DI BALIK DINDING BENTENG TEMBESI
Melihat foto itu, ekspresi sang kakek seketika berubah…
Kabut tipis masih menyelimuti Tembesi. Sinar matahari perlahan menembus rimbunnya pepohonan. Sementara burung-burung berkicau dari kejauhan. Seli dan Kakek menyusuri jalan yang dibasahi oleh embun dengan menggunakan sepeda tua. Di tengah perjalanan, tiba-tiba mata Seli tertuju pada bangunan tua yang berdiri di balik pepohonan.
“Itu Benteng Tembesi,” kata Kakek sambil menunjuk bangunan tua itu.
Seli terus memandangi bangunan tua itu dengan penuh rasa penasaran. Ia bertanya-tanya tentang sejarah yang ada di bangunan tua tersebut.
Kakek terus mengayuh sepedanya mendekati benteng tua tersebut. Semakin dekat dengan bangunan itu makin besar pula rasa penasaran Seli. Melihat ekspresi cucunya yang penasaran, Kakek pun mulai bercerita tentang sejarah benteng tua tersebut atau biasa disebut dengan Benteng Tembesi.
“Benteng ini sudah berdiri sejak zaman Belanda,” tutur Kakek.
“Dulu, Tembesi adalah tempat yang penting karena letaknya berdekatan dengan sungai. Pada masa itu, sungai adalah jalur untuk perjalanan dan perdagangan”.
“Em, Kek. Kan benteng ini kan sudah berdiri sejak zaman Belanda. Apakah benteng ini ada kaitannya dengan penjajahan Belanda dulunya?” tanya Seli.
“Ya, tentu saja. Benteng ini dulu berkaitan dengan penjajahan di masa Belanda,” jawab Kakek.
“Apakah Seli mau tau bagaimana sejarahnya?” tanya balik Kakek.
“Tentu saja, Kek!” jawab Seli semangat.
Kakek menghentikan sepedanya, lalu ia pun mulai bercerita.
“Dulunya, Muara Tembesi adalah tempat yang strategis. Letaknya berada di pertemuan sungai Batanghari dan sungai Merangin. Dahulu, sungai adalah jalur transportasi dan perdagangan, seperti yang Kakek bilang tadi. Nah, karena letaknya strategis inilah yang menyebabkan kawasan ini menjadi penting untuk pemerintah Belanda”.
“Oohh, terus terus kek,” ujar Seli yang masih penasaran.
Kakek tersenyum sebentar, kemudian ia melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan dengan suara yang lembut tentang kepentingan Belanda pada masa itu, dan mengungkapkan tujuan Belanda saat itu, yaitu mengawasi dan menguasai wilayah.
Seli sebenarnya sudah tak heran jika kakeknya mengetahui cerita atau sejarah yang ada pada benteng tersebut. Karena dulunya Kakek merupakan seorang guru sejarah di sekolah yang terletak di Tembesi.
Seli turun dari sepeda, lalu ia perlahan melangkah mendekati benteng itu sambil membayangkan keadaan dan suasana benteng pada masa itu. Seli terus melangkah maju menelusuri benteng tersebut. Kemudian langkah nya terhenti, pandangannya lagi-lagi tertuju pada sesuatu.
Kali ini, pandangan Seli tertuju pada sebuah foto. Ia mengambil foto tersebut dan terkejut. Ia melihat di foto tersebut ada gambar sang kakek semasa muda.
Seli langsung berlari dan memanggil sang kakek, kemudian ia menunjukkan foto tersebut. Melihat foto itu, ekspresi sang kakek seketika berubah, seolah-olah foto itu mengingatkannya pada sesuatu.
“Kek, kenapa Kakek ada di foto ini?” tanya Seli dengan penuh rasa penasaran.
Kakek tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi foto tersebut cukup lama. Tangannya terlihat sedikit gemetar saat memegang foto yang sudah mulai kusam itu.
“Foto ini… sudah sangat lama sekali,” ujar Kakek pelan.
“Memangnya kapan foto ini diambil, Kek?” tanya Seli lagi.
