BINTANG MISTERIUS DALAM RIMBA
Waktu seakan terhenti begitu desa mereka memasuki malam.
Gumpalan awan tipis menutup setengah matahari, membuatnya terlihat malu-malu. Suara aliran sungai terdengar keras dan berirama. Orang-orang desa sibuk memompa air menggunakan pompa air sederhana mereka. Suara perbincangan terdengar di pasar desa kecil itu. Ibu-ibu sibuk memikul keranjang buah sambil saling tertawa. Anak-anak kecil berlarian riang sambil membawa layangan plastik kecil. Kicauan burung layang-layang terdengar mengalun samar di langit desa. Desa kecil itu terletak di dekat hutan lebat.
Konon katanya, ada hal mistis dari hutan dekat desa itu. Tiap malam, hutan itu akan mengeluarkan cahaya tipis hijau disertai dengan aroma yang aneh. Waktu seakan terhenti begitu desa mereka memasuki malam. Mantan Ketua RT dan warga sekitar membantu Pak RT untuk mengecek hutan tersebut, tetapi naasnya mereka tidak pernah kembali.
Ah, entahlah. Terkadang itu hanya mitos agar anak-anak tidak keluar malam. Begitu pula denganku. Ibuku selalu merepet panjang jika aku ingin keluar malam untuk menikmati udara. Ibu mengomel bahwa udara malam dari hutan itu beracun lah, atau berbahaya, pokoknya gitu deh.
Aku menatap jendela, terlihat tetanggaku bingung dan ingin keluar rumah, tapi ragu. Aku kembali menatap hutan itu lewat jendela kaca kamarku di lantai dua. Yang benar saja, cahaya hijau stabilo itu masih terlihat. Berkedap-kedip seperti kunang-kunang.
“ERI! Tidur lagi, nak! Lampu kamarmu kok masih nyala!? Udah jam berapa ini?” teriak ibu kesal dari bawah.
“Hehe, iya, Bu! Eri ini mau tidur kok! ” jawabku sambil terburu buru mematikan lampu kamar. Terdengar suara desahan ibu dari bawah, segera menuju kamarnya.
Aku merapikan kasur ku, terlihat buku diariku. Sejak kecil sebenarnya aku penasaran cahaya hijau itu. Kadang aku ingin kabur diam-diam, tapi begitu berita Pak RT dan warga yang ikut hilang, aku jadi takut dan berhenti memikirkan itu, walaupun kepikiran terus. Teman-teman sekolahku juga perlahan melupakan kejadian itu. Mereka beranggapan bahwa mereka diserang hewan biasa atau apalah.
Aku kembali menatap jendela. Terlihat cahaya hijau itu bergerak pelan.
“Eh? Tunggu dulu? Apa itu? Kok cahaya hijau itu terlihat berjalan,” cahaya itu berjalan pelan menuju rumah tetanggaku.
“Astaga!? Apa itu? Alien? Hantu?”
Yang benar saja, begitu cahaya hijau itu berada didepan pintu, pintu itu terbuka begitu saja. Ini buruk. Buru-buru aku menyalakan lampu kamar untuk melihat cahaya itu lebih jelas.
Begitu aku kembali ke jendela, cahaya itu hilang begitu saja. Pintu rumah tetanggaku tertutup seolah tak terjadi apa-apa. Suara jangkrik masih berdecit seolah tidak terjadi apapun.
Astaga. Aku mengelap peluh di leher. Aku yakin sekali tadi cahaya hijau itu masuk ke rumah tetanggaku. Aku kembali mengeceknya lewat jendela. Lampu kamar tetanggaku menyala. Eh? Dia menyadari sesuatu kah?
Tak lama kemudian, lampu rumah tetanggaku mati kembali. Sepertinya tetanggaku tidak melihat apapun. Aku termenung sesaat. Sepertinya aku hanya salah lihat.
Aku kembali mematikan lampu kamar, segera bergelung dibalik kemul. Aku yakin tadi melihat cahaya itu. Pelan pelan aku berusaha melupakannya. Tanpa kusadari, perlahan aku tertidur pulas.
Pagi harinya, suara ayam berkokok keras. Aku terbangun bukan karena suara kokokan ayam yang menjengkelkan itu, melainkan aku mendengar suara kegaduhan dari sebelah rumahku.
Aku mengintip dari jendela. Rumah tetanggaku sudah dikerubungi warga. Ada apa ini? Aku mendengar suara tangisan keras begitu aku membuka kaca jendela.
Cepat-cepat aku keluar menuju tempat itu. Warga terlihat prihatin dan bingung. Ibu tetanggaku terlihat menangis histeris tak karuan. Ibu berusaha menenangkannya sambil mengusap-usap punggungnya. Aku menoleh, terlihat seseorang terbaring kaku dengan wajahnya ditutupi kain.
“Eri?”
Aku menoleh, itu temanku, Lizzy. Ia terlihat bingung sekaligus sedih, memegang pundakku.
“Ada apa ini? Apa yang terjadi, Liz? ” tanyaku bingung.
Lizzy menarik tanganku dari keramaian, mulai bicara di tempat sepi.
