Tempat dimana cerita-cerita pendek dipilih dan dibagikan kepada kalian
PUTI: DENDAM SANG PUTRI
Apakah anak perempuan adalah makhluk lemah dan layak dibunuh?
Anak perempuan yang lemah. Begitulah pemikiran Raja Tujuh Koto ketika ia mengetahui bahwa istrinya sedang hamil besar. Keenam anaknya adalah laki-laki tangguh. Hal itu justru membuatnya semakin tidak menginginkan seorang anak perempuan.
“Rawatlah anak itu jika ia laki-laki, tetapi jika anak itu perempuan….”
Suara Raja berubah dingin. Tatapannya menggelap, menatap Permaisuri yang hanya terdiam sembari mengusap perutnya yang besar.
“Kamu tahu apa yang harus dilakukan, bukan, istriku?”
Permaisuri hanya mengangguk dalam diam. Anak perempuan akan dan harus dibunuh. Ia tahu itu.
Tangan Permaisuri terus mengusap perutnya yang besar. Anehnya, ia tidak merasa gelisah. Justru ada ketenangan aneh yang menyelimuti hatinya. Seperti ada dorongan tak kasat mata yang membujuk Permaisuri untuk tidak mengindahkan ancaman suaminya.
Raja tersenyum puas. Diamnya Permaisuri ia anggap sebagai tanda kepatuhan. Kemudian, Raja berangkat ke medan perang bersama keenam anaknya, meninggalkan Permaisuri dan kerajaan. Sejak saat itu, permaisuri terus memikirkan cara untuk menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungannya. Ia memiliki firasat bahwa anak yang dikandungnya adalah seorang perempuan.
Beberapa hari kemudian, suara tangis bayi memecah keheningan kamar Permaisuri.Anaknya telah lahir. Dan anak itu adalah perempuan. Jelas, hal itu akan menjadi kabar buruk bagi sang Raja.
Kelahiran anak ketujuh itu dirahasiakan oleh kerajaan atas perintah permaisuri. Raja tidak diperbolehkan mengetahui keberadaannya. Anak perempuan itu diberi nama Puti.
Selama beberapa hari, Puti dirawat dengan penuh kasih sayang oleh ibunya. Namun, sehari sebelum ayaha dan keenam saudara laki-lakinya kembali ke kerajaan, permaisuri membawa Puti pergi diam-diam ke dalam hutan.
Sebelum meninggalkan kerajaan, ia membuat sebuah makam palsu yang di dalamnya berisi bangkai kucing sebagai tipuan. Ia berharap dengan begitu, Raja akan percaya bahwa anak perempuannya telah meninggal. Permaisuri kemudian tergopoh-gopoh mengetuk sebuah rumah rapuh yang tampak seperti tidak dihuni oleh siapa pun.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Seorang pria bernama Tuan Patih keluar.
“Ada apa gerangan hingga engkau datang kemari, Permaisuri?” tanya Tuan Patih.
Pandangan pria itu turun ke arah keranjang yang didekap erat oleh permaisuri. Dari dalamnya terdengar suara erangan kecil seorang bayi. Dengan gesit, Permaisuri menyerahkan keranjang itu kepada Tuan Patih.
“Rawat anakku. Ia bernama Puti. Kuserahkan ia kepadamu. Jangan sampai pihak kerajaan mengetahui keberadaan dan identitasnya,” ujar Permaisuri.
Tuan Patih mengerutkan kening, bingung.
“Wahai Permaisuri, saya belum pernah menikah dan tidak memiliki anak. Bagaimana engkau bisa mempercayai hamba?”
“Aku mempercayaimu, Tuan. Jaga putriku. Aku tidak ingin ia dibunuh oleh Raja.”
Permaisuri mengusap wajah Puti dengan lembut. Tangannya bergetar, seolah berat baginya untuk meninggalkan anak yang baru saja dilahirkannya.
Tuan Patih kemudian mengangguk tanpa banyak bertanya lagi dan Permaisuri akhirnya pergi.
Sejak saat itu, Tuan Patih memiliki Puti sebagai tanggung jawabnya. Ia merawat Puti seperti anaknya sendiri. Puti diajarkan untuk mencintai alam dan tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang dari Tuan Patih.
