Membaca Naskah-Naskah Pilihan FTR 2026, Peta Awal Sebelum Pilihan Diputuskan (Bagian III)
Keluarga, Tradisi, dan Pilihan Hidup
Oleh Titas Suwanda
Pada pembahasan dua bagian sebelumnya, terdedah bahwa naskah teater tidak cukup hanya memiliki cerita yang menarik. Ia membutuhkan mesin yang dapat menggerakkan panggung, konflik yang terus bertumbuh, tokoh yang memiliki kehendak, serta kemungkinan untuk diterjemahkan menjadi bahasa tubuh, suara, ruang, cahaya, benda, dan hubungan antarpemain.
Pada bagian ini, dikupas sejumlah naskah FTR 2026 yang berangkat dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga, perkawinan, adat, kepercayaan, pekerjaan, lingkungan, dan hubungan manusia dengan tradisinya.
Bahan-bahan semacam ini sebenarnya sangat kaya. Namun, ada satu pertanyaan penting bagi calon pemain dan sutradara: Apakah tradisi hanya menjadi latar cerita, atau benar-benar menjadi kekuatan yang mengubah hidup tokoh?
Sebab panggung tidak hanya membutuhkan informasi tentang sebuah tradisi. Panggung membutuhkan peristiwa. Tradisi menjadi menarik ketika seseorang harus memilih. Ketika seorang anak harus berhadapan dengan keputusan orang dewasa. Ketika kepercayaan berbenturan dengan kebutuhan. Ketika sesuatu yang diwariskan dari masa lalu tiba-tiba berhadapan dengan dunia hari ini. Di situlah cerita mulai bergerak.
Bagian ini mengupas tujuh naskah FTR 2026. Menuak, Nur, Patok, Penurun Hujan, Secanting Beras, Sumbun, dan Kenduri Sko.
- MENUAK karya Diana Aini
Ada naskah lain berjudul Menuak dalam kumpulan FTR 2026. Naskah ini berbeda dari Menuak karya Megawaty S. yang dibahas pada Bagian II. Jika Menuak karya Megawaty berpusat pada kehamilan dan hubungan antara tradisi dengan pemeriksaan medis, Menuak karya Diana Aini bergerak ke wilayah yang jauh lebih gelap: keluarga, kecemburuan, kemiskinan, kekerasan, dan akibatnya terhadap anak.
Potensi dramatik yang menarik justru bukan ritualnya. Tradisi Menuak hadir sebagai bagian dari dunia cerita, tetapi kekuatan dramaturgis naskah ini sebenarnya dapat ditemukan pada hubungan antartokohnya. Leman, Midah, Bujang, dan tokoh-tokoh keluarga di dalamnya membuka persoalan tentang rumah sebagai tempat yang seharusnya memberi perlindungan, tetapi justru dapat menjadi ruang konflik.
Bagi penyutradara, ini adalah peluang untuk mengubah ruang rumah menjadi ruang psikologis. Satu meja, satu pintu, satu benda, dan satu bunyi dari luar. Semua dapat menjadi pemicu ketegangan.
Satu kemungkinan pengembangan yang menarik adalah menjadikan toko Bujang sebagai pusat emosional pertunjukan. Jika orang dewasa sibuk dengan persoalan mereka sendiri, apa yang dilihat seorang anak? Apa yang ia dengar? Apa yang ia pahami? Apa yang ia bawa setelah semua peristiwa itu selesai?
Dengan perspektif tersebut, kekerasan keluarga tidak hanya menjadi kejadian dramatis, tetapi menjadi pengalaman yang membentuk seorang anak.
Tantangan
Naskah memiliki muatan emosi yang berat. Karena itu, pertunjukan tidak perlu mengejar ledakan emosi terus-menerus. Justru kontras antara adegan biasa dan adegan tegang dapat membuat penonton lebih merasakan perubahan. Kelompok yang memilih naskah ini perlu memiliki aktor yang mampu bermain dengan emosi tertahan, bukan hanya menangis atau berteriak.
