Perempuan yang Selalu Dipaksa Merasa Belum Cukup
Febby Yolanda
Ada kalanya seseorang tidak benar-benar membenci tubuhnya sendiri sampai orang lain membuatnya merasa bahwa tubuh itu tidak layak dibenci. Kesan itulah yang paling lama tertinggal dalam pikiran saya setelah menonton Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan. Dari film ini saya tidak hanya melihat kisah seorang perempuan yang ingin menurunkan berat badan, tetapi melihat bagaimana penilaian orang lain perlahan dapat berubah menjadi suara di dalam kepala seseorang. Dari sana saya mulai bertanya: Mengapa perempuan seolah harus terlihat tertentu terlebih dahulu agar dianggap pantas?
Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan merupakan film Karya Ernest Prakasa yang berpusat pada kehidupan Rara, seorang perempuan yang sejak kecil terbiasa dibandingkan dengan adiknya, Lalu, Rara memiliki kulit lebih gelap, rambut keriting dan tubuh yang lebih besar, sedangkan Lulu tumbuh dengan penampilan yang dianggap lebih sesuai dengan standar kecantikan yang umum. Rara juga menerima komentar mengenai tubuhnya dari lingkungan keluarga dan tempat kerja. Persoalannya menjadi semakin serius ketika atasannya, Kelvin, menilai bahwa kemampuan Rara sebenarnya cukup untuk mendapatkan posisi manajer, tetapi penampilannya dianggap tidak mendukung. Rara kemudian diberi kesempatan untuk mengubah penampilannya dalam waktu satu bulan.
Bagian tersebut membuat saya merasa kesal sekaligus tidak nyaman. Bukan karena Rara ingin mengubah dirinya, sebab merawat tubuh dan memperbaiki penampilan tentu bukan sesuatu yang salah. Yang mengganggu saya adalah alasan di balik perubahan tersebut. Rara tidak sepenuhnya berubah karena ia ingin menjadi lebih sehat atau merasa nyaman dengan dirinya. Ia berubah karena dunia di sekitarnya seperti mengatakan bahwa kemampuan saja belum cukup. Solah-olah kecerdasan seorang perempuan masih harus melewati pemeriksaan penampilan sebelum dianggap layak.
Kalimat Kevin yang pada intinya membandingkan ‘’isi kepala’’ Rara dengan ‘’casing’’ perempuan lain menjadi salah satu gambaran paling menyakitkan dalam film. Rara mempunyai kemampuan dan dinilai pantas secara pekerjaan, tetapi tubuhnya membuat penilaian terhadap dirinya menjadi berbeda. Di titik ini, Imperfect tidak lagi sekedar berbicara tentang berat badan. Film ini berbicara tentang bagaimana standar kecantikan dapat masuk ke ruang yang seharusnya menilai seseorang berdasarkan kemampuan.
Yang lebih menyedihkan adalah Rara sebenarnya tidak sendirian. Ia memiliki Dika yang mencintainya tanpa menjadikan tubuh sebagai syarat, juga Fey yang menjadi sahabatnya. Namun penerimaan dari orang-orang terdekat ternyata tidak otomatis membuat Rara terbebas dari rasa tidak percaya diri. Ketika tuntutan pekerjaan semakin kuat, Rara memilih untuk mengubah dirinya. Ia menjalani diet dengan berolahraga, dan belajar menggunakan makeup, serta mengubah penampilannya. Dalam waktu sekitar satu bulan, perubahan itu membuatnya memperoleh posisi yang diinginkannya.
Awalnya saya pikir, mungkin inilah bagian ketika Rara akhirnya mendapatkan apa yang selama ini ia perjuangkan. Ia menjadi lebih kurus, tampil lebih menarik, dan memperoleh jabatan. Namun semakin jauh cerita berjalan, saya justru merasa bahwa kemenangan Rara terasa seperti kemenangan yang mahal. Ia memang mendapatkan posisi di kantor, tetapi perlahan kehilangan kedekatan dengan orang-orang yang sebelumnya menerimanya. Ia mulai menjaga jarak dari Dika dan Fey, bahkan cara pandangnya terhadap orang lain ikut berubah.
Di sinilah saya merasa film ini menjadi lebih menarik. Rara tidak hanya digambarkan sebagai perempuan yang salah hanya karena ingin menjadi cantik. Yang dikritik adalah ketika keinginan untuk menjadi ‘’lebih baik’’ berubah menjadi kebutuhan untuk memenuhi penilaian orang lain. Perubahan tubuh Rara ternyata tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Ia hanya memindahkan persoalan dari luar tubuh ke dalam dirinya sendiri. Dulu orang lain membuatnya merasa tidak cukup cantik; setelah berubah, ia justru mulai takut kembali menjadi dirinya yang dahulu.