Tahun demi tahun berlalu. Kini, Puti telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik nan jelita. Kini, usiannya sudah tujuh belas tahun. Tuan Patih pun menceritakan asal-usul dan alasan mengapa Puti bisa hidup bersamanya selama ini.
Wajah Puti merah padam karena amarah. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah mengetahui bahwa dirinya adalah seorang putri kerajaan. Ia juga tidak pernah tahu bahwa ayah kandungnya sendiri pernah berencana untuk membunuhnya hanya karena ia terlahir sebagai seorang perempuan. Sejak saat itu, Puti bertekad untuk membalas dendam kepada ayahandanya.
Suatu waktu, kabar tentang sang Raja yang kembali membawa kemenangan menggemparkan seluruh daerah Jambi. Untuk merayakan kemenangan tersebut, ia mengadakan pesta besar-besaran dan menyembelih banyak kerbau untuk dibagikan kepada masyarakat.
Semua kalangan datang menghadiri pesta kerajaan. Kerajaan dipenuhi oleh keramaian dan kegembiraan. Namun, setelah pesta besar itu selesai, Raja mulai jatuh sakit. Tubuhnya semakin melemah hingga ia hanya mampu terbaring di atas kasur.
Kerajaan mulai diliputi kekacauan. Keenam anak laki-lakinya kalang-kabut ke sana kemari mencari tabib dan mengurus berbagai urusan kerajaan. Sementara itu, permaisuri hanya bisa menatap Raja dengan prihatin. Namun, ada perasaan janggal yang terus mengusik hatinya.
Saat malam tiba, permaisuri diam-diam pergi ke dalam hutan untuk menemui Tuan Patih. Pasti ada yang tidak beres, batinnya.
Tak lama kemudian, ia tiba di depan rumah Tuan Patih dan mengetuk pintunya. Pintu itu akhirnya terbuka. Namun, bukan Tuan Patih yang berdiri di sana, melainkan Puti. Melihat betapa cantiknya sang anak, Permaisuri terdiam.
Tanpa banyak bicara, Permaisuri langsung maju dan memeluk Puti ke dalam dekapannya. Ia tidak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun berpisah, anak yang dahulu ia tinggalkan demi menyelamatkan nyawanya kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang begitu cantik. Tak ia sangka, Puti membalas pelukannya.
“Ibu… ibuku,” ujar Puti menahan haru.
Permaisuri menatap Puti dengan terkejut.
“Kamu tahu, putriku?”
Puti mengangguk tegas. Ia berhenti sejenak. Tatapannya kemudian berubah menjadi penuh amarah.
“Kemudian, soal Ayah… maaf, Ibu. Aku yang membuatnya seperti itu. Aku sakit hati karena Ayah pernah berencana membunuhku. Ayah harus menderita,” Puti berkata dengan runtut dan menggebu-gebu.
Permaisuri masih terdiam. Ia berusaha mencerna setiap ucapan putrinya.
“Lalu bagaimana dengan nasib kerajaan, putriku? Ayahmu adalah pemimpinnya.”
Permaisuri menggenggam tangan Puti dengan tenang. Ia tahu bahwa dendam putrinya sangat besar. Namun, keberlangsungan kerajaan juga harus tetap berjalan. Puti menatap ibunya dengan tegas.
“Biarkan saja, Bu. Aku ingin Ayah menyesal. Ia harus tahu bahwa kaum perempuan tidaklah lemah,” lugas Puti.
Permaisuri menghela napas pelan. Ia tahu bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mengubah masa lalu. Namun, mungkin putrinya masih bisa mengubah masa depan. Akhirnya, ia mengangguk.
“Datanglah kepada ayahmu besok. Ucapkan apa pun yang kamu mau, anakku,” ujar Permaisuri.
Keesokan harinya, Puti dan Tuan Patih datang menghadap Raja Raja hanya mampu terbaring lemah di atas kasur. Wajahnya tampak pucat dan tubuhnya tidak lagi memiliki kekuatan seperti dahulu.
Puti berdiri di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia menatap langsung wajah ayah kandungnya. Pria yang dahulu ingin membunuhnya. Pria yang selama bertahun-tahun tidak pernah tahu bahwa anak perempuan yang ia anggap telah mati ternyata masih hidup.
