Ketika Kebenaran Hanya Mitos yang Kita Percaya
Judul Fim : Bugonia
Rilis : 31 Oktober 2025
Sutradara : Yorgos Lanthimos
Pemeran : Emma Stone; Jesse Plemons; Aidan Delbis; Stavros Halkias; Alicia Silverstone
Durasi : 1 j 59 m
Bugonia adalah film yang bekerja di persimpangan satir sosial, terror psikologis, dan alegori politik, menghadirkan dunia yang absurd namun sangat dekat dengan realitas masyarakat kontemporer. Yorgos Lanthimos, dalam gaya khasnya, merancang sebuah narasi yang tampak sederhana, yakni penculikan seorang CEO farmasi oleh dua pria penganut teori konspirasi, namun sesungguhnya bertumpu pada ketegangan antara realitas objektif dan konstruksi subjektif yang dibentuk oleh ketakutan, trauma, dan permainan kekuasaan.
Film ini bukan hanya menawarkan cerita, melainkan sebuah eksperimen epistemologis tentang bagaimana kebenaran diciptakan dan dihancurkan. Dalam konteks kajian film, Bugonia dapat dibaca sebagai kritik terhadap post-truth era, masa ketika otoritas pengetahuan tidak lagi ditentukan oleh kompetensi atau bukti empiris, melainkan oleh narasi yang paling mudah dipercaya dan paling memuaskan sisi emosional manusia.
Teddy dan Don, dua penculik yang meyakini bahwa Michelle adalah alien yang akan menghancurkan bumi, tidak berangkat dari bukti, melainkan dari trauma personal yang kemudian difiksionalisasi menjadi kebenaran absolut. Mereka menciptakan mitologi mereka sendiri, lengkap dengan istilah teknis, prosedur “pengecekan biologi alien”, dan ritual penyiksaan yang menunjukkan bagaimana keyakinan irasional dapat memperoleh legitimasi internal ketika didukung oleh rasa sakit dan keputusasaan.
Dalam pengertian inilah Bugonia menggemakan teori Michel Foucault mengenai relasi kuasa dan pengetahuan: apa yang dianggap benar selalu berkaitan dengan siapa yang memiliki posisi kuasa untuk mendefinisikannya. Karakter Michelle, CEO farmasi yang diculik, berperan sebagai oposisi epistemologis terhadap dunia konspiratif Teddy. Ia adalah representasi sistem korporasi modern: kalkulatif, terstruktur, dan memiliki otoritas formal.
Namun Lanthimos tidak membiarkan tokohnya sekadar menjadi korban satu dimensi. Melalui ekspresi minimalis, interaksi yang intens, dan sikap ambigu, Michelle menjadi figur yang berada di wilayah liminal antara pelaku dan korban. Di satu sisi, ia adalah manusia biasa yang tersiksa; di sisi lain, ia mewakili institusi yang dalam dunia nyata sering diasosiasikan dengan keserakahan, eksploitasi, dan manipulasi publik.
Ambiguitas ini membuat film menolak memberikan biner moral sederhana: tidak ada tokoh yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah, dan dalam ketegangan itulah film memaksa penontonnya untuk meninjau ulang prasangka tentang “siapa yang sebenarnya menjadi ancaman”.
Secara simbolik, ruang bawah tanah tempat Michelle disekap berfungsi sebagai metafora dari ruang tertutup ideologis.
Dalam ruang tersebut, tidak ada kebenaran yang dapat masuk kecuali yang sudah selaras dengan keyakinan penculik. Ruang itu bekerja seperti echo chamber ekstrem; sebuah ruang gema digital yang kini jamak dalam komunitas daring, di mana informasi yang tidak sesuai otomatis ditolak, dan informasi yang mendukung keyakinan diperkuat.
Dengan demikian, penyiksaan terhadap Michelle tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga epistemologis: ia dipaksa untuk menerima logika dunia yang dibangun berdasarkan ketakutan dan ketidakstabilan psikologis para penculik. Adegan-adegan interogasi dengan sudut kamera yang tidak lazim, framing simetris yang mengganggu, dan pencahayaan kontras membantu memvisualisasikan proses dekonstruksi identitas ini, membuat penonton merasakan tekanan realitas yang dilipatgandakan secara estetis.
Pemilihan gaya visual oleh Robbie Ryan tidak hanya berfungsi secara estetika, tetapi juga menjadi medium naratif. Penggunaan sudut rendah untuk menegaskan dominasi Teddy dan close-up ekstrem pada wajah Michelle mengubah dinamika kekuasaan menjadi pengalaman visual yang intim sekaligus tidak nyaman.
