Puisi-puisi Joeya Magahve
Demi Skripsi
Si senior gagah itu, dia adalah seorang mahasiswa, mahasiswa yang berkuliah di Universitas Jambi. Pada tahun ini dia sudah semester 14, sudah terlalu lama mengabdi di Universitas yang dia cintai itu.
Setiap malam, bunyi keyboard laptop tak pernah berhenti terdengar dari dalam kamar kos nya. Suara printer yang selalu berulang kali mencetak dikertas HVS ukuran A4.
Hari demi hari terus berganti, kantong matanya sudah sangat menghitam bak mata panda. Mata nya sudah memerah bak mata orang mabuk. Namun yang dia pikirkan hanya skripsi.
Matahari selalu berganti dengan bulan, namun dia tidak juga pernah berganti niat. Hanya skripsi yang ada dipikirannya, “demi skripsi” katanya sambil tertawa patah arang.
Sidang mematikan itu pun tiba. Dia menenteng kertas tebal sambil berjalan gagah ke ruangan yang dingin, gelap, suram, sambil menyerahkan kertas tebal dimeja penentuan.
Dan pada suatu hari, suara orang-orang ramai menggema di balairung. Dia keluar dari dalamnya. Seketika itu, angin menerpa punggungnya, seolah-olah berkata “selamat atas kelulusanmu.”
Aku Rindu
Aku rindu rumahku,
Rindu pada ruang yang dulu memelukku utuh.
Aku rindu kampung halamanku,
Pada tanah basah yang menyimpan jejak langkahku.
Aku rindu orang-orang di sana,
Wajah-wajah ramah dengan tawa sederhana.
Tak pernah lelah aku merindukan suasananya,
Angin senja yang berbisik lembut menyapa jiwa.
Di rumah, di tempat aku dilahirkan,
Ada hangat yang tak tergantikan.
Peluk ibu yang teduh dan tenang,
Suara ayah yang kokoh dan lapang.
Di sini,
Riuh rendah terasa asing dan dingin,
Deru kendaraan berdesing keras,
Kasar, memekakkan dinding batin.
Berbeda dengan desir daun di halaman,
Yang bergetar gemetar digesek angin pelan.
Bunyi cengkerik yang lirih dan jernih,
Mengalun bening, menenangkan perih.
Oh keluargaku…
Namamu kusebut dalam sendu.
Rumah itu tak hanya dinding dan pintu,
Ia adalah rindu yang tak pernah jemu.
Aku merindukan kalian,
Dalam diam yang dalam.
Aku merindukan rumah itu,
Tempat hatiku selalu pulang, meski ragaku terhalang.
Tumpukan Stress
Tumpukan-tumpukan kertas memenuhi meja yang tak lagi rapi, cahaya laptop menyala tanpa lelah. Ketikan muncul lalu berhenti, seperti ragu melanjutkan sesuatu yang belum jelas arahnya. Malam terasa memanjang, ditemani detak jam yang tak pernah benar-benar diam, sementara deadline semakin dekat tanpa suara.
Halaman terbuka, menunggu untuk diselesaikan, tetapi setiap kata justru terasa semakin menjauh. Sesuatu hampir terbentuk, hampir dipahami, dan tepat saat semuanya seakan menemukan arah…
Ingin
Piring itu di tata rapi
Setelah dipakai dan dicuci
Dengan kondisi basah dan licin
Piring itu terlepas, dan terjatuh
Pecah berkeping-keping, sehingga ingin aku buang
Belok Kanan
Di tepi jalan sunyi
Sebuah panah biru menunjuk ke arah kanan,
Hal itu mengingatkanku
Bahwa hidup tak selalu lurus.
Ia tak memaksa, Hanya memberi isyarat:
Arah bisa berubah
Tanpa berbicara sepatah katapun,
Kadang lurus menipu,
Kadang belok menyelamatkan.
Dan aku pun belajar,
Keberanian bukan soal terus melangkah ke depan,
Melainkan berani berbelok
Saat hati tahu itu jalan yang tepat.

