Puisi-Puisi Aula Zaki
Tukang Es Krim
Bayangkan dirimu sedang melangkah,
lalu tersandung marmer sebesar otak manusia dan terjerembap ke kubang penuh jerit juga tangis.
Tubuhmu kaku, membeku,
dengan sorot mata terpaku pada cacing yang menggeliat.
Kau meronta,
berjuang sekuat tenaga untuk keluar hingga seluruh pakaianmu lumat oleh lumpur.
Namun di atas sana, tepat di bibir lubang,
seorang tukang es krim tiga ribuan
sedang sibuk mengaduk bumbu ketoprak
sembari menawarkan jasa Turnitin dengan suara lantang.
Seporsi Nasi Uduk
Manusia bertanya-tanya.
Jikalau dunia begini, maka manusia begitu.
Jikalau dunia begitu, maka manusia begini.
Jadi, manusia di dunia begini begitu?
Manusia begitu di dunia yang begini?
Atau…
Dunia begini karena manusia begitu?
Ohh, nikmatnya seporsi nasi uduk.
Lampu Hijau
Persimpangan jalan itu sepi.
Hanya ada kami berdua yang menunggu waktu sepuluh detik untuk merah berganti hijau.
Sorot matanya sayu, ia melamun kosong di tengah riuh perkelahian dalam pikiran.
Ting…
Lampu merah telah lumat berganti hijau.
Ia memacu kendaraannya, memilih jalur kiri,
sementara aku tetap diam,
menunggu hijau itu kembali berganti merah.
Langit Sehabis Hujan
Izinkan aku menjadi penyair konvensional untuk hari ini, karena beberapa menit yang lalu, langit sedang bertingkah lucu—menangis dan tertawa di waktu yang sama.
Aku menyukai caranya bersandiwara, sebelum akhirnya ia tersenyum lebar dengan sorot matahari yang berkilau layaknya emas.
Jalanan basah, sesak, dan bising.
Berkendara menjadi kegiatan yang cocok, sembari membiarkan diri melamun kosong di tengah riuh perkelahian dalam pikiran.
Melamun kosong atau melamun jorok? Entahlah, aku tak tahu mana istilah yang tepat. Yang jelas, lamunan itu pecah berantakan saat seorang lelaki berkaos hitam menyiulkan suara knalpot kendaraannya.
Dan pada detik itu, aku sudah cukup dewasa hanya untuk sekadar berkata
”Bajingan.”