Kakek menghela napas panjang. Ia kemudian duduk di sebuah bangku tua yang berada tidak jauh dari benteng.
“Dulu, waktu Kakek masih muda, Kakek pernah datang ke tempat ini bersama buyutmu,” jawab Kakek sedih.
Seli duduk di samping kakeknya. Ia kembali melihat foto tersebut dengan lebih teliti. Di dalam foto itu terlihat Kakek ketika masih muda berdiri di depan Benteng Tembesi bersama seorang lelaki yang belum pernah Seli lihat sebelumnya.
“Kalau yang di sebelah Kakek itu siapa?” tanya Seli sambil menunjuk lelaki dalam foto.
Kakek kembali terdiam.
“Dia buyutmu,” jawab Kakek.
Seli terkejut. Ia belum pernah melihat wajah buyutnya secara langsung. Selama ini ia hanya mengetahui tentangnya dari cerita keluarga. Seli masih memandangi foto yang berada di tangannya.
Seli kemudian bertanya apakah buyutnya juga pernah datang ke Benteng Tembesi. Kakek mengangguk sambil tersenyum kecil. Dahulu, buyut Seli sering mengajaknya datang ke tempat itu dan menceritakan sejarah Benteng Tembesi. Menurut buyutnya, benteng tersebut bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi perjalanan panjang daerah mereka.
Akan tetapi, rasa penasaran Seli semakin besar ketika ia melihat foto tersebut. Ia ingin tahu bagaimana foto itu bisa berada di sana. Kakek kembali memperhatikan foto itu dengan wajah yang lebih serius. Ada sesuatu yang selama ini belum pernah ia ceritakan kepada Seli.
Kakek kemudian membalik foto yang berada di tangannya. Di bagian belakangnya terdapat tulisan yang mulai pudar.
Untuk dikenang, agar cerita ini tidak pernah dilupakan.
Di bawah tulisan itu terdapat sebuah tanggal. Seli mengerutkan kening, mencoba memahami maksud tulisan tersebut. Kakek hanya terdiam beberapa saat sambil memandang Benteng Tembesi. Kemudian, Kakek menceritakan bahwa buyut Seli pernah mengatakan sesuatu yang selalu ia ingat. Suatu hari nanti, mungkin akan ada seseorang dari keluarga mereka yang kembali ke tempat itu dan menemukan cerita yang selama ini terlupakan.
Seli terdiam mendengar perkataan tersebut. Ia kembali memperhatikan foto yang ada di tangannya. Sejak menemukan foto itu, Benteng Tembesi terasa berbeda baginya. Tempat yang awalnya hanya terlihat sebagai bangunan tua kini terasa menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan keluarganya.
Tiba-tiba Seli menyadari sesuatu. Ia mulai memahami bahwa Kakek sebenarnya sudah mengetahui keberadaan foto tersebut sejak awal. Kakek memang sengaja mengajaknya ke Benteng Tembesi karena ia tahu suatu hari Seli akan menemukan foto itu. Kesadaran itu membuat Seli semakin terkejut. Perjalanan mereka hari itu ternyata bukan sekadar perjalanan biasa.
Seli kembali memandang benteng tua di hadapannya. Kini ia tidak lagi melihatnya sebagai bangunan yang hanya menyimpan sejarah masa lalu. Ia merasa ada sebuah cerita yang jauh lebih dekat dengan dirinya, sebuah cerita tentang keluarganya.
Mungkin, hari itu adalah awal dari terbukanya sebuah rahasia yang selama puluhan tahun disimpan oleh Kakeknya.
TAMAT
*Cerpen hasil Workshop Monofolk Tur
Bionarasi Penulis: Gendiz Mutiara Jingga lahir di Sridadi, 28 April 2011. Saat ini ia adalah seorang pelajar di SMA NEGERI 6 Batang Hari. Ia memiliki ketertarikan pada dunia cerita dan senang menuangkan ide-ide sederhana menjadi sebuah tulisan. Melalui cerpen Benteng Tembesi, ia ingin memperkenalkan sejarah lokal kepada pembaca dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Baginya, sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang cerita yang perlu dijaga agar tetap dikenang oleh generasi berikutnya.
