Membaca Naskah-Naskah Pilihan FTR 2026, Membaca Naskah-Naskah Pilihan FTR 2026, Peta Awal Sebelum Pilihan Diputuskan (Bagian IV)
Ritual, Tubuh, dan Ruang Pertunjukan
Oleh Titas Suwanda
Sampailah kita pada bagian terakhir dari rangkaian pembacaan naskah FTR 2026. Enam naskah terakhir membawa kita kepada bentuk yang sangat dekat dengan panggung: ritual, tubuh, ruang, keluarga, tradisi, dan proses penciptaan teater.
Ada naskah yang memiliki kemungkinan dikembangkan menjadi teater tari (dance teater). Ada yang membutuhkan aktor dengan kemampuan psikologis kuat. Ada yang membutuhkan ensemble. Ada pula yang justru mengajak pemain mempertanyakan bagaimana sebuah pertunjukan diciptakan. Enam naskah tersebut adalah Tari Inai, Tarian Mandi Safar, Tekurung Tangas, Tepasung, Timbang Tebu, dan Malam Terakhir.
- TARI INAI karya Asep Supriyanto
Tari Inai memiliki kekuatan yang langsung terlihat dari sumber budayanya: ritual dan tari. Naskah ini membawa tradisi Tari Inai ke dalam struktur cerita yang berkaitan dengan kerajaan, perkawinan, dan kehidupan masyarakat. Artinya, naskah ini memiliki peluang untuk mempertemukan teater dan tari.
Jangan menjadikan tari sebagai selingan. Jika tari hanya muncul ketika cerita berhenti, maka tari menjadi dekorasi. Sebaliknya, gerak dapat menjadi bagian dari cerita. Tokoh dapat menyampaikan emosi melalui tubuh. Kelompok dapat menciptakan perubahan suasana melalui formasi. Dengan demikian, tari tidak berada di luar drama. Jika ditangani secara kuat, pertunjukan dapat mendekati bentuk teater tari tanpa kehilangan konflik dramatiknya.
Tantangan
Bahaya utama adalah menjadikan cerita kerajaan terlalu konvensional. Jika semua dimainkan secara realis—raja, putri, istana, konflik kerajaan—pertunjukan dapat terasa seperti dongeng biasa. Kekuatan naskah justru dapat dicari pada ritual Tari Inai sebagai pusat bahasa panggung.
- TARIAN MANDI SAFAR karya Citra Nur Aini
Tarian Mandi Safar juga memiliki kekuatan pada ritual. Naskah menghadirkan tradisi Mandi Safar yang berkembang sebagai upacara masyarakat dan memiliki berbagai pemaknaan terhadap keselamatan, wabah, maupun musibah. Naskah juga menyertakan latar historis mengenai perkembangan tradisi tersebut.
Mandi Safar sebenarnya menyediakan kemungkinan ensemble yang besar. Satu orang melakukan ritual, yang lain mengamati. Kemudian semua ikut bergerak. Ruang berubah, musik berubah, cahaya berubah.
Tantangan
Seperti Tari Inai, persoalan utamanya adalah bagaimana menghindari bentuk “cerita rakyat yang dijelaskan”. Jika tokoh terus-menerus menerangkan sejarah Mandi Safar, pertunjukan dapat menjadi seperti pelajaran kebudayaan. Padahal penonton datang untuk mengalami pertunjukan.
Karena itu, muatan sejarah sebaiknya diubah. Bisa menjadi gambar, bunyi, gerak, tindakan, dan situasi.
Potensi
Naskah ini sangat mungkin dikembangkan ke arah teater tari atau pertunjukan berbasis ritual. Kekuatan utamanya bukan pada dialog panjang, tetapi pada kemungkinan membangun atmosfer kolektif.
- TEKURUNG TANGAS karya Natasya Salsabilla
Tekurung Tangas bergerak ke wilayah yang lebih psikologis. Sahara adalah perempuan yang menghadapi ketakutan terhadap masa depan hubungan dan pernikahan. Darto, anak-anak mereka, serta Wak Leha menjadi bagian dari lingkungan emosional yang mengelilinginya. Naskah sendiri merumuskan persoalan utamanya sebagai ketakutan terhadap sesuatu yang belum terjadi dan pikiran negatif yang kemudian memengaruhi diri.
Konfliknya berada di dalam kepala tokoh. Ini membuat Tekurung Tangas berbeda dari naskah yang konfliknya berasal dari peristiwa eksternal. Musuh utama tokoh bukan seseorang, bukan bencana, bukan hantu. Melainkan pikiran yang terus membangun kemungkinan buruk. Terasa lebih cocok jika naskah ini dijadikan monolog.
