25 Tahun Teater AiR: Monofolk Jadi Ruang Belajar dan Cinta yang Baru
Khairul Ni’mah adalah seorang alumnus Sastra Indonesia yang kini bergiat di dunia pendidikan dan teater. Ia berprofesi sebagai guru sekaligus aktif berkarya bersama Teater AiR, Jambi. Menulis, mengajar, dan berteater menjadi ruang belajar tanpa henti baginya—sekaligus jalan untuk terus bertumbuh dan memberi kebermanfaatan, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda.
Di sebuah sore yang hangat di Taman Budaya Jambi, suara tawa dan langkah tergesa memenuhi ruang latihan. Dari sudut panggung hingga balik layar, semua sibuk namun bahagia. Di sanalah Teater AiR kembali menemukan napasnya lewat pementasan Monofolk, sebuah pertunjukan monolog yang menghidupkan kembali sepuluh cerita rakyat dari berbagai kabupaten di Provinsi Jambi.
Selama dua hari, dari 10 hingga 11 Oktober 2025, ruang Teater Arena nyaris tak pernah sepi. Penonton datang silih berganti, seolah ikut merasakan energi yang mengalir dari atas panggung. Tapi di balik sorot lampu itu, ada cerita lain — tentang bagaimana sekelompok orang belajar, bekerja, dan tumbuh bersama dengan cinta yang sederhana namun tulus.
Rumah yang Bernama Teater AiR
Bagi mereka, teater bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah rumah. Sebuah ruang di mana orang-orang datang bukan untuk bersaing, melainkan untuk berbagi. Sudah 25 tahun Teater AiR berdiri sejak tahun 2000 dan semangat itu tak pernah pudar.
Di bawah bimbingan E.M. Yogiswara sebagai pendiri dan pengawas, serta Titas Suwanda (Ketua) dan Oky Akbar (Sekretaris), komunitas ini terus menuntun generasi muda yang haus akan pengalaman. Mereka datang dari latar belakang berbeda, tak semuanya berlatar pendidikan teater, namun disatukan oleh satu hal: cinta pada proses dan seni pertunjukan.
“Komunitas ini seperti rumah belajar,” ucap Titas suatu kali.
Rumah di mana setiap orang punya tempat untuk salah, tumbuh, dan mencoba lagi.
10 Pasang, 10 Cerita, 1 Tujuan
Dalam Monofolk, ada 10 aktor dan 10 sutradara yang saling belajar dan bertumbuh bersama.
Sebagian baru pertama kali naik panggung seorang diri, sebagian lagi baru merasakan tanggung jawab menyutradarai. Namun di sanalah mereka menemukan makna: bahwa belajar tidak harus dari buku, tetapi dari keberanian untuk mencoba.
Nabila Agustina, aktor dalam naskah Suamiku, Kambing, menulis di media sosial,
“Saya terharu dan bangga bisa ikut di Monofolk. Berproses bersama Teater AiR rasanya seperti menemukan keluarga baru.”
Fauzal Akhli, pemeran Rajo Mudo, merasa pementasan ini memberinya ruang untuk memahami kembali siapa dirinya.
“Membawakan monolog dari cerita rakyat itu menantang. Tapi lewat tantangan itu saya belajar mengenal akar budaya sendiri.”
Sementara Khairul Ni’mah, sutradara muda Suamiku, Kambing, mengaku banyak belajar tentang cara bercerita.
“Naskah ini bicara tentang perempuan yang melawan sistem sosial yang mengekangnya. Saya ingin cerita ini tidak hanya ditonton, tapi juga dirasakan. Rasanya luar biasa bisa menghidupkan kisah yang sejujurnya dekat dengan kehidupan kita hari ini.”
Cerita yang Menyala Lagi
Selama sebulan penuh dari September hingga Oktober, proses latihan berlangsung intens. Para sutradara menafsirkan ulang cerita rakyat menjadi pertunjukan yang relevan: tentang keberanian, pengkhianatan, perjuangan, kesehatan mental, hingga cinta yang tak sampai.
Aldi Muheldi, sutradara Nenek Puti, mengingat masa-masa ia berjuang memahami naskahnya.
“Saya sempat bingung, tapi lewat diskusi dan bimbingan dari para senior, semuanya jadi jelas. Akhirnya saya bisa melihat naskah itu bukan hanya sebagai teks, tapi sebagai kehidupan.”
Belajar dari Balik Panggung
Bagi tim tata rias, pengalaman di Monofolk adalah cara lain untuk ikut bercerita.
Sania, Penanggung Jawab Tata Rias, berbagi kisah bersama timnya, Dhea dan Isra.
“Melukis wajah aktor itu seperti menulis puisi. Kami mencoba menampilkan perasaan karakter lewat warna dan garis di wajah. Dari situ kami belajar banyak, bukan hanya soal teknik, tapi juga tentang memahami manusia.”
