Puisi-Puisi Anik Hailaqhari
Anik Hailaqhari adalah penyair asal Kerinci, Jambi, kelahiran 2007 dan alumnus SMA Negeri 1 Sungai Penuh. Ia menulis puisi sembari mempelajari sains dan matematika serta pernah mengikuti FLS2N Monolog tingkat Provinsi Jambi pada 2024. Karyanya telah dimuat di Suara USU, Pronesiata, Nyimpang, sejumlah media lain, dan antologi bersama, serta ia dapat dijumpai melalui Instagram @hailaqhari.
Tubuh 1945
pagi itu tubuhku kehilangan nasi
Jepang menggantung matahari
di kancing seragamnya
ayah berangkat sebagai romusha
dan pulang sebagai nama
yang dipelankan ibu
di dada
Sumpah Pemuda masih ngontrak
tiga petak:
tanah / bangsa / bahasa
Rengasdengklok menendang kantuk
Pegangsaan membaca dua kalimat
Indonesia berdiri
dengan sandal tak sepasang
Belanda datang lagi
Surabaya memaki
Ambarawa menggulung lengan
Bandung membakar ruang tamu
tubuh ini berpindah
dari parit ke meja perundingan
tahun 1949
dunia terlambat mengucapkan
: Indonesia
ibu menangis di dapur
teringat ayah
yang tak sempat tahu
rumah ini akhirnya Kembali
meski atapnya bocor
dan kuncinya masih
kami genggam bergantian
(2026)
Perjamuan Terakhir
03.30 //
pagi masih mencari sebelah sepatunya
ketika pintu digedor
dan jam dinding pura-pura mati
di meja
teh menumbuhkan kulit tipis
telur rebus menyimpan matahari kecil
yang tak sempat dibelah
beberapa ayah pergi
dengan kancing salah lubang
bayangannya tertinggal
duduk di kursi makan
seorang ajudan keluar
membawa takut di saku kiri
di saku kanan
tugas berdetak seperti arloji
Lubang Buaya //
tujuh tubuh turun
ke sumur dua belas meter
tali timba memalingkan muka
tanah mengunyah pelan
tetapi nama-nama mereka
terbang keluar
seperti burung yang lupa mati
Yogyakarta //
dua prajurit menyusul sunyi
sebuah rumah menanak nasi
untuk orang yang tak pulang
di halaman
motor tua batuk sekali
lalu diam
seolah tahu terlalu banyak
5 Oktober //
bunga diletakkan satu-satu
seragam dilipat
kursi makan dipelihara kosong
setiap Oktober
kalender membuka luka yang sama
dan keluarga-keluarga itu
menyendok kehilangan
dari piring yang dingin
tak seorang pun kenyang
tak seorang pun benar-benar
meninggalkan meja
(2026)
Tan Malaka: Kasih atau Bangsa
kau bertanya: aku atau Indonesia?
aku menatap tanganmu
hangat / kecil / pantas kugenggam
tetapi di luar / negeri ini
batuk darah di atas peta
aku mencintaimu
maka jangan tunggu aku pulang
revolusi bukan istri yang sabar:
ia menendang pintu
mematikan lampu
lalu menyuruhku berangkat
dengan nama palsu / dada asli
kelak / bila merdeka benar-benar datang
mungkin kau hanya menemukan
sepatuku penuh tanah
dan tanganmu terlambat menggenggam
(2026)
Bung Hatta
dari Bukittinggi
ia berangkat membawa buku
dan sebuah republik
yang belum masuk daftar penumpang
di Belanda
Perhimpunan Indonesia mengeja merdeka
penjara mengambil tubuhnya
kepalanya tetap keluyuran
Boven Digoel dan Banda Neira
menyuguhkan nyamuk / demam / dan sepi
ia membaca sampai malam
kehabisan alasan untuk gelap
17 Agustus 1945
di samping Sukarno
dua tanda tangan menarik Indonesia
keluar dari ranjang penjajahan
di Den Haag
ia menagih kedaulatan
tanpa menjual suara
ia menjadi wakil presiden
lalu mundur
ketika kekuasaan mulai tuli
koperasi dititipkannya kepada rakyat
1980 / ia wafat
kacamatanya tertinggal
masih curiga pada angka-angka negara
(2026)

