JEJAK HIJAU DI KOTA SUNGAI PENUH
Pagi itu, hujan turun begitu deras di kota. Dibalik jendela kelas, Alya memandangi halaman sekolah yang mulai dipenuhi genangan air. Air berwarna kecoklatan mengalir perlahan menuju selokan. Beberapa sudut halaman sudah dipenuhi botol plastik, bungkus makanan, dan daun-daun kering yang terbawa arus. Alya menghela napas.
“Kenapa setiap hujan deras selalu begini?” gumam Alya.
Raka, teman kelas Alya, ikut memperhatikan keadaan di luar.
“Bukan cuma karena hujan, Al. Lihat saja selokannya. Banyak sampah menyumbat,” ujar Raka.
Alya terdiam. Perkataan Raka membuatnya kembali mengingat kejadian beberapa minggu sebelumnya. Saat itu, hujan turun selama berhari-hari. Air sungai meluap, jalan-jalanan terendam, bahkan ada rumah warga yang harus membersihkan lumpur setelah banjir surut.
Sungai Penuh yang selama ini dikenal sebagai kota pariwisata sejuk dengan keindahan alam Kerinci seakan sedang menunjukkan wajah lain.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Bu Rina, memasuki kelas sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Hari ini, ibu ingin kalian membicarakan satu hal. Bukan hanya untuk tugas sekolah, tetapi untuk masa depan kota kita,” ucap Bu Rina.
Bu Rina menuliskan dua kata besar di papan tulis, yaitu “GENERASI HIJAU”.
“Kalian-kalian adalah generasi yang akan mewarisi kota ini. Kalau lingkungan rusak, siapa yang akan merasakannya nanti?” tanya Bu Rina menghenikan kelas.
Bu Rina kemudian bercerita tentang persoalan lingkungan yang terjadi di Sungai Penuh dan Kerinci. Sampah rumah tangga terus bertambah. Beberapa tempat penampungan sampah tidak mampu menampung seluruh sampah masyarakat. Di sisi lain, kawasan hijau dan daerah resapan air semakin berkurang. Penebangan pohon juga dapat meningkatkan risiko longsor dan banjir.
Alya selalu menjadi orang pertama yang akan semangat ketika mendengar keindahan alam Indonesia.
“Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan?” tanya Alya.
“Banyak,” jawab Bu Rina sambil tersenyum. “Kalian bisa memulainya dari hal sederhana.”
Sejak hari itu, Alya dan teman-temannya mulai bergerak.
Sebagai anggota ekstrakurikuler Adiwiyata, mereka membuat kegiatan memilah sampah di sekolah. Tempat sampah diberi tanda untuk sampah organik, anorganik, B3, dan residu. Mereka juga mengajak siswa lain membawa botol minum sendiri dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Awalnya, hal tersebut tidak mudah.
“Untuk apa sih repot-repot memilah sampah?” keluh salah seorang siswa.
“Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?” tanya balik Alya tenang.
Hari demi hari, kebiasaan itu perlahan berubah. Siswa mulai membuang sampah sesuai jenisnya. Sampah botol plastik dikumpulkan untuk didaur ulang. Sampah organik diolah menjadi kompos untuk tanaman sekolah. Namun, Alya merasa itu belum cukup.
Suatu sore, Alya dan Raka berjalan pulang melewati bantaran Sungai Batang Merao. Pemandangan yang mereka lihat membuat langkah keduanya terhenti. Sampah berserakan di pinggir sungai. Ada kantong plastik, botol minuman, kardus, bahkan sisa makanan yang telah membusuk.
“Miris sekali. Kalau hujan deras, sampah ini bisa masuk ke sungai dan menyumbat aliran air, dan akhirnya banjir,” ucap Raka.
Alya mengangguk setuju.
Malamnya, Alya tidak bisa tidur. Ia teringat halaman sekolah yang tergenang, sungai yang dipenuhi sampah, dan berita tentang banjir yang melanda berbagai wilayah. Tiba-tiba sebuah gagasan muncul di kepalanya.
Keesokan harinya, Alya mengumpulkan anggota Adiwiyata.
“Aku punya ide,” katanya. “Bagaimana kalau kita membuat Gerakan Generasi Hijau?”
Teman-temannya saling berpandangan.
“Gerakannya seperti apa?” tanya Raka.
