Puisi-puisi Ravi Hidayat
KEPADA SANG
Tuhan, di mana letak nikmat damai yang kau dekap untukku?
Tuhan, di setiap tadahan naunganku dan di setiap ringkikan tangisku, aku hanya ingin “memelukmu!”
Tuhan, pantaskah tubuh kotorku bersimpuh di hadapanmu?
Tuhan, saat ini tubuhku ringkih tak bertopang, di babat habis oleh hambamu yang berselimut kata “suci”
Tuhan, aku hanya ingin mencintaimu dalam diam.
SASARAN SI PEMBIDIK
Berlayar sudah kapal itu beranjak ke utara, sesaat setelah netra ini mengedar ter arah pada daksa itu.
Ia menggonggong keras bak lolongan angin yang mengetuk telinga.
Seolah ingin di bidik serupa papan sasaran yang sedang ditargetkan si penunggang kuda.
Sebegitu tenang pandangan netranya seperti mata air yang dilahirkan oleh pegunungan himalaya.
Di saat yang lain berdiri tegak berjajar dengan barisan yang ada.
Tetapi lihat dia, tetap menjadi nyala lilin yang selalu tegar di kala malam yang sedang merajai- nya.
Terus aku beritakan pada orang-orang yang ku awalkan tentang diriku yang sedang menelisik indahnya daksa itu.
BERDANSA RIANG DALAM REDAM
Serupa bayangan tubuh di kala cahaya itu tertahan oleh raga. Terus diabaikan tanpa adanya arah untuk menujunya.
Siapa yang tau, tegarnya ia gagah tak bertopang.
Dibuatnya berbagai rangkai alur damai yang di mana hanya hujan yang mengerti gemuruhnya guntur itu.
Bagai risaunya rel kereta yang dapat diredam oleh langkah yang terus berlalu lalang. Tiada satu pun mengerti ringkikan kuda itu terkecuali bersama si penunggangnya.
Tenangnya ia bak hembusan angin yang melenggang bebas. Betapa lembutnya ia yang berpegang pada ringkih itu.
Meski langkahnya tak selalu tegak ia tetap menjadi camar yang akan terbang menantang di tengah riuh nya badai.