“Yang Mulia,” ucap Puti tegas. “Akulah anak perempuan yang ingin kau bunuh dahulu.”
Suasana mendadak hening.
“Aku masih hidup. Dan rasa sakitmu hari ini adalah perwujudan dari dendamku selama ini.”
Semua orang yang berada di dalam ruangan kerajaan mulai berbisik-bisik. Mereka tidak menyangka bahwa sang Raja ternyata memiliki seorang anak perempuan yang selama ini disembunyikan.
Raja hanya terdiam. Air mata perlahan menitik dari sudut matanya.
“Maaf…,” suara Raja bergetar. “Maafkan aku, anakku…”
Untuk pertama kalinya, Raja Tujuh Koto menyadari kesalahannya. Namun, Puti tidak langsung luluh. Ia menaikkan dagunya dengan tegas.
“Aku ingin Ayah mengakuiku sebagai anak perempuanmu. Namun, aku tidak ingin mengambil tahta. Turunkanlah tahta kepada anak pertama.”
Puti menarik napas sejenak.
“Dan berikan pesan kepada seluruh rakyat bahwa perempuan bukanlah makhluk lemah.”
Raja hanya bisa terdiam mendengar perkataan putrinya.
Setelah pertemuan itu, berita bahwa Raja Tujuh Koto memiliki seorang anak perempuan tersebar ke seluruh masyarakat. Banyak yang tidak percaya. Banyak pula yang mencaci-maki sang Raja karena pemikirannya di masa lalu.
Akhirnya, tahta kerajaan diturunkan kepada anak pertama. Sejak saat itu, kehidupan perempuan di kerajaan mulai disejahterakan. Tidak ada lagi pembunuhan terhadap anak perempuan hanya karena jenis kelamin mereka. Tidak ada lagi sikap kasar dan pandangan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah.
Kerajaan perlahan berubah. Bukan karena kekuatan seorang raja, melainkan karena keberanian seorang perempuan yang pernah dianggap tidak layak untuk hidup.
Kini, Puti dan Tuan Patih hidup dalam lindungan pihak kerajaan. Puti menjadi tokoh yang menjunjung tinggi keadilan bagi kaum perempuan. Ia terus mengingatkan masyarakat bahwa seorang perempuan bukanlah makhluk yang lemah dan tidak berharga.
Puti menjalani kehidupannya dengan sejahtera. Ia adalah seorang anak perempuan yang dahulu hampir kehilangan nyawanya hanya karena terlahir sebagai perempuan. Namun, ia berhasil bertahan, ia hidup, dan pada akhirnya, keberadaannya menjadi alasan bagi sebuah kerajaan untuk berubah.
TAMAT
NB: Cerita ini terinspirasi dari cerita Nenek Puti.
Tentang Penulis: Halo, nama saya Nikmatuz Zakia, saat ini saya menduduki bangku kelas X E-5 di SMAN 3 Bungo. Saya ingin mendalami ilmu kepenulisan karena saya bercita-cita ingin menjadi penulis novel.
*cerpen hasil workshop Monofolk Tur!
Peristiwa Kelam 1965; Melihat Sesuatu Yang Jarang Dilihat Dalam Novel “Namaku Alam”
Oleh Arma Gusta
Bagaimana ketika kita mendengar “Gerakan tiga puluh september” atau yang dikenal luas dengan sebutan G30SPKI? Bagaimana ketika sejarah itu terkikis dan terlintas dalam ingatan kita? Mampukah kita membaca sekaligus menawarkan ingatan mereka kepada peta sejarah hari ini? Atau dapatkah kita membayangkan betapa kelam dan menyedihkannya peristiwa itu? Entahlah, kiranya memang tidak ada yang tahu secara mendetail mengenai konflik yang melibatkan salah satu partai terbesar yang ada di indonesia waktu itu dengan beberapa perwira tinggi TNI AD. Namun, pada kesempatan ini kita tidak lagi membahas kronologi peristiwanya, melainkan mencoba untuk mengupas; sejauh mana peristiwa itu memengaruhi kondisi sosial setelahnya.