“Bukan hanya membersihkan sekolah. Kita ajak masyarakat. Kita tanam pohon, bersihkan lingkungan, edukasi tentang sampah, dan ajak anak-anak muda untuk ikut bergerak.”
Semua terdiam beberapa saat. Kemudian Raka tersenyum.
“Aku ikut.”
Satu per satu tangan mulai terangkat.
“Aku juga.”
“Begitu juga aku.”
Akhirnya, mereka sepakat memulai gerakan tersebut.
Mereka membuat poster, mengadakan kampanye di sekolah, membersihkan lingkungan sekitar, dan mengajak warga untuk tidak membuang sampah ke sungai.
Pada awalnya hanya sedikit orang yang datang. Namun, Alya tidak menyerah.
“Perubahan memang tidak selalu dimulai dari banyak orang,” katanya kepada teman-temannya. “Kadang perubahan dimulai dari satu orang yang mau peduli.”
Beberapa minggu kemudian, semakin banyak pelajar yang bergabung. Mereka bahkan bekerja sama dengan masyarakat untuk melakukan penanaman pohon di kawasan yang membutuhkan penghijauan. Bibit-bibit pohon ditanam dengan penuh semangat. Tangan mereka kotor oleh tanah, pakaian mereka basah oleh keringat, tetapi wajah mereka dipenuhi kebahagiaan.
Alya menancapkan bibit terakhir ke tanah. Ia kemudian berdiri dan memandang deretan pohon kecil di hadapannya.
“Suatu hari nanti, pohon-pohon ini akan besar,” katanya.
“Dan mungkin saat itu kita sudah tua,” sambung Raka sambil tertawa kecil.
“Tidak masalah,” jawab Alya. “Yang penting kita pernah menanam sesuatu untuk mereka yang datang setelah kita.”
Hari-hari berikutnya, Gerakan Generasi Hijau terus berkembang. Sekolah-sekolah lain mulai tertarik mengikuti kegiatan mereka. Masyarakat juga mulai memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
Suatu sore, hujan kembali turun di Sungai Penuh. Alya berdiri di depan jendela kelas. Ia memperhatikan halaman sekolah. Tidak seperti beberapa bulan sebelumnya, air hujan kini mengalir dengan lebih lancar. Selokan tidak lagi dipenuhi sampah. Tanaman yang mereka rawat tumbuh semakin subur.
Alya tersenyum puas. Namun, ia tahu perjalanan mereka belum selesai. Masih ada sungai yang harus dijaga. Masih ada hutan yang harus dilindungi. Masih ada sampah yang harus dikurangi. Dan masih banyak orang yang harus disadarkan.
Raka berdiri di sampingnya.
“Menurutmu, apakah kita bisa benar-benar mengubah Sungai Penuh?” tanya Alya kepada Raka yang sambil menatap hujan yang jatuh perlahan.
“Entahlah, tapi aku percaya, kota yang besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil,” jawab Raka.
“Kalau kita menanam satu pohon hari ini, mungkin kita tidak langsung melihat hasilnya. Tapi suatu hari nanti, seseorang akan berteduh di bawah pohon itu.”
Raka tersenyum.
“Jadi, kita lanjut?”
Alya mengangguk.
“Kita lanjut.”
Di tengah derasnya perubahan zaman, mereka sadar bahwa teknologi boleh berkembang, kota boleh semakin maju, dan kehidupan boleh berubah semakin cepat. Tetapi satu hal tidak boleh dilupakan: manusia tetap membutuhkan alam untuk bertahan hidup.
Sungai Penuh bukan hanya tempat mereka tinggal. Kota itu adalah rumah. Dan rumah, seindah apa pun, akan tetap membutuhkan orang-orang yang mau menjaganya.
Hari itu, Alya dan teman-temannya kembali mengambil cangkul, sarung tangan, dan kantong sampah. Mereka berjalan bersama menuju halaman sekolah. Langkah mereka mungkin kecil. Tetapi dari langkah kecil itulah, sebuah jejak hijau mulai tumbuh. Dan mereka percaya, selama masih ada generasi muda yang mau peduli, harapan untuk Sungai Penuh yang bersih, hijau, sehat, dan lestari tidak akan pernah padam.
TAMAT
Tentang Penulis: Maharani Melisa adalah murid SMAN 1 Sungai Penuh.
*Cerpen Hasil Workshop Monolog Tur!