Dari sisi artistik, Ulhak, manajer panggung, juga punya cerita sendiri.
“Setelah satu pementasan selesai, kami langsung bergegas menyiapkan setting berikutnya. Kadang harus berlari ke sana kemari, tapi rasanya seru. Ada semangat yang tumbuh di tengah kelelahan itu — kami seperti mesin yang digerakkan oleh rasa kebersamaan.”
Penonton yang Tak Pernah Sepi
Keberhasilan Monofolk bukan hanya dari apa yang terjadi di atas panggung, tetapi juga dari tangan-tangan yang bekerja di balik layar. Salah satunya Gesang, yang dengan semangat tanpa henti bersama tim publikasinya terus menyebarkan informasi dan undangan ke berbagai kalangan.
“Kami hanya ingin orang tahu bahwa teater di Jambi hidup, dan layak ditonton,” katanya sederhana.
Hasilnya terasa nyata, setiap sesi pertunjukan selalu penuh, ruang arena selalu hidup oleh tawa, tepuk tangan, dan decak kagum penonton yang datang dari berbagai daerah.
Cinta yang Sederhana, Tapi Menguatkan
Ada juga peran yang sering terlupakan tapi tak kalah penting: bagian konsumsi.
Wasniah dan Dini memastikan semua yang bekerja tetap kuat dengan hidangan hangat dan senyum yang tulus.
“Kami tidak banyak bicara di panggung, tapi kami ingin mereka semua tetap berenergi,” ujar Wasniah sambil tertawa kecil.
Semua ini tak akan berjalan tanpa kerja sama tim proposal dan koordinasi dari Ketua, Sekretaris, Agung, dan Ridho, yang memastikan seluruh ide dan kebutuhan produksi berjalan lancar.
Mereka semua adalah bagian dari denyut yang membuat Teater AiR tetap hidup — dari panggung, dapur, meja rias, hingga kursi penonton.
Air yang Terus Mengalir
Bagi Teater AiR, Monofolk bukan titik akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang.
Selepas pementasan ini, mereka sudah bersiap dengan karya berikutnya: pementasan tunggal bertajuk Diskusi Setan yang akan disutradarai oleh Rani Iswari, anggota muda yang telah lama tumbuh di komunitas ini.
Dan seperti namanya, AiR, komunitas ini akan terus mengalir. Kadang deras, kadang tenang, tapi tak pernah berhenti. Karena di setiap riaknya, selalu ada kehidupan, kerja keras, dan cinta yang membuat semuanya terasa nyata.
“Sehat dan panjang umur untuk semua manusia di Teater AiR,” tulis salah satu anggota di akhir catatan produksinya.
“Karena selama masih ada yang mau bercerita, teater akan tetap hidup.”
Monofolk adalah kisah tentang kebersamaan, bukan hanya di atas panggung, tapi di setiap langkah prosesnya. Dari tangan-tangan yang bekerja diam-diam, dari tawa di balik layar, dari semangat yang tak pernah padam — semuanya mengalir, seperti air yang tak pernah berhenti mencari jalannya.
Untuk 10 Penulis, 10 Sutradara, dan 10 Aktor. Terima kasih untuk semua cerita. Semoga selalu meriak ke seluruh penjuru.
Sebuah Catatan Kecil dari Penulis
Tak ada maksud besar dalam tulisan ini. Hanya sebaris ucapan terima kasih dari seseorang yang berbahagia karena menjadi bagian kecil dari keluarga yang bernama AiR. Di saat rumah-rumah lain kehilangan pintunya, dan keheningan menjadi teman paling setia, AiR adalah rumah tempat segala peluh menetes tanpa dihakimi, tempat suara yang tertahan menemukan bentuknya di atas panggung, tempat luka dan tawa duduk berdampingan dalam cahaya lampu yang lembut. Ketika dunia di luar terasa sesak oleh kepalsuan dan kebusukan kata, di ruang kecil yang bernama teater ini, manusia kembali menjadi dirinya sendiri-rapuh, tapi nyata. Mereka belajar mencintai dengan cara yang sederhana: melalui gerak, dialog, dan keberanian untuk jujur. Di sanalah penulis berdiri tidak sebagai siapa-siapa, hanya seseorang yang beruntung bisa menyaksikan bagaimana seni mengubah kelelahan menjadi kekuatan, dan kebersamaan menjadi doa yang terus mengalir. AiR adalah rumah yang tak berhenti mengalir. Ia menenangkan yang lelah, memeluk yang patah, dan terus membawa kisah kecil manusia ke tempat yang lebih terang. Dan kini, setelah semua tirai ditutup, penulis hanya ingin berbisik pelan: Terima kasih, Teater AiR. Karena di tengah dunia yang kian bising dan palsu, kalian telah menunjukkan bahwa kejujuran di panggung masih bisa menyelamatkan manusia.

