Perempuan Berani Bersuara: Kritik atas Ketidakadilan Gender dalam Novel Mata Raisa
Oleh: Saskia Nur Hafizah
Setelah membaca novel Mata Raisa karya Abidah El Khalieqy, ada satu hal yang cukup membuat saya tertarik, yaitu cara pengarang menggambarkan Raisa sebagai seorang Perempuan yang berpendidikan dan mempunyai pemikiran sendiri. Raisa bukan hanya digambarkan sebagai perempuan yang menjalani kehidupannya, tetapi juga sebagai seseorang penulis yang berani membicarakan persoalan perempuan. Menurut saya. hal ini yang membuat cerita Raisa tidak hanya tentang dirinya sendiri. Ia seperti menjadi tempat bagi perempuan lain untuk menyampaikan persoalan yang mungkin selama ini sulit mereka sampaikan.
Raisa sendiri mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup baik. Ia pernah bersekolah di pondok pesantren modern dan kemudian melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Ia juga berasal dari keluarga yang mempunyai latar belakang pendidikan. Dari yang saya pahami, kehidupan Raisa cukup berbeda dengan perempuan-perempuan yang ia ceritakan melalui karya-karyanya. Raisa mempunyai kesempatan untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan, sedangkan banyak perempuan lain diluaran sana yang justru tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Menurut saya, perbedaan ini menarik karena Raisa tidak menggunakan pendidikan yang ia punya hanya untuk kepentingannya sendiri.
Justru Pendidikan yang dimiliki Raisa membuatnya lebih peka melihat keadaan perempuan di luaran sana. Ia kemudian menuangkan pemikirannya melalui tulisan. Bagi saya, di sinilah peran Raisa sebagai penulis menjadi penting. Ia tidak hanya menulis untuk menghasilkan sebuah karya, tetapi juga membawa persoalan perempuan ke dalam tulisannya. Perempuan yang tidak memiliki kesempatan untuk berbicara seakan mendapatkan ruang melalui tulisan Raisa.
Saya melihat perjuangan Raisa bukan hanya tentang perempuan yang ingin mendapatkan pendidikan. Jika hanya membahas pendidikan, menurut saya maknanya akan menjadi terlalu sederhana. Persoalan yang lebih besar adalah tentang hak perempuan untuk menggunakan pendidikan yang sudah dimilikinya. Seseorang perempuan bisa saja mendapatkan pendidikan tinggi, tetapi kalau setelah itu ia tetap dianggap tidak boleh berpendapat, berkerja, atau menentukan pilihan sendiri, menurut saya persoalannya belum selesai.
Hal tersebut terlihat dari persoalan mengenai perempuan sebagai istri. Dalam cerita yang dibahas Raisa, ada perempuan yang merasa kehidupannya terlalu dibatasi oleh pekerjaan rumah tangga. Seorang istri seolah-olah dianggap memang harus mengurus rumah, semantara suami dapat lebih bebas melakukan kegiatan lain. Menurut saya, yang menjadi masalahnya bukan pekerjaan rumah tangganya. Pekerjaan rumah tetap perlu dilakukan, Yang saya persoalkan adalah ketika pekerjaan tersebut dianggap sebagai kewajiban perempuan hanya karena ia perempuan.
Saya bisa memahami kalau seorang istri merasa tidak adil ketika seluruh pekerjaan rumah dibebankan kepadanya, semantara suaminya bisa bersantai atau melakukan kegiatan lain. Apalagi ketika perempuan tersebut memiliki Pendidikan, kemampuan, dan keinginan untuk melakukan sesuatu diluar rumah. Menurut saya, menjadi istri tidak seharusnya membuat seorang perempuan kehilangan pemikirannya keinginannya sendiri.
Dari persoalan tersebut, saya melihat kritik yang ingin disampaikan melalui perjuangan Raisa. Pendidikan dan pekerjaan bukan sesuatu yang hanya pantas dimiliki laki-laki. Perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan dan menggunakan ilmu yang dimilikinya. Begitu juga dengan pekerjaan. Kalau seseorang perempuan ingin bekerja dan mempunyai kemampuan untuk itu, menurut saya tidak seharusnya langsung dianggap sebagai perempuan yang melupakan keluarganya.
Namun, saya juga tidak melihat perjuangan Raisa sebagai usaha untuk membuat perempuan malawan atau menggantikan posisi laki-laki. Menurut saya, bukan itu persoalannya. Yang diperjuangkan adalah kesempatan yang lebih adil. Perempuan tetap bisa menjadi istri, tetapi pada saat yang sama ia juga mempunyai hak untuk belajar, berkerja, berpikir menghasilkan sesuatu. Begitu juga laki-laki tetap dapat menjalankan perannya tanpa harus merasa bahwa ketika perempuan berkembang, kedudukannya menjadi lebih rendah.
Hal yang menarik bagi saya adalah ketika tulisan Raisa mendapat kritikan dari sebagain laki-laki atau suami. Ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan tulisan yang membicarakan persoalan perempuan. Menurut saya, hal ini justru menunjukkan bahwa tulisan Raisa memang menyentuh persoalan yang nyata. Kalau tulisannya tidak berhubungan dengan kehidupan Masyarakat, mungkin tidak akan menimbulkan perdebatan seperti itu.
