Puisi-puisi Selly N P Manurung.
Selly N P Manurung yang kerap dipanggil Selly. Ketertarikan berkarya dimulai saat mempertanyakan mengapa karya yang melewati makna karya itu sendiri jauh lebih menarik dibanding karya yang maknanya hanya sekedar makna. Jika timbul keberanian mempertanyakan makna, maka beranilah berkarya dan berani pulalah karya itu. Dalam bahasa Belanda Aangenaam, salam kenal.
Sialan si Tuli
Keparat Sialan
Bajingan berkedok pembela
Babi berkaki dua
Bertelinga pendek
Sumbangkah suara kami terdengar?
Atau justru gendang telinga kalian sudah lama pekak
Menggelikankah penampilan kami terlihat?
Atau justru memang hati kalian yang menjijikkan?
Bukankah mulut satu cukup untuk sekali kenyang
Lantas mengapa memperbesar tali pusar ke dalam?
Bukankah dua tangan cukup untuk memberi
Lantas mengapa kau tangani mulut lain yang tak sempat kenyang
Kau perbesar isi perutmu
Kau koyak isi perut rakyatmu
Kau dandani dirimu seindah mungkin
Kau biarkan rakyatmu telanjang
Hilang hilanglah sudah
Mati biar matilah sudah
Biarlah kita saling meliuk badan di dunia yang hancur ini
Kau duduk bersantapkan darah
Kami bersimpuh mengharap setetes darah mu
Seujung Kuku
Dari kanan ke kiri
Dari kiri ke kanan
Jari jempol, telunjuk, tengah itu milik si penguasa
Jari kelingking kalian biarkan tinggal setengah di tangan kami
Lantas satu jari lagi dikemanakan?
Kaki kami utuh, kalian patahkan
Kaki kami patah, kalian injak kembali
Kaki kalian utuh, kami patahkan
Kaki kalian patah, kalian pakai kursi roda
Bukankah semua dimulai dari jari
Lalu berakhir di kaki?
Lantas mengapa sebegitu naifnya seolah ingin berjari dua puluh?
Tidakkah kalian temukan manis madu di sesal?
Ku Jual Isi Kepalaku
Bolehkah kita lagi saling bercumbu mesra di depan retaknya cermin kala malam terakhir yang tersisa?
Tidakkah ada sisa air liur ku di sudut bibirmu kala itu?
Tidakkah ada kegetiran sedikit saja yang menggugah perasaanmu?
Tidakkah ada setetes saja air matamu berlalu kala itu?
Mengapa?
Mengapa begitu mahir membelit lidah
Mengapa begitu manis cecapan itu terdengar
Mengapa dan kali ini mengapa lagi?
Pernah aku bertanya dimana kurangnya diriku
Sekali kau jawab aku terlampau
Mutlakkah kata terlampau yang kau sebut sebagai kata jual itu
Bukankah kala itu kau kembali mengoyak pakaianku yang terakhir
Mengapa kau lacurkan warasmu?
Akalmu berzina dengan kepala
Tragis kala aku dan kepalaku terjual terpisah
Kau pelacur dalam kepalamu sendiri

