GELAR MULIA YANG MENJADI LUKA
Sebutan profesor yang sangat mulia telah aku dapatkan sejak aku duduk di bangku SMP kelas sembilan. Kecerdasan yang aku miliki justru membuat mentalku rapuh. Tidak seperti anak-anak lain yang makin pintar makin dihormati dan disanjung. Aku justru mendapat trauma dari kepintaran itu.
Aku Jannah, sang Profesor kelas di SMPN 23 Kerinci, khususnya di kelas sembilan C. Aku dikenal banyak guru karena sering menjawab soal di papan tulis, tetapi tak ada satupun teman yang yang mau mendekat, kecuali Arshinta. Dia satu-satunya teman sekaligus rumah bagiku, tempat aku merasa diterima apa adanya.
Tubuhku mungil, lebih pendek dari anak perempuan lain. Wajahku mungkin tak seindah mereka dan jilbab yang selalu aku gunakan rapi, justru selalu jadi bahan ejekan. Arshinta pun sama denganku, pendiam, lembut, dan selalu jadi sasaran empuk hinaan. Dua anak yang seakan dunia kelas Sembilan C tidak ingin sedikitpun menerimanya.
Tahun 2024, namaku terpampang jelas di papan pengumuman sebagai juara satu umum di sekolah. Piala yang kugenggam terasa berat, bukan karena isinya, melainkan karena sejak hari itu, gelar itu berubah menjadi pisau yang setiap hari menggores hatiku.
“Eh, si Profesor datang!” seru Azzam sambil menatapku sinis.
“Pinter banget sih, caper terus sama guru! Temennya juga sama, diam terus kayak patung!” ucap Anasya sambil tersenyum miring.
Aku menunduk, duduk di kursi depan pojok kiri. Arshinta menggenggam tanganku di bawah meja, tangannya dingin dan gemetar.
“Jannah, tahan ya,” bisi Arshinta. Seolah dia tahu, dia pun ikut terluka hanya karena berdiri di sisi ku.
Pelajaran matematika berjalan hening. Guru menuliskan soal yang sulit di papan tulis, lalu bertanya,
“Siapa yang bisa menjawab?””
Ruangan sangat sunyi, aku mengangkat tangan. Suaraku bergetar, tetapi tetap jelas. Aku menjelaskan setiap langkah dengan hati-hati. Guru tersenyum bangga.
“Benar sekali, Jannah. Luar biasa,” ucap Guru itu sambal tersenyum.
Bel berbunyi, guru melangkah keluar. Baru saja pintu tertutup, terdengar suara keras.
“Plak!”
Satu bola kertas menghantam bahuku dengan sangat keras. Aku menoleh, Anasya tertawa lebar. Matanya menyipit jijik.
“Caper banget sih!”
Lalu hujan kertas pun meluncur dari arah belakang dan samping, melempar tanpa henti ke arahku dan arshinta. Azzam, Anasya, dan teman-teman yang lain mengejek kami dengan perkataan.
“Professor sok tahu!”
“Muka kayak gitu,kok sok pinter!”
“Pendek, jelek, sok asik!”
“Temannya juga sama, aneh banget!”
Kata-kata itu menghantam jauh lebih sakit daripada kertas. Jilbabku hampir terlepas karena lemparan. Arshinta menunduk di sampingku, bahunya bergetar menahan tangis. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya berteman denganku, dan itu sudah cukup untuk membuatnya ikut dibenci. Dadaku sesak, rasanya ingin berteriak.
“Apa salahku? Apa salahnya menjadi pintar?”
Namun, suara itu terperangkap di tenggorokan, tertelan rasa malu yang mereka tanam paksa.
Pulang sekolah, di dalam bus yang penuh sesak, rasanya tak ada tempat untukku. Di belakangku, Ika mulai berbisik cukup keras agar semua mendengar.
“Lihat deh, si Professor. Jilbabnya rapi, tapi mukanya…,” Ika tertawa kecil.
“Pintar doang, nggak punya teman kecuali si pendiam itu.”
Penumpang lain menoleh, menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa aku gambarkan. Wajahku panas, rasanya seperti berdiri telanjang di hadapan semua orang. Arshinta menarik tanganku pelan, mencoba melindungi, akan tetapi,, dia pun sama lemahnya.
