Puisi-Puisi Dian Salsabila
GELAGAT MARUK INSAN BENTALA
Alangkah indah semesta di bentala
Berpijak sepasang kaki rapuh di atas mu
Rotasi berputar tiada lelah
Sakit dan letih tak terucap dari mu
Sungguh lengkara bagimu untuk tidak murka
Namun…
Insan agata dengan abilasa nya
Kemarukan seluas bentala terjadi
Bidak catur mulai bergerak memimpin
Gelagat adigung sungguh melekat
Bentala…
Kamu bukanlah amrtaloka yang fana
Namun tanah mu menjadi saksi bisu
Sagara menjadi pembuangan dhamma
Anila tercemar oleh bau mulut tikus
Cakrawala ternodai oleh kabut buram
Sungguh lihai insan merampas harsa
Telinga tuli terjahit rapat
Jeritan tangis terbungkam sia-sia
Merasa acalapati di singgah sana
Kejam nan pahit dirasakan oleh kawula
Bentala…
Engkau karunia Tuhan yang acintya
Dirusak oleh insan yang keji
Tiada kasih sayang dari mereka
Sungguh haru melihat alam mu di sini
Namun kawula turut bahagia melihat bentala
SEPARUH CEMARA
Indah nian cemara yang mekar
Tumbuh bersama enggan berpisah
Layaknya bianglala yang mewarnai hayyat
Namun luka-luka selalu tertutup rapat
Terbungkam mudah dengan keheningan
Ibu…
Engkau yang memikul nirwana andikara
Namun, engkau selalu diam dalam upeksha
Mata yang aswara bagai arutala
Menyimpan luka nan lara di atma
Ayah…
Jari jemari tiada letih menjalin kasih
Demi sepiring nasi engkau tiada lelah
Namun, dengan kemurkaan engkau kembali
Dengan suara lantang mulutmu terbuka
Sungguh layu cemara yang dikara ini
Arah dari ayah yang selalu ku nantikan
Hanyalah bualan sesaat
Nasehat dari ibu yang selalu ingin ku dengar
Hanyalah angan-angan
Tangan kecil ku sungguh lihai menopang cemara yang rapuh
RASA YANG TAK TERUCAP
Wajah tegas dengan senyum manis
Memikat hati kecilku yang sunyi
Sungguh indah parasmu yang menawan
Membawa keberanian di tengah keramaian
Rasanya ingin sekali memutar waktu
Mengenal dekat tentang mu
Tertanam kokoh rasa kagum dihatiku
Tentangmu yang akan abadi dibenakku
Sedetik kita berbicara
Seribu kerinduan tak terucap
Selalu ku nantikan kita berdua
Bersanding lara selamanya

