Supik Saro
ditulis oleh Deara
“Aku tidak mengerti kenapa Bunda lebih dikenal sebagai Supik Saro,” kata anak kecil ini.
Tentu tidak akan kujawab ucapan dia. Nanti dia terbirit-birit mencari Supik Saro. Mengadu banyak hal. Mati kami, meleleh kena bakar.
Selepas Supik Saro kembali ke ruang tengah yang dihias dengan benda ala kadar seperti radio dan TV tabung yang tidak pernah hidup selama aku di sini. Anak kecil tadi tergopoh-gopoh duduk, tangannya menerima segelas air dalam cangkir hijau kecil yang sudah baret.
“Bunda ke depan dulu, Serit.”
Langkah kecil Supik Saro beradu dengan lantai kayu lapuk yang ditambal dengan papan kayu baru yang sebenarnya sama saja, terlihat jelek, tidak kokoh. Tidak berbeda dengan dinding kayu yang lubang-lubang kecilnya ditambal koran dan beribik yang teronggok di sudut ruangan. Berbeda dengan tiang rumah yang kalau kuperhatikan ketika Serit menentengku terlihat baik-baik saja. Mungkin tiang itu akan tetap kokoh menopang kami. Entahlah, aku juga tidak tahu, aku saja dipungut.
Ah, sebentar. Supik Saro kembali. Bunda Serit kembali.
“Nak, tetap di rumah, jangan ke mana-mana, ya! Bunda cuci baju dulu.” Wah, senyum Supik Saro muncul siang ini. Masih sama ketika kali pertama aku melihatnya. Cantik, walau matanya sering merah, bengkak, mendadak sipit, padahal dia tidak sipit.
“Tempat biasa ya, Bun?”
Tak kudengar lagi jawaban Supik Saro, yang kudengar cuma langkahnya lagi yang beradu dengan papan. Kini cahaya di ruangan tengah berasal dari sela dinding papan. Pintu rumah sudah ditutup dari luar.
Serit kembali melihat ke arahku. Kalau anak enam tahun ini sudah beringsut mendekat dengan senyum sampai keluar gigi ompongnya, rasanya aku ingin lari saja, tapi aku tidak punya kaki.
Dia mulai menunjuk-nunjuk kami. “Satu … dua … tiga … empat … lima … enam …. Apa harus aku tambah lagi?”
Jujur saja, sebenarnya aku tidak mau memanggil Bunda Serit ini dengan sebutan Supik Saro. Nama dia sebetulnya sangat bagus, kuketahui ini dari mendengar obrolan kecil mereka sebelum tidur di malam yang lain. Nama Supik Saro adalah Maisara. Secantik dan seteduh senyumannya, walau senyuman itu langka.
Kata Bunda Serit, ‘Supik Saro’ itu seperti kata lain untuk menghina dengan maksud yang sama saja, yaitu perempuan susah, perempuan sulit. Aku tidak hendak menggurui. Namun, karena asal-usulku yang begitu beragam dan sudah lama berada di jalanan dusun ini, yaitu sebuah dusun di Kabupaten Muaro Jambi yang sedikit banyak aku tahu bahwa panggilan Supik Saro itu bukanlah sesuatu yang baik. Aku telah berkali-kali berpindah tempat karena ditendang anak-anak usil ke sembarang arah. Kadang-kadang, air hujan yang menggenang bahkan menyeretku hingga ke semak-semak.
Ah, mau tak mau tetap kusebut saja Supik Saro, agar leluasa aku menceritakan dia.
Sedikit yang kutahu soal Supik Saro.
Singkatnya, dulu dia tinggal dengan Ibu, ditelantarkan oleh Bapak dari usia sepuluh tahun. Hidup pas-pasan. Bunting di usia delapan belas tahun. Ketika aku dibawa Serit ke rumah ini, Supik Saro banyak berceloteh. Keduanya sama saja, gemar berbicara padaku.
Hanya dua belas orang yang datang di malam ketika perayaan tujuh bulan kehamilan Supik Saro. “Najis kalau kita datang. Dia sudah mengotori nama dusun ini, mendatangkan aib bagi warga dusun ini. Kalau kita datang mendoakan kelancaran dan keselamatan anaknya, sama saja dengan kita membenarkan kelakuannya yang berdosa itu.” Mata Supik Saro merebak menahan tangis ketika menirukan gaya bicara orang yang mengatakan itu.
Ibu meninggal setelah Supik Saro berhasil melahirkan Serit. Tidak langsung meninggal di hari itu juga, tidak. Kalau tidak salah … sekitar dua bulan setelahnya. Di tengah duka itu, beberapa bergonjang-ganjing macam anjing. “Ibunya mati, mungkin juga malas hidup menanggung aib.” Yang lain menyahut, “Aku datang melayat karena kasihan dengan ibunya yang lama ditinggal laki. Terpikir ibunya saja, kalau terpikir ke anaknya juga aku tak sudi.”