“Anak tetanggamu meninggal tanpa alasan. Kemarin ia pulang larut malam, terus paginya ia terbaring lemas di dapur. Yang aneh itu dia tidak mengalami luka apapun. Kata warga sekitar, ada cahaya hijau aneh yang masuk ke rumah mereka. Mungkin cahaya itulah biak keroknya” jelas Lizzy terlihat serius.
Aku tertegun, ikut berduka cita. Aku tidak percaya apa yang aku lihat tadi malam ternyata benar.
“Jadi sekarang bagaimana? ” tanyaku.
“Kita sedang menunggu tabib dari desa lain. Aku harap desa kita tidak dikutuk” Lizzy berkata sambil merinding.
Aku menepuk jidat. Apanya yang dikutuk? Aku yakin ada alasan logis dari semua ini. Lizzy memang orang yang gampang percaya.
Setelah itu, tabib langsung mengecek anak tersebut. Korban itu seusia kami. Anak itu langsung dibawa ke puskesmas terdekat.
Setelah dicek, anak itu ternyata mengalami keracunan. Siangnya anak itu dikuburkan. Perlahan warga meninggalkan makam menyisakan ibunya yang menangis tersedu-sedu ditemani ibuku.
Keesokan harinya, aku ingin memeriksa hutan tersebut.
“Kamu cari mati, Ri? Kamu tidak ingat kemarin ada kasus keracunan? ” Lizzy mengomentariku.
Jam istirahat masih berlangsung. Kami makan di kantin kecil sekolah kami.
“Aku mau coba cek di siang hari, Zy. Kamu mau ikut gak? Lagian kalau siang hutan itu tidak berbahaya bukan?” Aku melambaikan tangan sambil menyeruput pelan kuah bakso ku.
Lizzy termenung, mengaduk aduk batagor nya.
“Yaudah deh, aku ikut. Aku juga sebenarnya penasaran dengan hutan itu,” jawab Lizzy memutuskan.
Aku mengangguk senang. Kami kembali fokus ke makanan kami masing masing.
***
Sepulang sekolah, aku dan Lizzy menembus hutan lebat itu. Kami melihat sekeliling. Jujur hutan ini sebenarnya sangat asri dan teduh. Banyak tanaman hijau menutupi lembutnya humus. Jamur jamur lusuh terlihat tumbuh di pepohonan basah dan di lumpur. Tupai kecil melompat-lompat dari pohon ke pohon.
Aku memerhatikan sekeliling, tidak ada hal aneh disini. Mana cahaya hijau misterius itu? Dan mana aroma aneh yang bisa menyebabkan keracunan itu? Aku kembali berpikir.
“Eri, udah yok, kita udah jauh banget nih dari desa, ” keluh Lizzy sambil duduk di atas batu kering.
Aku menoleh ke belakang, menghela nafas. Lizzy benar, aku rasa hal aneh itu tidak akan muncul di siang hari.
“Ihh, Eri, coba lihat ini! ” seru Lizzy bersemangat.
Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Lizzy. Sebuah jamur ukuran sedang berwarna bening. Terlihat lembek dan lusuh.
“Apaan yang menarik, Zy? Itu cuma jamur biasa,” aku menggerutu.
“Ihh, aku belum pernah lihat jamur seperti ini lho. Langka sekali!”
Aku mengabaikan gumaman Lizzy. Sekali lagi mengajaknya untuk pulang.
Malamnya, lagi-lagi cahaya itu muncul. Seperti biasa, tidak ada manusia yang keluar pada malam hari. Padahal langit malam terlihat cerah. Aku bergumam samar menatap cahaya hijau dari hutan tersebut. Sebenarnya apa itu? Aku ingin sekali mengeceknya. Aku berusaha menebak-nebak benda apa itu.
“Aduhh, aromanya kecium lagi,” omel ibu terdengar dari kamarku.
Aku turun kebawah, melihat ibu sedang sibuk mengipas ruangan. Aku mencium aroma ini. Terasa familiar tapi aku tidak tahu.
“Ada apa, Eri? PR mu sudah siap?” lagi lagi ibu mengomel.
Aku hanya mengangguk. Tak lama kemudian, aku kembali ke kamarku.
Sekitar jam 00:00, aku tetap tidak bisa tidur, aku bangkit dari kasur ku, menatap jendela lagi. Terlihat seseorang berdiri disana. Sepertinya itu tabib kemarin, memakai masker putih. Tubuhnya sudah sedikit bungkuk karena sudah berkepala tujuh.
Sedang apa tabib itu disana? Apakah dia ingin mengecek hutan itu? Perlahan lahan aku turun dari kamarku, menyambar masker kain dan keluar rumah diam diam.
Suara jangkrik terdengar lebih jelas. Tabib itu menatapku begitu keluar dari rumah.
“Sedang apa kamu disini, nak?” tanya tabib itu dengan suara serak.
“Bapak mau mengecek hutan itu pak?” aku balik bertanya.
“Iya, Nak. Bapak sudah hubungi beberapa warga, tapi tidak ada yang bersedia. Ini bapak mau berangkat sendiri” jelas Tabib itu.