Selama lebih dari setengah abad pasca peristiwa berdarah pada tahun 1965, kita bisa saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti; Mengapa peristiwa itu bisa terjadi? Siapa yang salah dan siapa yang benar? Siapa yang harus bertanggung jawab atas kejadian itu? Barangkali ada banyak versi dan sudut pandang dari berbagai kalangan yang mengamati persoalan ini. Dan barangkali tugas kita bukanlah untuk mencari siapa yang benar atau siapa yang salah. Seperti yang dikatakan oleh George Santayana dalam bukunya The Life of Reason “mereka yang tidak dapat mengingat sejarah dikutuk untuk mengulanginya”. Maka tugas kita barangkali adalah belajar dan merawat sejarah dengan mengkajinya secara objektif.
Melalui novel “Namaku Alam” dengan genre fiksi sejarah karya Leila. S. Chudori yang merupakan hasil dari wawancaranya kepada salah seorang anak Tapol pada zaman itu, kita bisa melihat setidaknya bagaimana nasib orang-orang yang dianggap harus dimusnahkan oleh pemerintah negaranya sendiri, dan bagaimana narasi propaganda dibentuk. Inilah yang paling menarik; novel ini memperlihatkan apa yang jarang sekali dilihat dan dipertanyakan kembali oleh kita hari ini.
Novel ini mengisahkan pertumbuhan seorang anak laki-laki bernama Segara Alam yang hidup di bawah bayang-bayang stigma “pengkhianat negara” pada masa rezim orde baru. Alam memiliki kemampuan photograpyc memory – kemampuan yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Ia bisa mengingat secara jelas kejadian-kejadian yang tertangkap oleh indranya bahkan ketika usianya masih di bawah lima tahun. Tapi kemampuan itu seolah-olah menjadi boomerang terhadap dirinya sendiri ketika ingatan yang tidak mengenakkan selalu menghantui. Ketika ayahnya diburu oleh aparat karena tergabung ke dalam organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat yang juga dianggap terafiliasi dengan partai yang disebut bertanggung jawab atas peristiwa pembantai enam jenderal dan satu perwira pada tanggal 1 Oktober 1965. Setelah ayahnya terus diburu dan sampai suatu waktu tidak pernah kembali, nasib naas justru menimpa ibu, kakak, bahkan dirinya sendiri. Pada salah satu bab dalam novel ini menggambarkan berbagai kekerasan yang diterima oleh keluarga Alam. Kekerasan fisik hingga pemerkosaan terus dilakukan oleh aparat yang bertugas kepada ibunya. Sesuatu yang amat menyedihkan, siapapun yang terindikasi berhubungan secara langsung maupun tidak langsung akan terkena dampaknya. Keluarga Alam adalah salah satu dari banyaknya orang yang juga ikut tertulis dalam daftar hitam. Belum lagi mereka yang berada di luar negeri tidak dapat kembali ke tanah air karena status kewarganegaraannya telah dicabut. Dan belum lagi dengan banyaknya kaum buruh tani yang sempat diberi sembako serta alat-alat tani dibunuh tanpa proses pengadilan. Kembali pada konteks novel, sedari duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas tidak jarang pula Alam mendapatkan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan dari orang lain karena dicap sebagai anak tapol, bahkan perlakuan itu ia dapatkan dari saudaranya sendiri. Jika dilihat dari kacamata mimetik, karya ini merupakan representasi dari kehidupan sosial pada masa itu.
Hal yang paling mengesankan dari novel ini adalah keberaniannya untuk mengungkap sejarah. ketika kita mulai mengerti betapa pandainya rezim orde baru membangun narasi proganda, doktrinisasi, dan yang paling jelas adalah sejarah kejahatan kemanusiaan yang ditutupi terhadap
masyarakat Indonesia selama puluhan tahun. Bahkan hingga saat ini masih banyak di antara kita yang tidak mengetahui hal itu. Sebetulnya yang mesti kita sadari adalah tentang nilai kemanusiaan yang seringkali digadaikan demi ambisi kekuasaan dan kepentingan politik. Padahal tidak ada yang lebih berharga dan yang lebih penting selain nyawa manusia di dunia ini. Sejauh ini, hasil dari investigasi yang telah dilakukan oleh beberapa lembaga resmi seperti Komnas HAM dan KontraS mencatat setidaknya tiga juta orang mengalami genosida 1965, satu koma lima juta di antaranya dicatat pernah ditahan tanpa proses pengadilan. Nama-nama besar seperti Pramoedya Ananta Toer yang tidak asing di kalangan sastrawan, budayawan, dan penulis juga terseret ke pulau Buru untuk ditahan. Namun sampai saat ini tidak ada sikap pertanggungjawaban dari pemerintah Indonesia terhadap nama-nama yang pada akhirnya tidak terbukti bersalah, padahal energi, waktu, dan kehidupannya telah dirampas begitu saja.
