Puisi-Puisi Faqod faaz
Menghafal Bunyi
aku menghafal bunyi
bukan suara
melainkan cara sesuatu gagal hilang
pintu kos
menutup seperti kalimat patah
sebelum sempat jadi makna
langkah di lorong
terurai jadi serpih
tak kembali utuh
radio tua
menghidupkan ruang tanpa pemilik
seperti doa yang tersasar
bunyi-bunyi itu
tak lewat
ia tinggal
lapis kedua ingatan
dan lupa mungkin
hanya bunyi
yang belum selesai bergetar
Klakson Menjerit
klakson
bukan suara
ia urat kota yang menegang
di sela jam yang kehilangan sabar
asap knalpot
menulis ulang langit rendah
jadi arsip abu yang bergerak
lampu merah
tak melarang
hanya menunda tubuh-tubuh
yang lebih dulu ingin pecah
aku berdiri
di sela bunyi yang gagal jadi bunyi
mencari celah paling sempit
di antara kemungkinan tabrakan
kota
tak mengenal diam
hanya ganti rupa luka
jadi lalu lintas
Tingkat Bertingkat
gedung-gedung
bukan bangunan
melainkan cara vertikal menjauh
lantai demi lantai
menghapus percakapan
sebelum jadi hubungan
lift
ruang singkat
tempat manusia tertinggal dari dirinya sendiri
jendela-jendela
hidup berjalan paralel
tanpa sentuh
kecuali bayang
tangga darurat
tak untuk selamat
hanya pengingat
turun pun bisa rapi sebagai jatuh
kota ini
tak tumbuh ke samping
ia tumbuh menjauh
Hal yang Tak Pulang
di meja makan
ada sendok yang tidak selesai menjadi sendok
ia diam
seperti benda yang lupa fungsinya
ibu tidak memanggil
hanya menyebut nama
yang jatuh pelan di udara dapur
aku belajar
rumah bukan tempat
melainkan jeda
di antara suara yang saling menahan diri
kipas angin berputar
seperti doa yang tidak diarahkan ke siapa-siapa
dan sore
tidak datang
ia hanya menurunkan cahaya
tanpa alasan
hal-hal kecil
tidak pernah pergi
mereka hanya berganti bentuk
menjadi kebiasaan yang tidak disadari
Tanjung Priok, 25 April 2026