Aku menawarkan diri untuk menemani Tabib itu. Tabib itu tidak menolak. Kami langsung pergi menuju hutan itu.
Suasana terasa lebih menakutkan. Entah kenapa semakin dalam kami menelusuri hutan, tubuhku terasa gatal. Aku menahan gatal di badanku.
“Oles dengan obat ini, Nak” Tabib itu memberikan sebuah salep herbal.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengoleskan salep herbal itu ke tubuhku.
Perlahan, tubuhku terasa lebih nyaman. Aku kembali mengejar Tabib itu dan akhirnya kami sampai di sumber cahaya hijau tersebut.
Aku terkejut, tidak menyangka apa yang terjadi. Tabib tua itu juga sedikit tertegun.
Di Depan kami, terlihat hamparan jamur berukuran sedang bersinar dengan cahaya hijau. Jamur itulah sumber aroma aneh itu dan udara yang membuat tubuhku terasa gatal. Tabib itu menggelengkan kepalanya, menatap lebih dekat jamur itu.
Aku masih terdiam. Kalau tidak salah, ini adalah jamur bening yang kami temukan tadi. Benar kata Lizzy, ini jamur aneh dan langka.
“Astaga, ternyata jamur ini biak kerok atas semua kasus ini. Aku tidak pernah melihat jamur ini. Ini aneh sekali” Tabib itu berbicara.
“Aku rasa itu hasil persilangan dari dua jamur beracun yang berbeda, Pak. Jamur ini berkembang biak dengan cepat karena hutan ini lembab” ucapku.
Tabib itu tertawa kecil, “Kamu benar, Nak. Aku akan mengambil jamur ini beberapa, besok kita gotong royong menyingkirkan jamur-jamur bercahaya ini.”
Tabib itu melapisi tangannya dengan sarung tangan. Perlahan Ia mencabut jamur itu dan diletakkan ke keranjang. Aku ikut membantunya.
Pagi harinya, para warga berkumpul di puskesmas desa. Tabib tua itu menceritakan apa yang terjadi. Warga-warga tersebut terkejut dan heran dengan apa yang mereka dengar. Mereka terlalu percaya akan mitos dan sekarang malu sendiri. Ibu tetangga membantah Tabib.
“Kalau itu hanya perkara jamur beracun, lantas kenapa anakku bisa meninggal? Bukankah katamu menghirup udaranya hanya membuat gatal-gatal bukan meninggal? “
Perdebatan semakin rumit. Tabib tua itu terlalu tua untuk debat dengan emak-emak yang sedang kehilangan anaknya. Aku berpikir keras, apa penyebab anak itu meninggal. Sejenak, sebuah ide terlintas di benakmu. Aku tertegun, berusaha menenangkan warga.
“Buk, apakah di kamar anak ibu ada keranjang makanan?” aku bertanya.
“Iya, apa hubungannya?!” jawab ibu itu dengan nada tinggi.
Aku berusaha sabar.
“Beberapa orang melihat ada cahaya hijau masuk kerumah ibu. Menurut analisis saya, sepertinya itu anak ibu yang baru pulang dari hutan sambil membawa jamur tersebut. Aku kemarin melihat ibu cemas anak ibu belum pulang. Seingat saya, anak ibu doyan jamur, jadi kemungkinan besar setelah ia pulang, ia langsung mengkonsumsinya dan keracunan di pagi harinya,” aku menjelaskan.
Semua orang terdiam. Hening, tidak ada yang bersuara.
Beberapa warga mulai setuju, percaya akan pendapatku masuk akal. Tabib tua itu tersenyum ke arahku, seolah mengucapkan terima kasih. Perlahan ibu tetangga itu kembali menangis.
“Maafkan ibu, Nak. Ibu salah. Seharusnya ibu lebih peduli kepadamu. Seharusnya ibu mendengarkanmu,” isak ibu tetanggaku.
Ibuku kembali menenangkan. Aku hanya menatap prihatin, ikut berduka cita.
Setelah itu, warga berbondong-bondong membersihkan benih benih jamur itu dan dibakar hingga tak tersisa.
Malam hari pun tiba. Hutan samping desa kami tidak berbintik-bintik hijau lagi. Desa mulai terasa hidup kembali. Anak-anak berlarian di gang kompleks rumah. Terlihat bapak-bapak sedang nongkrong di posko sambil menikmati segelas kopi dan gorengan hangat. Ibu-ibu komplek terlihat bergosip terkait arisan mendatang di teras rumah ibu tetangga. Tetanggaku terlihat lebih ceria, tertawa-tawa saat ibuku dan temannya berbincang.
Ponselku berdering, Lizzy menelpon ku. Aku mengangkatnya, Lizzy terlihat bersemangat untuk bercerita. Aku berbincang dengan Lizzy lewat handphone ku di teras dimana suasana desa kembali hidup.
TAMAT
NB: Cerita ini terinspirasi dari cerita rakyat Jambi–Sarolangun berjudul “Bukit Bulan”
*Cerpen hasil Workshop Monofolk Tur!
Bionarasi Penulis: Shafa Shabriyyah atau yang memiliki nama pena Cappaccino adalah murid SMAN 3 Bungo.
