PINTU RUMAH LARIK TERAKHIR
Regina Dara
Aku Dara, anak Kayu Aro jago rebahan. Aku memiliki sahabat bernama Agustian dan Rapiah. Tiga bulan pertama di kelas kami tak pernah akur. Sampai bu Rini memberikan tugas kelompok berupa video tentang dokumentasi budaya Kerinci dan kami menjadi satu kelompok.
“Sekelompok dengan kalian berdua? Mati aku,” kata Rapiah.
Agustian tiba-tiba mengangkat tangan.
“Ke rumah nenek ku saja di Siulak. Ada rumah larik asli. Usianya sudah seratus tahun lebih!”
Singkat cerita, kami pun bersepakat dengan saran Agustian. Perjalanan kami ke rumah larik hampir dua jam lebih. Rumah itu lumayan besar dengan tiang dua belas dari kayu tembesu, sembilan belas anak tangga, atap ijuk, anyaman tikar di bagian depan, serta di dalamnya penuh dengan kayu tua dan kemenyan.
Kedatangan kami disambut baik oleh Neneknya Agustian, Nek Pintak Ulih. Umurnya sudah 20 tahun dan giginya tinggal dua.
“Akhirnya ada anak muda yang mau ke sini. Mari masuk, rumah ini memang menunggu kalian,” sambut Nek Pintak Ulih.
Kami menghabiskan tiga hari disana. Hari pertama, Nek Pintak Ulih mengajarkan kami cara menganyam tikar dari daun pandan. Hari kedua, Agustian mengajarkan kami manjau, cara memanggil hujan dengan pantun. Benar saja, hujan turun deras malamnya.
Hari ketiga, nek Pintak Ulih cerita tentang Tambo Kerinci, tentang depati, tentang kenduri Sko, tentang mengapa rumah larik harus Sembilan tangga.
“Tangga ini untuk naik ke adat, bukan untuk sombong,” kata Nek Ulih sambil mengelus tiang.
Malam terakhir nenek memasak gulai daun ubi dan pindang.
“Nenek titip, ya. Jaga rumah ini dan adanya. Jangan sampai dijual orang,” bisik nek Ulih sambil memegang tangan kami bertiga.
“Iya, Nek. Kami berjanji,” balas kami sambil tertawa.
Dua minggu berlalu dengan cepat. Hari itu, kabar buruk sampai ke sekolah kami. Saat bel pulang sekolah berbunyi, salah satu pegawai tata usaha sekolah masuk.
“Anak-anak, innalillahi. Nek Ulih dari Siulak meninggal dunia tiga hari yang lalu. Jasadnya ditemukan di dalam rumah Larik.”
Mendengar kabar meninggalnya Nek Ulih, Agustian langsung pingsan di kelas. Seminggu ia tak masuk sekolah. Saat sudah kembali bersekolah matanya bengkak.
“Om ku ingin menjual rumah larik itu seharga lima puluh juta, karena tak ada yang yang ingin merawat, dan lahannya akan dijadikan kebun kopi,” katanya.
Tiga hari sebelum pengumpulan tugas, folder video kami masih kosong. Melihat itu aku aku marah.
“Rapiah! Kita sudah tiga hari rekaman. Di mana datanya?!”
“Aku hapus! Kenapa? Karena dua minggu lagi aku akan pindah ke Jambi. Bapakku mutasi! Jika video itu jadi, aku makin tidak rela untuk meninggalkan Kerinci!” balas Rapiah marah.
Suasana menjadi hening. Agustian tiba-tiba berdiri.
“Jadi persahabatan kita juga kamu hapus?” tanya Agustin kecewa.
Rapiah berlari keluar. Tim kami resmi bubar.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Jam sebelas malam aku menghubungi Agustian.
“Ke Siulak, yok! Untuk terakhir kali.”
“Oke,” balas Agustian singkat.