Sutradara perlu berhati-hati agar kekerasan tidak hanya menjadi alat untuk menghasilkan efek emosional. Jika semua konflik diarahkan menuju ledakan, pertunjukan dapat kehilangan lapisan. Bagaimana konflik itu tumbuh sedikit demi sedikit. Bujang, khususnya, dapat menjadi pintu masuk untuk membaca naskah ini dengan perspektif yang lebih dalam.
- NUR karya Gavin Chandrawira
Nur membawa persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan remaja perempuan: pendidikan, keluarga, perjodohan, dan pilihan masa depan. Nur masih memiliki keinginan untuk melanjutkan sekolah. Namun keluarga mulai membicarakan perjodohannya. Bahkan ketika Nur belum terlihat di ruang panggung, keputusan tentang hidupnya sudah dibicarakan oleh orang-orang dewasa. Di sinilah konflik naskah sebenarnya mulai bekerja.
Apa yang sebenarnya diinginkan Nur menjadi persoalan dramaturgis naskah ini. Tokoh Nur berada di tengah konflik, tetapi dalam beberapa bagian ia lebih banyak menjadi objek dari keputusan tokoh-tokoh lain. Padahal, panggung akan menjadi jauh lebih kuat apabila Nur sendiri memiliki kehendak yang harus diperjuangkan. Sebab konflik bukan hanya terjadi ketika dua orang berbeda pendapat. Konflik terjadi ketika seseorang menginginkan sesuatu dan ada kekuatan yang menghalanginya.
Siapa yang menentukan hidup Nur? Apakah Nur akan menikah atau sekolah? Apakah Nur memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri masa depannya? Jika pertanyaan ini menjadi pusat pertunjukan, tokoh Nur harus memperoleh ruang sebagai subjek. Ia bukan sekadar anak perempuan yang menjadi bahan pembicaraan orang dewasa.
Tantangan
Naskah ini perlu menghindari jebakan “tradisi versus modernitas” yang terlalu sederhana. Tradisi tidak harus selalu menjadi pihak yang salah. Modernitas juga tidak otomatis menjadi jawaban. Hal yang jauh lebih menarik adalah mempertemukan manusia dengan pilihannya.
Jika dimainkan secara biasa, tokoh-tokoh orang tua dapat menjadi terlalu dominan. Sementara Nur hanya menunggu keputusan. Sutradara dapat mencari cara agar penonton mengetahui keinginan Nur secara kuat bahkan ketika ia tidak banyak berbicara. Bisa melalui surat. Benda sekolah seperti buku dan seragam, atau hubungan Nur dengan ruang rumah. Dengan begitu, keinginan Nur hadir bahkan ketika tubuhnya tidak selalu hadir di panggung.
Naskah ini sangat dekat dengan pemain seusia pelajar dan remaja karena persoalannya berhubungan dengan pertanyaan: Siapa yang berhak menentukan masa depan seorang anak? Itulah yang dapat membuat pertunjukan lebih kuat daripada sekadar menyampaikan pesan tentang pendidikan.
- PATOK karya Alief Hasbunallah
Patok menawarkan sesuatu yang secara dramaturgis cukup menarik: konflik tanah dan kepemilikan yang diwujudkan melalui sebuah benda sederhana, patok. Benda kecil itu dapat menjadi pusat panggung. Ia dapat dipindahkan, dicabut, ditanam Kembali, diperebutkan. Bahkan dapat menjadi objek komedi sekaligus simbol perebutan ruang.
Tokoh-tokohnya yang menggunakan nama seperti Si Anu, Si Ini, dan Si Itu juga membuka kemungkinan pembacaan yang lebih absurd dan satiris. Sutradara sebenarnya memiliki peluang untuk tidak memainkan naskah Patok secara realis. Bayangkan jika patok bukan sekadar benda yang diletakkan di halaman, tetapi menjadi pusat permainan seluruh aktor. Ruang panggung dapat berubah hanya karena posisi patok berubah. Satu benda mengubah hubungan antarmanusia. Itulah salah satu cara benda sederhana menjadi bahasa teater.