Setelah membaca novel ini dapat disimpulkan bahwa sejarah seringkali sengaja ditutup-tutupi bahkan dikarang sesuai dengan kepentingannya. Kita bisa membayangkan betapa selama ini ada banyak sekali teka-teki yang harus kita cari jawabannya, ada banyak sekali sejarah yang harus kita gali untuk ditemukan kebenarannya, dan ada banyak sekali sesutau yang tidak terlihat harus kita lihat dengan menguliti kompleksitasnya.
Dengan adanya novel “Namaku Alam” hendaknya dapat membuka mata hati dan pikiran kita untuk terus menggali serta mengkaji sejarahsejarah yang ada di Indonesia, terutama persoalan kelam pada tahun 1965. Selain itu, kita harus berterima kasih kepada Leila S Chudori karena telah membuat karya yang amat penting untuk dikaji oleh masyarakat, akademisi, sejarawan, maupun pengamat sosial dan politik.
Referensi
Chudori, L. S. (2023). Namaku Alam. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Santayana, G. (2024). Kehidupan Akan Budi (A. Setyawan, Penerj.). Pustaka Filsafat. (Karya asli diterbitkan tahun 1905).
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. (2012). Pertanyaan Komnas HAM tentang Hasil Penyelidikan Pelanggaran HAM Berat Peristiwa 1965- 1966. Komnas HAM.
PINTU RUMAH LARIK TERAKHIR
Regina Dara
Aku Dara, anak Kayu Aro jago rebahan. Aku memiliki sahabat bernama Agustian dan Rapiah. Tiga bulan pertama di kelas kami tak pernah akur. Sampai bu Rini memberikan tugas kelompok berupa video tentang dokumentasi budaya Kerinci dan kami menjadi satu kelompok.
“Sekelompok dengan kalian berdua? Mati aku,” kata Rapiah.
Agustian tiba-tiba mengangkat tangan.
“Ke rumah nenek ku saja di Siulak. Ada rumah larik asli. Usianya sudah seratus tahun lebih!”
Singkat cerita, kami pun bersepakat dengan saran Agustian. Perjalanan kami ke rumah larik hampir dua jam lebih. Rumah itu lumayan besar dengan tiang dua belas dari kayu tembesu, sembilan belas anak tangga, atap ijuk, anyaman tikar di bagian depan, serta di dalamnya penuh dengan kayu tua dan kemenyan.
Kedatangan kami disambut baik oleh Neneknya Agustian, Nek Pintak Ulih. Umurnya sudah 20 tahun dan giginya tinggal dua.
“Akhirnya ada anak muda yang mau ke sini. Mari masuk, rumah ini memang menunggu kalian,” sambut Nek Pintak Ulih.
Kami menghabiskan tiga hari disana. Hari pertama, Nek Pintak Ulih mengajarkan kami cara menganyam tikar dari daun pandan. Hari kedua, Agustian mengajarkan kami manjau, cara memanggil hujan dengan pantun. Benar saja, hujan turun deras malamnya.
Hari ketiga, nek Pintak Ulih cerita tentang Tambo Kerinci, tentang depati, tentang kenduri Sko, tentang mengapa rumah larik harus Sembilan tangga.
“Tangga ini untuk naik ke adat, bukan untuk sombong,” kata Nek Ulih sambil mengelus tiang.
Malam terakhir nenek memasak gulai daun ubi dan pindang.
“Nenek titip, ya. Jaga rumah ini dan adanya. Jangan sampai dijual orang,” bisik nek Ulih sambil memegang tangan kami bertiga.