Sesampainya di rumah, aku melangkah masuk dengan hati yang terasa berat. Rumah itu ada, namun tak ada tempat di mana aku bisa bercerita. Keluargaku memang tahuaku juara, namun mereka tak pernah bertanya bagaimana rasanya menjadi diriku. Mereka bangga, namun tak ada telinga yang mau mendengar. Aku sendirian. Benar-benar sendirian di tengah keramaian rumahku sendiri.
Aku masuk ke kamar, menutup pintu, lalu mengambil air wudhu. Langkahku pelan menuju sajadah. Saat aku bersujud, saat taka da lagi yang bisa kulihat selain tempatku bersujud. Air mata ku akhirnya tumpah. Tak tertahan lagi. Sepanjang shalat itu, bahuku terguncang isak tangis. Air mata membasahi sajadah, sampai aku sesegukan di hadapan-Nya.
Ya Allah, jika aku tak punya siapa-siapa di dunia ini, setidaknya aku punya engkau dzat yang maha mulia. Tak ada keluarga yang mendengar, taka da teman yang yang tulus selain arshinta. Ya Allah, kuatkanlah aku. Tolong lah aku. Berikan aku jalan keluar. Berikan aku teman yang dimana aku bisa menjadi diri sendiri saat bersamanya, tanpa harus selalu berpura-pura kuat.
Tangis itu menjadi do’a . rasa sakit itu menjadi permohonan yang tulus. Hanya kepada-Nya aku bisa bercerita, hanya kepada-Nya aku bisa menjadi hamba yang lemah tanpa takut di hakimi oleh siapapun.
Keesokan hari nya di jam istirahat, aku dan Arshinta duduk di bangku kayu halaman sekolah kami. Kami menatap pemandangan Gunung Kerinci yang berdiri gagah dengan perkebunan teh yang sangat luas. Angin berhembus pelan, memainkan ujung jilbab kami.
“Jannah…,” Arshinta memanggil pelan, suaranya pecah. “maafin aku ya… aku tak bisa melindungi kamu.”
Arshinta memegang kedua tanganku, menatapku dengan mata yang juga berkaca-kaca.
“Jannah, dengarkan aku baik-baik. Kamu tidak sendirian. Ada aku. Dan ada Allah. Mereka tak tahu siapa dirimu. Kamu pintar, kamu baik, kamu jujur. Suatu hari nanti, semua ini akan jadi kenangan yang bikin kamu kuat. Percaya sama aku, dan percaya sama Allah. Allah pasti mendengar do’a mu.”
Kata-katanya dan keyakinan yang kutanam saat shalat itu menjadi kekuatan yang tak terlihat. Hari-hari berlalu, dan perlahan aku mulai lebih tenang. Masa-masa sulit itu pun berakhir seiring berakhirnya masa SMP. Doa yang ku panjatkan dengan tulus itu tidak sia-asia. Allah menjawabnya, bukan secara instan, tapi melalui waktu dan cara-Nya sendiri.
Hingga tibalah hari pertama aku melangkah masuk ke gerbang SMA. Kini, aku dikelilingi banyak teman tulus, yang menerima aku apa adanya, tanpa melihat tinggi badan, tanpa menilai wajah, tanpa memandang gelar juara atau bukan. Mereka melukai aku sebagai Jannah, bukan sebagai professor. Aku bersyukur, setiap hari aku berterima kasih kepada Allah SWT. Karena tangisanku yang dulu, kini berubah menjadi tawa yang tulus di antara teman-teman yang baik. Aku masih tetap berteman baik dengan Arshinta. Kini, esok, dan seterusnya. Aku tak akan melupakan kebaikannya dan ketulusannya.
Luka di kelas sembilan itu masih ada, masih membekas. Namun, tak lagi menyakitkan. Ia menjadi bukti bahwa aku pernah berdiri tegak meski di hujat,di benci, dan di kucilkan. Bahwa aku pernah menangis sendirian di hadapan Allah, dan bahwa doa yang tulus pasti akan diijabah. Akhirnya, bukan mereka yang menentukan siapa aku. Melainkan Allah, dan kesabaran yang kupunya.
TAMAT
Tentang Penulis: Nurjannah Hasanah adalah murid SMAN 3 Bungo.
*Cerpen Hasil Workshop Monofolk Tur
