PERJALANAN YANG HAMPIR BERAKHIR
Minggu pagi adalah waktu yang paling aku sukai. Tidak ada sekolah dan aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Pagi itu, aku berencana pergi ke rumah sahabatku, Salsa. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku, jadi biasanya aku pergi dengan berjalan kaki.
“Bu, aku pergi ke rumah Salsa sebentar, ya,” ucapku pamit.
“Iya, tapi jangan pulang terlalu sore. Hati-hati di jalan,” jawab Ibu.
“Iya, Bu.”
Aku kemudian keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah Salsa. Cuaca pagi itu cukup cerah. Jalanan di sekitar rumahku juga masih terlihat ramai. Ada beberapa orang yang sedang membersihkan halaman dan anak-anak kecil yang sedang bermain.
Aku berjalan dengan santai sambil sesekali melihat ponsel. Karena sudah sering melewati jalan tersebut, aku tidak merasa khawatir sama sekali.
Setelah beberapa menit berjalan, aku mulai memasuki jalan yang lebih sepi. Di sana hanya ada beberapa rumah dan tidak banyak orang yang lewat. Saat sedang berjalan, aku melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di pinggir jalan. Aku tidak terlalu memperhatikannya dan terus berjalan. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara kendaraan dari belakang. Ketika menoleh, ternyata mobil hitam yang tadi kulihat mulai berjalan perlahan ke arahku.
Awalnya aku mengira mobil itu hanya kebetulan menuju jalan yang sama. Aku pun tetap berjalan seperti biasa. Namun, semakin lama mobil tersebut semakin dekat. Perasaanku mulai tidak nyaman. Aku mempercepat langkah. Anehnya, mobil itu juga ikut berjalan lebih cepat. Aku kembali menoleh dan melihat kaca mobil yang cukup gelap. Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalamnya.
“Jangan-jangan aku cuma berpikir yang aneh-aneh,” pikirku.
Aku mencoba menenangkan diri dan terus berjalan menuju jalan yang lebih ramai.
Tiba-tiba kaca mobil terbuka.
“Hei, Nak!”
Aku menoleh sebentar. Seorang laki-laki yang tidak kukenal sedang berbicara kepadaku.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menundukkan kepala dan mempercepat langkah.
“Sebentar, sini dulu!”
Mendengar perkataan itu, aku semakin takut. Aku langsung mengambil ponsel dari saku. Aku ingin menelepon Ibu, tetapi tanganku mulai gemetar. Di depan, aku melihat sebuah warung yang cukup ramai. Tanpa berpikir panjang, aku segera berjalan cepat menuju warung tersebut.
Namun, sebelum aku sampai, terdengar suara pintu mobil dibuka.Aku menoleh dan melihat laki-laki tadi turun dari mobil. Saat itu aku benar-benar panik.Aku langsung berlari menuju warung.
“Pak! Tolong!” teriakku.
Orang-orang yang berada di warung langsung melihat ke arahku. Aku berhenti di dekat mereka sambil mengatur napas.
“Ada apa, Dek?” tanya seorang bapak.
“Ada orang yang mengikuti saya dari tadi,” jawabku dengan suara gemetar.
Bapak tersebut kemudian melihat ke arah jalan. Laki-laki yang tadi mengejarku sudah masuk kembali ke dalam mobil.
“Kamu jangan pergi sendirian dulu. Tunggu keluargamu datang di sini,” kata bapak itu.
Aku mengangguk dan segera menelpon Ibu.
“Bu…” suaraku terdengar bergetar.
“Iya, Naya? Kenapa?”
“Aku takut, Bu. Tadi ada orang yang mengikuti aku.”
Ibu langsung terdengar khawatir.
“Kamu sekarang di mana?”
Aku menjelaskan tempatku berada.
“Jangan ke mana-mana. Tunggu di sana. Ibu segera datang.”
“Iya, Bu.”
Aku menunggu bersama orang-orang di warung. Beberapa menit terasa sangat lama. Aku masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Kalau tadi aku memilih untuk mendekati mobil tersebut, mungkin keadaannya bisa menjadi lebih buruk. Tidak lama kemudian, Ibu datang bersama kakakku. Aku langsung menghampiri mereka.
“Naya, kamu tidak apa-apa?” tanya Ibu sambil memegang tanganku.
Aku menggeleng.
“Aku cuma takut, Bu.”
Ibu kemudian memelukku dan mengatakan bahwa aku sudah melakukan hal yang benar karena memilih pergi ke tempat ramai dan meminta bantuan.
Saat kami hendak pulang, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam melintas di depan warung. Aku langsung mengenalinya.
“Itu mobil yang tadi, Bu!”
Ibu melihat ke arah mobil tersebut. Kakakku juga ikut memperhatikannya. Mobil itu sempat berjalan pelan sebelum akhirnya pergi menjauh.
Aku hanya bisa berdiri di samping Ibu. Jantungku kembali berdebar ketika melihat mobil tersebut.
“Sudah, kita pulang saja,” kata Ibu.
Aku mengangguk.
Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Aku masih memikirkan kejadian tadi. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan duduk di tempat tidur. Aku teringat pesan Ibu sebelum berangkat.
“Hati-hati di jalan.”
Dulu aku sering menganggap pesan itu sebagai sesuatu yang biasa. Namun hari itu aku benar-benar mengerti maksudnya.
Aku kemudian menghubungi Salsa dan mengatakan bahwa aku tidak jadi datang karena ada kejadian yang membuatku takut. Salsa sangat khawatir dan mengatakan bahwa lain kali kami bisa bermain bersama di tempat yang lebih ramai.
Sejak kejadian itu, aku menjadi lebih berhati-hati ketika pergi sendirian. Aku selalu memberi tahu keluarga ke mana aku pergi dan berusaha menghindari jalan yang sepi. Aku juga belajar bahwa ketika berada dalam keadaan yang membuat kita tidak nyaman, kita harus berani meminta pertolongan. Tidak perlu merasa malu atau takut untuk mengatakan bahwa kita sedang membutuhkan bantuan.Kejadian itu memang berlangsung singkat, tetapi akan selalu kuingat.
Hari itu aku pergi dengan perasaan senang karena ingin bermain bersama sahabatku. Namun, aku pulang membawa sebuah pelajaran yang tidak akan pernah kulupakan.
Sekarang, setiap kali Ibu berkata, “Hati-hati di jalan,” aku selalu menjawab dengan sungguh-sungguh.
“Iya, Bu.”
Karena aku tahu, terkadang satu keputusan kecil untuk berhati-hati bisa membuat kita terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan.
TAMAT
Tentang Penulis: Rara Sopia Marsanda adalah murid SMAN 6 Tanjab Timur.