“Iya, Nek. Kami berjanji,” balas kami sambil tertawa.
Dua minggu berlalu dengan cepat. Hari itu, kabar buruk sampai ke sekolah kami. Saat bel pulang sekolah berbunyi, salah satu pegawai tata usaha sekolah masuk.
“Anak-anak, innalillahi. Nek Ulih dari Siulak meninggal dunia tiga hari yang lalu. Jasadnya ditemukan di dalam rumah Larik.”
Mendengar kabar meninggalnya Nek Ulih, Agustian langsung pingsan di kelas. Seminggu ia tak masuk sekolah. Saat sudah kembali bersekolah matanya bengkak.
“Om ku ingin menjual rumah larik itu seharga lima puluh juta, karena tak ada yang yang ingin merawat, dan lahannya akan dijadikan kebun kopi,” katanya.
Tiga hari sebelum pengumpulan tugas, folder video kami masih kosong. Melihat itu aku aku marah.
“Rapiah! Kita sudah tiga hari rekaman. Di mana datanya?!”
“Aku hapus! Kenapa? Karena dua minggu lagi aku akan pindah ke Jambi. Bapakku mutasi! Jika video itu jadi, aku makin tidak rela untuk meninggalkan Kerinci!” balas Rapiah marah.
Suasana menjadi hening. Agustian tiba-tiba berdiri.
“Jadi persahabatan kita juga kamu hapus?” tanya Agustin kecewa.
Rapiah berlari keluar. Tim kami resmi bubar.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Jam sebelas malam aku menghubungi Agustian.
“Ke Siulak, yok! Untuk terakhir kali.”
“Oke,” balas Agustian singkat.
Jam lima pagi kami berangkat. Suasana masih gelap, dingin, dan gerimis turun. Sampai di lokasi, kami melihat kondisi rumah larik yang kosong berdebu. Di dinding ada tulisan tangan nek Ulih. Anak cucu, jaga rumah ini, jaga cerita ini. Jangan jual ingatan.
“Kita gagal, Dar. Adat, rumah, semuanya gagal,” Agustin menangis.
Tiba-tiba sorot ada cahaya senter membelah kegelapan. Rapiah muncul dengan tubuh yang basah kuyup sambil membopong ransel.
“Aku tidak menghapusnya. Aku hanya menyalinnya ke harddisk. Aku berbohong soal pindah. Aku menolaknya karena aku tak ingin menyesal seumur hidup,” jelas Rapiah.
Kami bertiga akhirnya duduk di atas tikar dan membuka laptop. Meski tidak ada listrik, kami mengedit video diiring tawa dan haru.
Video itu kami beri judul “Pintu Rumah Larik Terakhir. Rekaman yang menampilkan Nek Pintah Ulih menganyam tikar sambil berpantun dalam Kerinci, Agustian yang sedang menjelaskan filosofi sembilan tangga, serta Rapiah yang awalnya meledek, tetapi berujung memeluk Nek Ulih dengan erat, sambil berbisik, “Terima kasih, Nek.”
Satu bulan kemudian, pengumuman lomba video budaya Kerinci akhirnya keluar. Siapa sangka, kami berhasil meraih Juara 1 tingkat Provinsi Jambi. Hadiahnya bukan berupa uang, melainkan surat resmi dari Dinas Kebudayaan dan Bupati. Rumah Larik milik Nenek Ulih dibeli oleh Pemerintah Daerah untuk dijadikan museum mini, dengan Agustian Ramadan sebagai pengelolanya.
Hari peresmian tiba. Seluruh warga desa dan siswa satu sekolah hadir memenuhi lokasi. Kami bertiga mendapat kehormatan untuk memotong pita peresmian. Di dalam Rumah Larik, kini terpajang foto kami bertiga.
“Kamu hebat, nenekmu pasti bangga,” bisik Pak Camat pelan kepada Agustian.
Dengan langkah gemetar, Agustian maju ke depan mik.
“Assalamu’alaikum. Saya Agustian. Rumah Larik ini dulu milik nenek saya, Nenek Ulih. Awalnya kami ke sini hanya untuk menyelesaikan tugas sekolah, tetapi sekarang, kitalah yang ditugaskan untuk terus menjaga dan mengingat budaya ini.”