Hubungan Rara dengan Dika semakin memperjelas persoalan tersebut. Dika sejak awal menerima Rara tanpa meminta tubuhnya berubah. Namun penerimaan Dika juga tidak cukup untuk membuat Rara langsung menerima dirinya sendiri. Menurut saya ini justru salah satu hal paling realistis dalam film. Seseorang yang sudah bertahun-tahun merasa tidak cukup tidak akan tiba-tiba sembuh hanya karena ada orang yang berkata bahwa ia cantik. Luka yang berasal dari penilaian sosial membutuhkan proses yang jauh lebih panjang daripada sekedar pujian.
Hal yang sama terlihat dalam hubungan Rara dengan ibunya. Selama ini komentar mengenai tubuh Rara datang dari lingkungan terdekatnya sendiri. Namun ketika konflik mereka semakin terbuka, terlihat bahwa persoalan terebut ternyata tidak sesederhana seorang ibu yang tidak menerima anaknya. Ada luka dan pengalaman mengenai penampilan yang juga dibawa oleh ibunya. Bagi saya, bagian ini membuat persoalan standar kecantikan terasa lebih rumit. Standar tersebut tidak selalu diwariskan melalui niat buruk; kadang-kadang seseorang justru meneruskan tekanan yang pernah diterimanya kepada orang lain. Adegan konfrontasi Rara dengan ibunya menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan bahwa persoalan penampilan telah menjadi luka yang berlapis dalam keluarga.
Saya juga menyukai cara Imperfect menyampaikan persoalan yang cukup berat melalui humor. Film ini tidak terus-menerus membuat penonton berada dalam suasana sedih. Ada banyak karakter dan situasi yang mengundang tawa, termasuk para penghuni kos Dika yang memiliki persoalan dan ketidakpercayaan diri masing-masing. Kehadiran mereka membuat persoalan tentang ‘’tidak sempurna’’ menjadi lebih luas. Bukan hanya Rara yang merasa memiliki kekurangan. Setiap orang mempunyai bagian dari dirinya yang mungkin pernah dianggap tidak sesuai oleh lingkungan.
Di situlah judul Imperfect terasa semakin bermakna. Ketidaksempurnaan bukan hanya milik Rara. Ketidaksempurnaan adalah bagian dari manusia. Ironisnya masyarakat sering membuat manusia sibuk memperbaiki bagian-bagian dirinya yang dianggap salah sampai lupa bertanya apakah ukuran kesempurnaan itu memang miliknya sendiri.
Persoalan tersebut masih terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Standar kecantikan tidak hanya ditemukan dalam percakapan keluarga atau lingkungan kerja, tetapi juga terus muncul melalui media sosial. Kita kerap kali melihat orang dengan kulit lebih cerah, tubuh lebih langsing, wajah lebih simetris, dan pakaian yang menarik, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan diri sendiri. Rara sendiri dapat dibaca sebagai gambaran seseorang yang terus melihat dirinya melalui ukuran yang dibuat orang lain.
Karena itu, setelah menonton film ini, saya tidak merasa bahwa pesan Imperfect adalah ‘’tidak perlu berubah’’. Menurut saya, pesan yang lebih penting justru adalah bahwa perubuhan seharusnya tidak lahir dari kebencian terhadap diri sendiri. Kita boleh ingin menjadi lebih sehat, lebih rapi, lebih percaya diri, atau bahkan memiliki penampilan tertentu. Namun keinginan itu menjadi persoalan ketika kita merasa bahwa tanpa semua itu kita tidak layak dicintai, dihargai atau hanya sekedar mendapatkan kesempatan.
Pada akhirnya, Rara tidak menjadi berharga setelah tubuhnya berubah, ia sudah lebih dulu berharga sebelum perubahan itu terjadi, yang berubah sebenarnya bukan nilai dirinya, melainkan cara orang-orang memandangnya, dan yang lebih menyakitkan cara Rara memandang dirinya sendiri. Mungkin inilah hal yang paling saya bawa setelah film selesai: Perempuan tidak seharusnya terus hidup dengan pertanyaan apakah dirinya sudah cukup cantik, cukup kurus, cukup putih, atau cukup menarik. Sebab, mungkin yang selama ini tidak pernah cukup bukanlah perempuan itu, melainkan tuntutan dunia terhadap perempuan.
Dan jika manusia memang tidak pernah benar-benar sempurna, mungkin yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menjadi sempurna, tetapi bagaimana berhenti membuat orang lain merasa bersalah karena tidak sempurna.
Febby Yolanda, mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Jambi yang gemar membaca, mendengarkan musik, dan menulis karya sastra. Baginya, sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruang untuk merawat perasaan, memahami kehidupan, dan mengabadikan hal-hal yang sulit diungkapkan. Melalui setiap karyanya, ia berusaha memberi kehidupan pada kata-kata dan menemukan makna di balik setiap cerita. Lihat kesehariannya di @fbylndaa

