Puisi-puisi Aldi Muheldi
MEMIKIRKAN HUJAN DI KOTA JOGJA (1)
Ada sumur-sumur yang mungkin sudah menampakkan dasarnya
Sebab matahari menghisap segalanya ke langit.
Beberapa selokan terdiam, sebab kemarau panjang telah bertengger di Kota Jogja.
Sudah lama sejak gema-gema merayakan kemerdekaan, saat itulah hujan bersimpuh,
Mengalir di antara rumput-rumput, melukiskan kisahnya di ladang-ladang, dan menari di atas trotoar Malioboro.
Aku rindu melirik pada arus selokan-selokan timur yang panjang
Yang airnya berlari menuju entah kemana.
Namun, kini pohon-pohon beringin tak ketakutan gugurkan daunnya kepada angin kemarau
Dan mungkin jatuh di atas lempah tanah dan tersibak dari mata manusia.
Sekarang tak ada lagi orang membawa motor yang basah jas-jas hujannya
Payung-payung yang membela kepala dan gerak langkah-langkahnya
Semua digantung di samping rak sepatunya dan jok motornya.
Juga, tidak ada orang yang berteduh mendekap badannya di depan ruko-ruko Kota Jogja,
menemani dingin sampai hujan berganti beserta gesernya mendung.
Panas mie instan dimakan bersama iringan suara desing lembar-lembar seng
Dia memberi jeritan merindukan tetesan hujan, namun Kota Jogja menunggu izin.
Maka, mie instan dimakan dengan panas siang dan angin kemarau
Walaupun aku tahu hujan adalah peristiwa yang tepat untuk itu.
Aku ingin diterpa hujan di Kota Jogja, dari balik jas hujanku yang biasa saja
Merayap di wajahku saat lampu merah menyala di simpang empat Tugu Pal Putih Kota Jogja,
Menyaksikan jalan yang berkilau, menikmati tetesan air hujan dengan rasa sejuk itu.
Ini adalah kata-kata, serta do’a yang membumi dan terbang merangkak ke langit Yang maha kuasa, menanti balasan yang akan menciptakan kejadian, seperti hujan di Kota Jogja.
Pogung Lor, 29 September 2023
PUJAAN UNTUK WARISAN BUDAYA: CANDI MUARO JAMBI
Memandang gugus-gugus batu, membentuk bait-bait yang tersusun di atas tilam hijau
dilindungi belukar pohon, saling berpeluk meneduhkan tapak kaki para pelawat.
Lembaran-lembaran tersebar luas dari ujung pandang binar mata menyemat selarung yang menyatu pada rongga hati dan benak
Warna terang oranye bangunanmu tegak berdiri bersamaan dengan terpaan daun-daun pohon sialang yang menawarkan diri daunnya dihembus angin
Tak ada ruang yang mesti kau tak singgahi di Candi Muaro Jambi, sebab kau sudah jatuh dalam situs karunia Tuhan.
Bahkan gundukan-gundukan yang dipijak menyatakan sejarah yang terkubur dalam cerita “Ada jejak naungan manusia maju di telapak kakimu”
Para pelawat: jatuh terpikat menafsir dalam diam setiap hembusan sejarah melalui bisik angin
“Adab berbicara pada cahaya dalam keteduhan, pusat ilmu dan cinta tumbuh gemilang
di dalam situs Muaro Jambi, Buddha bersemayam, menari di aliran waktu bersembunyi di balik cinta sejarah”
“Maka mana lagi kalam yang tidak mampu kau tulis di atas perada?” kataku, di atas tilam hijau yang melangit dalam pelukan bumi.
Namun, luasnya dirimu terkubur juga tubuh yang jauh: puing-puing yang terbungkus penat, didekati jahat oleh mesin berat, Stockpile batubara, mirip naga terkubur, mengancam keabadian mereka pada kegemilangan masa lampau.
Ini lah surat cinta Seorang Penyair yang bersimpuh pada kuasa, untuk warisan budaya hingga akhir masa.
18 Oktober 2023
DI ATAS KASURNYA TERBARING KATA-KATA
Pada kerasnya tumpang tindih beban usia.
Setiap nafas juga adalah kumpulan do’a
Benih gelisah sudah rindang tumbuh menjalar di sepanjang peristiwa
Puas hati menangis hari dengan tubuh membatu pada ruangnya
pada setiap persimpangan, tubuh selalu menemui ketajaman dunia
lalu mengangalah luka-luka di dada, membuat angin pilu masuk
mengunjungi perih nadi-nadinya
Sekarang kedewasaan memaksamu menipu hari
Dalam kata-kata penyejuk dalam sujud berisi do’a
Penulis: Aldi Muheldi seorang manusia biasa saja
yang berhasil lulus perkuliahan Magisternya