Jam lima pagi kami berangkat. Suasana masih gelap, dingin, dan gerimis turun. Sampai di lokasi, kami melihat kondisi rumah larik yang kosong berdebu. Di dinding ada tulisan tangan nek Ulih. Anak cucu, jaga rumah ini, jaga cerita ini. Jangan jual ingatan.
“Kita gagal, Dar. Adat, rumah, semuanya gagal,” Agustin menangis.
Tiba-tiba sorot ada cahaya senter membelah kegelapan. Rapiah muncul dengan tubuh yang basah kuyup sambil membopong ransel.
“Aku tidak menghapusnya. Aku hanya menyalinnya ke harddisk. Aku berbohong soal pindah. Aku menolaknya karena aku tak ingin menyesal seumur hidup,” jelas Rapiah.
Kami bertiga akhirnya duduk di atas tikar dan membuka laptop. Meski tidak ada listrik, kami mengedit video diiring tawa dan haru.
Video itu kami beri judul “Pintu Rumah Larik Terakhir. Rekaman yang menampilkan Nek Pintah Ulih menganyam tikar sambil berpantun dalam Kerinci, Agustian yang sedang menjelaskan filosofi sembilan tangga, serta Rapiah yang awalnya meledek, tetapi berujung memeluk Nek Ulih dengan erat, sambil berbisik, “Terima kasih, Nek.”
Satu bulan kemudian, pengumuman lomba video budaya Kerinci akhirnya keluar. Siapa sangka, kami berhasil meraih Juara 1 tingkat Provinsi Jambi. Hadiahnya bukan berupa uang, melainkan surat resmi dari Dinas Kebudayaan dan Bupati. Rumah Larik milik Nenek Ulih dibeli oleh Pemerintah Daerah untuk dijadikan museum mini, dengan Agustian Ramadan sebagai pengelolanya.
Hari peresmian tiba. Seluruh warga desa dan siswa satu sekolah hadir memenuhi lokasi. Kami bertiga mendapat kehormatan untuk memotong pita peresmian. Di dalam Rumah Larik, kini terpajang foto kami bertiga.
“Kamu hebat, nenekmu pasti bangga,” bisik Pak Camat pelan kepada Agustian.
Dengan langkah gemetar, Agustian maju ke depan mik.
“Assalamu’alaikum. Saya Agustian. Rumah Larik ini dulu milik nenek saya, Nenek Ulih. Awalnya kami ke sini hanya untuk menyelesaikan tugas sekolah, tetapi sekarang, kitalah yang ditugaskan untuk terus menjaga dan mengingat budaya ini.”
Acara berlanjut saat MC memanggil Rapiah ke depan.
“Selanjutnya, Ananda Rapiah, yang rela menolak pindah demi kelestarian budaya!”
Dengan langkah yang mantap dan senyuman lebar, Rapiah melangkah ke depan mik.
“Saya tidak jadi pindah, Pak, Bu, karena PR saya di Kerinci belum selesai!” ucap Rapiah.
Tepuk tangan gemuruh dari seluruh warga sekolah seketika membahana.
Kini, kehidupan kami berjalan dengan peran masing-masing. Setiap pulang sekolah, aku selalu pergi ke museum untuk mengedit konten video tentang perkembangan Museum Rumah Larik. Agustian bertindak sebagai juru kunci, yang saban hari telaten mengajari anak-anak SD dan SMP cara manjau serta menganyam tikar dari daun pandan. Sementara itu, setiap hari Jumat, Rapiah selalu memboyong teman-teman sekelasnya berkunjung ke museum. Jika ada yang berani mengejek atau malas, Rapiah akan menyemprotnya.
“Kamu duduk di tanah Kerinci tapi tidak tahu budayanya? Malu!”
Dan setiap hari Sabtu, di atas tikar yang terbentang di teras Rumah Larik, anak-anak SMP dan SMA selalu berkumpul untuk belajar budaya secara gratis.
TAMAT
Tentang Penulis: Regina Dara adalah murid SMAN 7 Kerinci.