Deras air mata Supik Saro malam itu ketika memberitahuku serpihan hidupnya. Terengap-engap dia mengambil napas karena hidungnya ingusan. “Aku tetap seorang manusia. Hatiku masih ada,” katanya. Di bawah lampu neon kecil ruangan tengah rumah, dia kembali menceritakan serpihan lain.
Tidak ditinggalkan utang piutang adalah hal pertama yang Supik Saro syukuri setelah kesedihan meninggalnya Ibu, jadi dia bisa bertahan hidup dengan tabungan Ibu yang tidak seberapa. Rajin menanam katuk di halaman rumah, lalu berangsur dipetik jika sudah siap, direbus, dimakan, semata-mata usahanya agar ASI untuk Serit tetap lancar. Tetangga yang waras, sering membelikan makan dan buah, beberapa memberi pakaian bekas yang masih layak pakai dari anaknya untuk Serit.
Satu tahun usia Serit, Supik Saro menawarkan ke tetangga atau warga dusun untuk mempekerjakannya sebagai pembantu, tukang cuci, atau apa saja yang sekiranya dibayar. Namun, awal yang didapat Supik Saro bukan pekerjaan. “Makin susah saja hidupmu ini, Maisara. Saro. Kau ini Supik Saro.” Hari berikutnya Maisara lebih dikenal sebagai Supik Saro.
Usai berhitung dan menatap kami, Serit membentangkan tikar rumbai, menepuk-nepuk bantal dan … sepertinya ia tidur. Baguslah jika ia tidur, tetapi aku tak yakin kalau ia benar-benar tidur, karena tidak biasanya ia tidur di siang hari.
Kembali di malam lain, Supik Saro kembali berceloteh bahwa Serit pernah bertanya tentang ayahnya. Seperti dijatuhi buah kelapa bulat-bulat di kepala ketika hendak menjawab pertanyaan Serit, tapi Supik Saro selalu menjawab bahwa Ayah Serit sedang di luar, tidak tahu kapan pulang. Kembali Serit bertanya, “Kalau Serit haus, Serit pasti pulang ke rumah minta minum sama Bunda karena Bunda tidak boleh Serit minum di rumah orang, kalau Ayah haus … emang Ayah tidak pulang, Bun?”
Supik Saro tidak memikirkan jawaban lain, maka dia menjawab, “Ayah beli air minum di luar. Air di botol.”
Tak pernah terpikir juga oleh Supik Saro bahwa jawabannya akan membawa kami ke rumahnya. Serit memungutku di sela semak, tangan mungilnya yang kurus meraba-raba badanku yang terbuat dari plastik, tubuhku setengah remuk terlindas ban sepeda, separuhnya berlumur lumut, tanah, dan debu. Aku tidak punya tutup di kepala. Agak aneh juga anak itu memilihku, padahal tentu ada banyak botol bekas lain yang lebih bagus.
Aku dibasuh dengan sabun mandi oleh Serit, wangi buah, lalu aku dipajang di rak bambu ruang tengah. Hari pertama di rak. Aku diisi air sumur yang sudah lama direbus dan kepalaku ditutup dengan plastik lalu diikat karet. “Kalau Ayah pulang, langsung Serit kasih minum ini ke Ayah,” ucap Serit riang. Supik Saro tidak bereaksi apa-apa, tapi Supik Saro bilang padaku bahwa ia cukup merasa iba, berbalut rasa bersalah.
Selain ada aku yang diisi dengan air rebus, dua bulan berikutnya ada kami—aku, lalu botol bertuliskan Ayah pasti ganteng, Ayah pulang, semoga Ayah bawa banyak mainan, mau dipeluk Ayah, dan satu botol tanpa judul sama seperti aku, tapi diisi dengan gulungan kertas kecil yang isinya harapan Serit untuk Ayah.
Setiap Malam sebelum tidur, Serit pasti akan meniup kami. “Tiup saja, siapa tahu besok Ayah betulan pulang.” Itu saja jawaban Serit kalau ditanya Supik Saro alasan dia meniup-niup botol. Kalau sudah terlelap, giliran Supik Saro yang kami dengar.
Sebentar. Terdengar suara lagi. Benar ‘kan! Serit belum tidur. Dia kembali mendekati kami. Gigi ompongnya terpampang. Matanya menatap ke arahku. “Kira-kira ayahku siapa, ya?”
“Tidak tahu. Ayahmu terlalu banyak dan tidak akan pernah ada yang datang.”
Sial. Botol Ayah pulang angkat suara. Serit terdiam. Entah karena terkejut mendengar botol bersuara atau terkejut karena kalimat yang disuarakan, aku tidak tahu, karena sorot matanya mati.
Tentang Penulis: Deara lahir di Desa Setiris pada 24 September 2005. Ia merupakan mahasiswi Sastra Inggris di Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi yang tertarik pada isu budaya dan perempuan, serta memiliki kecintaan khusus terhadap warna hitam. Sapa Deara melalui Instagram @deaara.24 atau email deaaara.24@gmail.com.