Tantangan
Karena persoalannya dapat berkembang ke banyak arah, sutradara harus menentukan pusat konflik. Jangan sampai patok hanya menjadi alasan untuk menghadirkan serangkaian peristiwa lucu. Potensi dramaturgi yang lebih menarik adalah melihat bagaimana sebuah benda kecil dapat membongkar sifat manusia.
Persoalan utama naskah ini adalah penyebaran konflik. Karena persoalan tanah dapat merambat ke banyak tokoh dan kepentingan, cerita berisiko menjadi episodik. Sutradara perlu menemukan satu garis konflik utama. Bukan sekadar siapa mendapatkan tanah. Tetapi mengapa tanah itu begitu penting sehingga manusia bersedia melakukan apa saja untuk mempertahankannya? Ketika pertanyaan kedua mulai bekerja, patok tidak lagi sekadar properti. Ia menjadi simbol.
- PENURUN HUJAN karya Ayu Diah Lestary
Penurun Hujan berangkat dari situasi yang sederhana: hujan menjadi sesuatu yang ditunggu, tetapi keluarga justru berdebat tentang siapa atau apa yang menyebabkan hujan turun. Tokohnya terdiri atas Bapak, Mamak, Kakak, dan Adik. Masing-masing memiliki cara pandang sendiri terhadap hujan: mistik, religius, tradisional, dan ilmiah.
Satu keluarga, banyak cara mengetahui dunia Inilah kekuatan naskah. Konflik tidak perlu dipahami hanya sebagai pertentangan paradigma agama versus ilmu pengetahuan. Ada adat. Ada pengalaman. Ada keyakinan. Ada sains. Ada keinginan manusia untuk memahami alam. Perdebatan tersebut menjadi menarik karena semua tokoh merasa memiliki alasan.
Konfliknya mempertemukan beberapa cara manusia memahami alam: ilmu pengetahuan, keyakinan, pengalaman, dan kepercayaan. Persoalannya kemudian bukan hanya siapa yang benar tentang hujan. Melainkan, apa yang dilakukan manusia ketika sesuatu yang sangat dibutuhkan berada di luar kendalinya?
Hujan sebaiknya tidak hanya hadir sebagai efek suara. Ia dapat menjadi bagian dari dramaturgi. Sebelum hujan: ruang kering, tubuh gelisah, suara angin. Setelah hujan: ritme berubah, tubuh berubah, suara berubah, cahaya berubah. Dengan pendekatan semacam itu, hujan menjadi pengalaman, bukan dekorasi.
Tantangan
Dialog naskah cukup banyak. Karena itu, kelompok yang memilihnya harus berhati-hati agar pertunjukan tidak menjadi “adu argumentasi” di ruang tamu. Pertanyaan yang mereka perdebatkan harus menghasilkan tindakan. Jika Bapak percaya sesuatu, ia melakukan sesuatu. Jika Adik percaya sesuatu, ia bertindak. Jika Kakak percaya sains, pengetahuannya harus memengaruhi tindakan panggung. Dengan begitu, gagasan menjadi peristiwa.
- SECANTING BERAS karya Hendry Nursal
Secanting Beras mengangkat persoalan yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat terhadap anak dan kecerdasan. Sepasang orang tua, Ardi dan Lia, khawatir setelah anak mereka melakukan sesuatu yang kemudian dianggap sebagai pertanda bahwa anak tersebut akan menjadi bodoh. Mereka kemudian masuk ke dalam ritual yang berhubungan dengan “jual anak” dengan secanting beras.
Di balik unsur komedi dan ritual, ada persoalan yang cukup manusiawi, ketakutan orang tua terhadap masa depan anak. Apa yang terjadi ketika orang tua terlalu takut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum terjadi? Apa yang terjadi ketika sebuah kepercayaan diwariskan tanpa benar-benar dipahami? Di sinilah naskah dapat dibaca lebih dalam.