Kamera yang kerap statis dalam adegan kekerasan psikologis, dibandingkan gerakan kamera yang lebih bebas di dunia luar, merefleksikan stagnasi mental para penculik dan keputusasaan ruang tertutup itu. Sementara warna-warna pucat dan tekstur kasar di ruang penyekapan menciptakan kontras kuat dengan dunia korporat Michelle yang bersih dan modern, memperkuat dualitas antara dua sistem kepercayaan yang saling meniadakan.
Dari perspektif teori film dan representasi, Bugonia juga dapat dibaca sebagai studi tentang tubuh dalam arti harfiah maupun politis. Tubuh Michelle menjadi situs pertempuran makna: ia dibaca, ditafsir, dipaksa, “diteliti”, dan diuji. Tubuhnya bukan dilihat sebagai entitas manusia, tetapi sebagai objek, artefak, bahkan bukti kriminal bagi narasi para penculik.
Ketika rambutnya dicukur, tubuhnya dibaluri zat tertentu, atau ketika ia dipaksa mengikuti ritual identifikasi alien, tubuh itu kehilangan otonomi dan direduksi menjadi media bagi paranoia. Hal ini selaras dengan konsep Giorgio Agamben tentang bare life, kehidupan yang direduksi menjadi keberadaan biologis semata tanpa hak politik atau moral.
Michelle dalam ruang bawah tanah menjadi figur bare life, hidup yang bisa diperlakukan tanpa batas karena ia telah dicabut dari tatanan sosial yang melindungi identitasnya. Namun film ini tidak sekadar menggambarkan kekerasan; ia menantang penonton untuk memahami mekanisme yang menciptakan kekerasan itu. Teddy bukan monster satu dimensi: ia adalah produk sistem sosial yang meminggirkan, meremukkan, dan mengkhianati.
Trauma ibunya yang koma setelah mengikuti uji klinis perusahaan Michelle bukan sekadar latar belakang, tetapi juga representasi dari krisis kepercayaan masyarakat terhadap institusi besar. Bugonia tidak menjustifikasi tindakannya, tetapi juga tidak membiarkan penonton merasa nyaman dengan menganggap Teddy sekadar orang gila.
Sebaliknya, film ini mengangkat pertanyaan: berapa banyak pria seperti Teddy yang terbentuk oleh kekecewaan, kemarahan sosial, dan ketidakmampuan menemukan tempat di dunia modern yang semakin tidak manusiawi? Pertanyaan itu menjadi inti kritik sosial film ini, bahwa konspirasi tumbuh bukan hanya dari kebodohan, tetapi dari luka.
Emma Stone memberikan performa yang bekerja pada dua frekuensi sekaligus: kekuatan korporat dan kerentanan manusia. Ekspresinya yang sering tertahan, mata yang memantulkan ketakutan sekaligus pembacaan situasional, serta perubahan dari sikap tegas menuju fragilitas membuat karakter Michelle bergerak luwes antara simbol ideologis dan individu yang sedang bertahan hidup.
Jesse Plemons menghadirkan Teddy sebagai figur fanatik yang tidak pernah berteriak untuk menunjukkan kegilaannya; kegilaannya justru hadir sebagai keyakinan tenang yang sangat berbahaya. Ketika dua tokoh ini berada dalam satu ruang, dinamika mereka tidak hanya berupa konflik ideologi tetapi juga performatif, berupa pertukaran pandang, jeda, tarikan napas yang menjadi panggung psikologis intens.
Jika dilihat dari sisi struktur, Bugonia menggunakan pola sirkular yang terputus-putus, mengulang motif interogasi dan penyiksaan sebagai cara untuk menunjukkan stagnasi psikologis. Ini mungkin terasa repetitif, tetapi dalam kerangka akademis, repetisi tersebut berfungsi sebagai refleksi dari komunikasi tertutup yang tidak menghasilkan apa-apa selain kekerasan.
Tidak ada perkembangan ide, tidak ada dialog sungguh-sungguh, hanya pemaksaan narasi. Dengan demikian, film ini menyatakan bahwa kekerasan bukan jalan menuju kebenaran, tetapi jalan menuju kehampaan. Bugonia adalah film yang memaksa penontonnya untuk mengakui bahwa batas antara kebenaran dan delusi bukanlah garis tegas, melainkan hasil negosiasi sosial yang rapuh.
Ia memperlihatkan bagaimana kekuasaan, trauma, dan ideologi dapat menyatu menjadi narasi yang menghancurkan. Film ini tidak memberi jawaban, tidak menawarkan resolusi moral, dan tidak memberikan ruang nyaman. Namun justru dalam ketidaknyamanan itu, ia menjadi karya yang penting secara intelektual: sebuah cermin gelap yang menyingkap sisi paling rentan dari manusia modern, ketika kita lebih percaya pada ketakutan daripada kenyataan, dan ketika keinginan untuk menemukan musuh mengalahkan kemampuan untuk melihat kemanusiaan dalam diri orang lain.
_______
* Pegiat di Forum Diskusi Lintas Ilmu “Sapientiae” 