Acara berlanjut saat MC memanggil Rapiah ke depan.
“Selanjutnya, Ananda Rapiah, yang rela menolak pindah demi kelestarian budaya!”
Dengan langkah yang mantap dan senyuman lebar, Rapiah melangkah ke depan mik.
“Saya tidak jadi pindah, Pak, Bu, karena PR saya di Kerinci belum selesai!” ucap Rapiah.
Tepuk tangan gemuruh dari seluruh warga sekolah seketika membahana.
Kini, kehidupan kami berjalan dengan peran masing-masing. Setiap pulang sekolah, aku selalu pergi ke museum untuk mengedit konten video tentang perkembangan Museum Rumah Larik. Agustian bertindak sebagai juru kunci, yang saban hari telaten mengajari anak-anak SD dan SMP cara manjau serta menganyam tikar dari daun pandan. Sementara itu, setiap hari Jumat, Rapiah selalu memboyong teman-teman sekelasnya berkunjung ke museum. Jika ada yang berani mengejek atau malas, Rapiah akan menyemprotnya.
“Kamu duduk di tanah Kerinci tapi tidak tahu budayanya? Malu!”
Dan setiap hari Sabtu, di atas tikar yang terbentang di teras Rumah Larik, anak-anak SMP dan SMA selalu berkumpul untuk belajar budaya secara gratis.
TAMAT
Tentang Penulis: Regina Dara adalah murid SMAN 7 Kerinci.
PERJALANAN YANG HAMPIR BERAKHIR
Minggu pagi adalah waktu yang paling aku sukai. Tidak ada sekolah dan aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan. Pagi itu, aku berencana pergi ke rumah sahabatku, Salsa. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku, jadi biasanya aku pergi dengan berjalan kaki.
“Bu, aku pergi ke rumah Salsa sebentar, ya,” ucapku pamit.
“Iya, tapi jangan pulang terlalu sore. Hati-hati di jalan,” jawab Ibu.
“Iya, Bu.”
Aku kemudian keluar dari rumah dan berjalan menuju rumah Salsa. Cuaca pagi itu cukup cerah. Jalanan di sekitar rumahku juga masih terlihat ramai. Ada beberapa orang yang sedang membersihkan halaman dan anak-anak kecil yang sedang bermain.
Aku berjalan dengan santai sambil sesekali melihat ponsel. Karena sudah sering melewati jalan tersebut, aku tidak merasa khawatir sama sekali.
Setelah beberapa menit berjalan, aku mulai memasuki jalan yang lebih sepi. Di sana hanya ada beberapa rumah dan tidak banyak orang yang lewat. Saat sedang berjalan, aku melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir di pinggir jalan. Aku tidak terlalu memperhatikannya dan terus berjalan. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara kendaraan dari belakang. Ketika menoleh, ternyata mobil hitam yang tadi kulihat mulai berjalan perlahan ke arahku.
Awalnya aku mengira mobil itu hanya kebetulan menuju jalan yang sama. Aku pun tetap berjalan seperti biasa. Namun, semakin lama mobil tersebut semakin dekat. Perasaanku mulai tidak nyaman. Aku mempercepat langkah. Anehnya, mobil itu juga ikut berjalan lebih cepat. Aku kembali menoleh dan melihat kaca mobil yang cukup gelap. Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalamnya.
“Jangan-jangan aku cuma berpikir yang aneh-aneh,” pikirku.
Aku mencoba menenangkan diri dan terus berjalan menuju jalan yang lebih ramai.
Tiba-tiba kaca mobil terbuka.
“Hei, Nak!”
Aku menoleh sebentar. Seorang laki-laki yang tidak kukenal sedang berbicara kepadaku.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menundukkan kepala dan mempercepat langkah.
“Sebentar, sini dulu!”
Mendengar perkataan itu, aku semakin takut. Aku langsung mengambil ponsel dari saku. Aku ingin menelepon Ibu, tetapi tanganku mulai gemetar. Di depan, aku melihat sebuah warung yang cukup ramai. Tanpa berpikir panjang, aku segera berjalan cepat menuju warung tersebut.