Naskah ini memiliki peluang menjadi komedi rakyat. Tetapi kelucuan jangan hanya muncul dari karakter yang dianggap “percaya hal aneh”. Lebih menarik jika komedi muncul dari keseriusan tokoh menghadapi situasi yang absurd. Semakin sungguh-sungguh mereka mempercayai situasi tersebut, semakin kuat potensi komedinya.
Namun komedi memiliki satu bahaya ketika sesuatu ditertawakan, apa sebenarnya yang sedang kita tertawakan? Apakah perilaku manusianya? Ketidaktahuannya? Situasinya? Atau justru kepercayaannya? Pertanyaan ini penting karena cerita yang mengambil bahan dari tradisi mudah tergelincir menjadi sekadar lelucon tentang masyarakat tradisional. Padahal, teater dapat menertawakan manusia tanpa harus merendahkan kebudayaannya.
Ritual, pohon, ayam, beras, dan mantra dapat menjadi unsur visual. Namun jangan semuanya ditampilkan secara realis. Pohon dapat dibentuk oleh tubuh ensemble. Mantra dapat menjadi bunyi berulang. Secanting beras dapat menjadi benda simbolis. Dengan begitu, panggung memiliki dunia sendiri.
Tantangan
Jika akhir cerita terlalu cepat menjelaskan bahwa semua itu tidak nyata, misteri dan permainan imajinasi dapat berkurang. Sutradara dapat mempertahankan sedikit ambiguitas. Biarkan penonton bertanya apakah yang mereka alami benar-benar terjadi? Atau ketakutan merekalah yang membuat semua itu terasa nyata?
- SUMBUN karya Devi Hanan
Sumbun membawa penonton ke Kampung Laut, Tanjung Jabung Timur, ketika musim sumbun tiba. Tokoh-tokoh muda datang berhadapan dengan tradisi Mutik Sumbun dan kehidupan masyarakat yang telah lama menjadikan sumbun bagian dari kebiasaan mereka.
Persoalan naskah menjadi menarik ketika anak muda memandang tradisi sebagai sesuatu yang melelahkan atau tidak menarik. Jamal, misalnya, lebih tertarik pada permainan digital daripada mengikuti tradisi berburu sumbun. Dialog tentang tradisi bahkan memperlihatkan bagaimana pengetahuan lokal diwariskan melalui cerita orang tua.
Konflik ini sangat dekat dengan kehidupan remaja: Apakah sesuatu harus dianggap penting hanya karena merupakan tradisi? Atau, haruskah tradisi menemukan cara baru agar tetap menarik bagi generasi berikutnya?
Potensi panggung musim sumbun memberi kemungkinan visual yang khas. Suara pantai, angin, lampu malam, aktivitas berburu, gerak kelompok. Semua dapat menjadi bagian dari koreografi panggung. Kelompok tidak harus membuat pantai secara realistis. Bahkan cahaya dan suara dapat membuat penonton membayangkan malam di Kampung Laut.
Tantangan
Naskah ini perlu menjaga agar perubahan sikap tokoh tidak terlalu sederhana. Lebih menarik adalah jika perubahan itu menyisakan pertanyaan. Apakah ia benar-benar memahami tradisi? Ataukah ia hanya mulai menghargainya karena mengalami sesuatu?
Ketika pada akhirnya misteri atau persoalan dibuka sebagai sebuah penipuan, ada kemungkinan energi cerita yang sebelumnya dibangun sebagai misteri menjadi berkurang. Karena itu, sutradara perlu mempertimbangkan kembali pusat ketegangannya. Jangan sampai penonton hanya menunggu: “Siapa yang sebenarnya melakukan itu?”