Saya melihat keberanian Raisa dalam menulis sebagai salah satu bentuk perjuangan. Ia mungkin tidak bisa mengubah kehidupan semua perempuan secara langsung, tetapi ia bisa membuat perempuan berpikir tentang keadaan dirinya sendiri. Misalnya, seorang perempuan yang selama ini hanya menerima keadaan mungkin mulai bertanya, mengapa ia tidak bolehh sekolah lebih tinggi? Mengapa setelah menjadi istri ia tidak boleh berkerja? Mengapa pendapatbperempuan sering dianggap kurang penting? Menuruit saya, pertanyaan-pertanyaan seperti sudah menjadi bagian dari perjuangan.
Di sisi lain, saya juga melihat Raisa tidak hanya memepunyai pembaca yang menentang atau mengkritiknya. Ia mempunyai banyak penggemar dan orang-orang yang datang kepadannya untuk mencari pendapat atau jalan keluar dari masalah mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan dan pemikiran Raisa mempunyai pengaruh terhadap orang lain. Ia bukan hanya dikenal karena menjadi penulils, tetapi juga karena pemikirannya mengenai kehidupan perempuan.
Menurut saya, bagian ini membuat tokoh Raisa terasa lebih kuat. Ia tidak digambarkan sebagai perempuan yang hanya berbicara tentang kebebasan tanpa memiliki pengalaman dan pengetahuan. Ia mempunyai Pendidikan, pengalaman mondok, pengalaman kuliah, dam pergaulan luas. Ia juga merantau ke jogja dan bertemu dengan banyak orang. Dari pengalaman tersebut, Raisa mempunyai banyak hal yang bisa ia lihat dan pikirkan. Kemudian semua itu ia bawa ke dalam karya-karyanya.
Saya sendiri melihat bahwa Pendidikan dalam novel ini mempunyai arti yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya tentang sekolah atau mendapatkan gelar. Pendidikan juga membuat seseorang mempunyai cara berfikir yang lebih luas. Raisa menggunakan Pendidikan dan pengalamannya untuk memahami persoalan perempuan. Karena itu, menurut saya, perempuan yang sudah mendapatkan pendidikan seharusnya tidak dimintai berhenti berfikir hanya karena sudah menikah.
Kalau dikaitkan dengan kehidupan sekarang, persoalan seperti ini menurut saya masih menarik untuk dibicarakan. Perempuan sekarang memang sudah mempunyai lebih banyak kesempatan untuk sekolah dan bekerja. Tetapi dalam beberapa keadaan. perempuan masih bisa mendapatkan anggapan bahwa tugas utamanya hanya berada dirumah. Karena itu, saya merasa persoalan yang dibawa Raisa masih dekat dengan kehidupan perempuan sekarang.
Bagi saya, kekuatan Mata Raisa bukan hanya pada cerita tentang Raisa sebagai seorang perempuan, tetapi pada keberaniannya menggunakan tulisan untuk membicarakan perempuan lain. Raisa mempunyai kesempatan yang mungkin tidak dimiliki oleh semua perempuan, sehingga ia menggunakan kesempatan tersebut untuk menyampaikan suara mereka. Saya melihat hal tersebut sebagai bentuk perjuangan yang cukup kuat.
Setelah membaca novel ini, saya menjadi melihat bahwa perjuangan perempuan tidak selalu harus dilakukan dilakukan dengan cara yang besar. Menulis juga bisa menjadi bentuk perjuangan. Ketika seorang perempuan berani menyampaikan pendapatnya, mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa, dan membela perempuan lain, menurut saya itu juga merupakan bentuk keberanian.
Jadi, menurut saya , Mata Raisa memperlihatkan bahwa perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Pendidikan, pekerjaan, dan pemikiran bukan milik laki-laki saja. Perempuan juga mempunyai hak untuk berkembang dan menghasilkan karya. Menjadi seorang istri juga tidak berarti seorang perempuan harus kehilangan dirinya sendiri. Yang paling penting bukan siapa yang lebih yang lebih tinggi antara laki-laki dan perempuan, tetapi bagaimana keduanya dapat saling menghargai dan memberikan ruang untuk berkembang. Melalui Raisa, saya melihat bahwa suara perempuan memang perlu didengar, terutama ketika suara tersebut berasal dari pengalaman dan pemikiran yang selama ini sering dianggap tidak penting.
Saskia Nur Hafizah merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Jambi. Ia memiliki ketertarikan terhadap dunia sastra, khususnya dalam membaca, memahami. Melalui kegiatan membaca dan menulis, ia berusaha memahami berbagai persoalan kehidupan yang disampaikan melalui karya sastra, termasuk persoalan perempuan, pendidikan, dan ketidakadilan gender. Baginya, karya sastra tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang untuk menyampaikan pemikiran dan merefleksikan kehidupan masyarakat.