Namun, sebelum aku sampai, terdengar suara pintu mobil dibuka.Aku menoleh dan melihat laki-laki tadi turun dari mobil. Saat itu aku benar-benar panik.Aku langsung berlari menuju warung.
“Pak! Tolong!” teriakku.
Orang-orang yang berada di warung langsung melihat ke arahku. Aku berhenti di dekat mereka sambil mengatur napas.
“Ada apa, Dek?” tanya seorang bapak.
“Ada orang yang mengikuti saya dari tadi,” jawabku dengan suara gemetar.
Bapak tersebut kemudian melihat ke arah jalan. Laki-laki yang tadi mengejarku sudah masuk kembali ke dalam mobil.
“Kamu jangan pergi sendirian dulu. Tunggu keluargamu datang di sini,” kata bapak itu.
Aku mengangguk dan segera menelpon Ibu.
“Bu…” suaraku terdengar bergetar.
“Iya, Naya? Kenapa?”
“Aku takut, Bu. Tadi ada orang yang mengikuti aku.”
Ibu langsung terdengar khawatir.
“Kamu sekarang di mana?”
Aku menjelaskan tempatku berada.
“Jangan ke mana-mana. Tunggu di sana. Ibu segera datang.”
“Iya, Bu.”
Aku menunggu bersama orang-orang di warung. Beberapa menit terasa sangat lama. Aku masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Kalau tadi aku memilih untuk mendekati mobil tersebut, mungkin keadaannya bisa menjadi lebih buruk. Tidak lama kemudian, Ibu datang bersama kakakku. Aku langsung menghampiri mereka.
“Naya, kamu tidak apa-apa?” tanya Ibu sambil memegang tanganku.
Aku menggeleng.
“Aku cuma takut, Bu.”
Ibu kemudian memelukku dan mengatakan bahwa aku sudah melakukan hal yang benar karena memilih pergi ke tempat ramai dan meminta bantuan.
Saat kami hendak pulang, tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam melintas di depan warung. Aku langsung mengenalinya.
“Itu mobil yang tadi, Bu!”
Ibu melihat ke arah mobil tersebut. Kakakku juga ikut memperhatikannya. Mobil itu sempat berjalan pelan sebelum akhirnya pergi menjauh.
Aku hanya bisa berdiri di samping Ibu. Jantungku kembali berdebar ketika melihat mobil tersebut.
“Sudah, kita pulang saja,” kata Ibu.
Aku mengangguk.
Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Aku masih memikirkan kejadian tadi. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan duduk di tempat tidur. Aku teringat pesan Ibu sebelum berangkat.
“Hati-hati di jalan.”
Dulu aku sering menganggap pesan itu sebagai sesuatu yang biasa. Namun hari itu aku benar-benar mengerti maksudnya.
Aku kemudian menghubungi Salsa dan mengatakan bahwa aku tidak jadi datang karena ada kejadian yang membuatku takut. Salsa sangat khawatir dan mengatakan bahwa lain kali kami bisa bermain bersama di tempat yang lebih ramai.
Sejak kejadian itu, aku menjadi lebih berhati-hati ketika pergi sendirian. Aku selalu memberi tahu keluarga ke mana aku pergi dan berusaha menghindari jalan yang sepi. Aku juga belajar bahwa ketika berada dalam keadaan yang membuat kita tidak nyaman, kita harus berani meminta pertolongan. Tidak perlu merasa malu atau takut untuk mengatakan bahwa kita sedang membutuhkan bantuan.Kejadian itu memang berlangsung singkat, tetapi akan selalu kuingat.
Hari itu aku pergi dengan perasaan senang karena ingin bermain bersama sahabatku. Namun, aku pulang membawa sebuah pelajaran yang tidak akan pernah kulupakan.
Sekarang, setiap kali Ibu berkata, “Hati-hati di jalan,” aku selalu menjawab dengan sungguh-sungguh.
“Iya, Bu.”
Karena aku tahu, terkadang satu keputusan kecil untuk berhati-hati bisa membuat kita terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan.
TAMAT
Tentang Penulis: Rara Sopia Marsanda adalah murid SMAN 6 Tanjab Timur.

