukar dan inflasi
Selain itu, stimulus harus dilaksanakan di tengah tekanan luar, seperti nilai tukar rupiah yang berubah-ubah, kenaikan harga bahan pokok di seluruh dunia, dan inflasi yang dapat menghancurkan daya beli bahkan tanpa bantuan. Jika permintaan lokal meningkat tanpa diiringi kenaikan pasokan, hal itu dapat menyebabkan inflasi.
Pertanyaanya Akankah Stimulus Ini Mencapai Tujuan?
Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen untuk tahun 2025, dan para ekonom mengatakan paket stimulus ini dapat menambah 0,2 hingga 0,3 poin persentase pada pertumbuhan tahunan, jika semua berjalan lancar. Namun, Bisnis.com melaporkan bahwa angka pertumbuhan akhir kemungkinan besar akan berkisar antara 5,2 persen dan 5,1 persen. Faktor-faktor berikut memengaruhi kemungkinan target akan tercapai
- Kecepatan dan efisiensi penyaluran stimulus
Bantuan harus segera diterima oleh masyarakat, dan proyek besar harus selesai tanpa hambatan dari peraturan atau birokrasi.
- Dampak psikologis dan kepercayaan pelaku usaha
Jika sektor swasta melihat bahwa pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi dan fiskal, stimulus dapat mendorong bisnis untuk investasi atau memperluas bisnis.
- Kondisi eksternal
Contohnya Sepertit harga komoditas, kebijakan negara mitra dagang, kondisi monetari global, seperti suku bunga dan kurs valas, yang berdampak pada ekspor dan impor, dan aliran modal asing.
- Inflasi dan nilai tukar
Daya beli masyarakat dapat tergerus jika tekanan inflasi terlalu tinggi atau nilai tukar rupiah melemah drastis. Ini akan menghambat konsumsi, yang merupakan komponen utama stimulus.
Rekomendasi untuk Stimulus yang Lebih Berkelanjutan dan Efektif:
- Perluasan cakupan program produktif
Stimulus bukan hanya konsumtif tetapi perlu diperluas ke program yang meningkatkan produktivitas dan daya saing: dukungan kepada UMKM, insentif untuk petani, nelayan, industri rumah tangga, dan investasi di teknologi & inovasi.
- Penguatan implementasi dan pengawasan
Pastikan koordinasi antar‐kementerian / lembaga, serta pemerintah daerah berjalan lancar. Monitoring real time terhadap penyaluran dana dan outputnya – jangan sampai ada delay yang menyebabkan dampak potensial stimulus mengecil.
- Transparansi dan komitmen publik
Data tentang siapa penerima, kapan dana diberikan, seberapa cepat pelaksanaan, dan hasil yang dicapai harus dapat diakses oleh masyarakat umum. Masyarakat dapat membantu mencegah kebocoran.
- Pendekatan yang mempertimbangkan masa depan
Strategi ekonomi jangka panjang harus mencakup stimulus, bukan hanya “darurat”. Ini dapat mencakup perbaikan infrastruktur, pendidikan, tenaga kerja, regulasi yang menarik investasi, perbaikan efisiensi birokrasi, dan sistem pajak.
- Prediksi inflasi dan nilai tukar
Stimulus harus dipantau oleh pemerintah bersama Bank Indonesia karena berdampak pada inflasi, nilai tukar, dan permintaan. Untuk menjaga daya beli masyarakat, jika perlu, masukkan kebijakan yang mendukung agar tekanan harga tidak meluas.
Untuk memperluas cakupan program produktif Insentif harus diperluas ke program yang meningkatkan produktivitas dan daya saing, seperti mendukung UMKM, petani, nelayan, dan industri rumah tangga, serta investasi dalam teknologi dan inovasi.Memperkuat pengawasan dan implementasi Pastikan bahwa koordinasi antar lembaga dan kementerian serta pemerintah daerah berjalan lancar. Mengawasi penyaluran dana dan output dalam waktu nyata untuk menghindari keterlambatan yang dapat mengurangi dampak stimulus yang mungkin. Dengan perlambatan ekonomi dan tekanan dari luar, stimulus sebesar Rp 16,23 triliun adalah tindakan yang tepat dan diperlukan. Ia menunjukkan bahwa pemerintah menyadari betapa pentingnya menjaga kestabilan sosial, konsumsi, dan daya beli. Besarannya, bagaimanapun, masih tergolong moderat; dampak positifnya, bagaimanapun, tidak akan cukup untuk mengatasi semua kelemahan ekonomi saat ini, apalagi untuk mencapai target 5,2 persen yang ditetapkan. Untuk mencapai efek yang tahan lama, stimulus harus diberikan dengan kecepatan, ketepatan sasaran, dan efektivitas, dan dilengkapi dengan kebijakan struktural. Jika tidak, kita bisa berada dalam kondisi “stimulus sesaat”, di mana masyarakat merasa sedikit lega ketika bantuan datang, tetapi kemudian kembali mengalami beban hidupnya setelah paket itu selesai. Pemerintah harus memastikan bahwa stimulus adalah jalan menuju pemulihan yang berkelanjutan, bukan hanya lampu merah yang cepat.