7 KENDURI SKO karya Fioren Edri
Naskah ini berlatar Desa Tanjung Tanah, Kerinci, dan menjadikan Kenduri Sko sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat. Gendhis digambarkan sebagai anak yang membantu keluarganya dan memiliki cita-cita menjadi dokter. Menjelang pelaksanaan Kenduri Sko, masyarakat mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan upacara.
Kemudian muncul persoalan utama, pusaka yang akan digunakan dalam upacara ternyata hilang. Dari sinilah cerita berubah menjadi semacam misteri anak.
Gendhis mengingat sesuatu yang pernah dilihatnya. Arka ikut membantu. Ada kain yang ditemukan, catatan pesanan kain, penyelidikan terhadap Bu Ratna, hingga kecurigaan kepada Pak Salman. Secara panggung, ini sebenarnya cukup menarik. Ada benda yang dicari, ada petunjuk, ada waktu yang terbatas karena upacara akan segera berlangsung. Ada sejumlah properti yang dapat menjadi pusat permainan. Namun di sinilah kita perlu membedakan antara bahan lokal yang kuat dan dramaturgi yang kuat.
Sebagian besar energi cerita justru digunakan untuk menemukan siapa yang mengambil pusaka. Ketika pelaku akhirnya diketahui dan pusaka ditemukan, konflik utama segera selesai. Pak Salman terbukti bersalah, kemudian pelaksanaan Kenduri Sko dapat berlangsung. Akibatnya, Kenduri Sko sendiri lebih terasa sebagai latar penting bagi sebuah cerita detektif anak, bukan sebagai pusat konflik dramatik.
Padahal, benda pusaka memiliki kemungkinan makna yang jauh lebih besar. Pusaka bukan hanya benda yang hilang. Ia bisa menjadi ingatan, identitas. hubungan antargenerasi. Sesuatu yang membuat sebuah masyarakat mengenali dirinya sendiri.
Tantangan
Dari sisi keaktoran, tokoh Gendhis dan Arka memberi ruang yang cukup baik bagi eksplorasi potensi keaktoran pemain muda. Mereka aktif bergerak, mengamati, membuat dugaan, dan mengambil keputusan. Gendhis bahkan menjadi penghubung penting dalam menemukan petunjuk. Ia mengingat kejadian yang dialaminya dan menghubungkannya dengan kain yang ditemukan. Namun perjalanan batin mereka masih dapat diperdalam.
Naskah ini memiliki cukup banyak benda yang dapat menjadi bahasa visual: pusaka, kain, buku catatan, rumah lama, Keramnatang, bambu berisi lemang, hingga benda-benda pusaka yang dibersihkan dalam prosesi. Pelaksanaan Kenduri Sko sendiri menyediakan kemungkinan visual yang cukup kaya. Tetapi tantangannya adalah jangan sampai semua kekayaan visual itu hanya muncul di bagian akhir. Kalau sepanjang pertunjukan penonton terutama melihat proses penyelidikan, lalu pada akhir pertunjukan baru diperlihatkan Kenduri Sko, maka judul dan isi pertunjukan dapat terasa tidak sepenuhnya seimbang.
Dari Keluarga hingga Tradisi
Tujuh naskah pada bagian ini memperlihatkan bahwa konflik besar dapat tumbuh dari hal-hal yang sangat dekat. Menuak berbicara tentang luka keluarga, Nur tentang hak menentukan masa depan, Patok tentang batas dan kepemilikan, Penurun Hujan tentang cara manusia memahami alam, Secanting Beras tentang ketakutan dan kepercayaan. Sumbun dan Kenduri Sko tentang pewarisan tradisi.
Jika dimainkan oleh kelompok pelajar dan remaja, semua persoalan tersebut dapat dibaca dari pengalaman generasi sekarang. Sebab teater tidak harus selalu bertanya: “Apa yang terjadi dahulu?” Teater juga dapat bertanya: “Apa arti cerita itu bagi kita sekarang?”
Bersambung ke Bagian IV: Ritual, Tubuh, dan Ruang Pertunjukan.