Karena itu, pertunjukan dapat menggunakan bahasa visual untuk menghadirkan dunia batin Sahara. Bayangan, suara, pengulangan gerak. Tokoh-tokoh lain yang muncul seperti gema dari pikirannya.
Pemeranan terhadap tokoh Sahara menjadi tantangan keaktoran yang besar. Aktor harus mampu memperlihatkan proses berpikir. Bukan hanya mengatakan “Aku takut.” Penonton perlu melihat ketakutan tersebut bekerja dalam tubuh aktor. Cara duduk berubah, cara memandang berubah, helaan napas berubah, respons berubah. Dengan demikian, keaktoran menjadi pusat pertunjukan.
Tantangan
Naskah dapat menjadi terlalu statis jika seluruh konflik hanya dibicarakan. Sutradara perlu menemukan tindakan konkret yang membuat pikiran Sahara menjadi peristiwa panggung. Jika tidak, pertunjukan dapat terasa seperti sesi percakapan keluarga.
- TEPASUNG karya Medi Saputra
Tepasung merupakan naskah dengan muatan keluarga yang kuat dan sumber lokal yang sangat spesifik. Naskah mengangkat tiga unsur dari Kerinci: Aseik Nyabung, Sijundai, dan pasung. Penulis juga secara eksplisit menjelaskan sumber tersebut sebagai dasar penulisan naskah. Sarah menjadi salah satu pusat cerita, bersama Mak, Bapak, dan tokoh-tokoh lain dalam keluarga.
Seperti Patok dan Kursi Kosong, Tepasung memiliki objek yang dapat menjadi pusat dramaturgi. Pasung tidak hanya benda. Ia dapat menjadi symbol yang merepresentasikan ketakutan, stigma, ketidakberdayaan, cara masyarakat menghadapi sesuatu yang tidak mereka pahami, dan hubungan keluarga.
Jika dipentaskan secara literal, pasung hanya menjadi properti. Tetapi jika diperlakukan sebagai simbol, ia dapat terus hadir bahkan ketika tidak digunakan. Bayangan pasung, bunyi kayu, jejak ruang, gerak tubuh yang terbatas. Semua dapat menjadi bagian dari bahasa pertunjukan.
Tokoh Sarah memiliki ruang yang besar bagi kreativitas keaktoran. Ia digambarkan sebagai perempuan pekerja keras, logis, tegas, penyayang, tetapi juga berada dalam tekanan lingkungan keluarga dan kepercayaan masyarakat. Pertunjukan dapat berpusat pada pengalaman Sarah menghadapi dunia yang berusaha menentukan apa yang terjadi terhadap dirinya.
Tantangan
Naskah memiliki banyak konflik dan unsur dramatik. Karena itu, sutradara perlu berhati-hati agar seluruh persoalan tidak ditumpuk sekaligus. Pilih pusat emosional. Kemudian biarkan persoalan lain mengelilinginya. Jika semuanya ingin dibuat besar, tidak ada yang benar-benar terasa besar.
- TIMBANG TEBU karya Hendry Nursal
Timbang Tebu memiliki energi yang mulanya tampak lebih ringan. Naskah menghadirkan kehidupan masyarakat, tokoh muda, dan sebuah tradisi yang berkaitan dengan anak yang lahir pada bulan Safar.
Tradisi Timbang Tebu dijelaskan melalui penggunaan timbangan: bayi ditempatkan pada satu sisi dan ketan pada sisi lainnya, disertai pembacaan shalawat dan kemudian makan bersama.
Timbangan dapat menjadi pusat visual. Benda itu dapat dimainkan secara nyata. Bisa pula dibuat lebih teatrikal. Yang penting, benda tersebut tidak hanya menjadi properti upacara. Ia menjadi bagian dari konflik dan imajinasi panggung.
Hubungan antara tokoh muda seperti Indra dengan tokoh tua seperti Donteng memberi peluang munculnya komedi sekaligus perdebatan tentang zaman. Ada pembicaraan tentang kemajuan, bahasa asing, kehidupan modern, dan kekayaan yang sebenarnya dimiliki masyarakat. Ini membuka ruang bagi permainan antargenerasi.
Tantangan
Naskah dapat menjadi terlalu mudah jika tokoh tua hanya menjadi “orang yang benar” dan anak muda hanya menjadi “anak yang belum mengerti”. Akan lebih menarik jika kedua pihak memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Generasi tua memiliki pengetahuan. Generasi muda memiliki pertanyaan. Pertemuan keduanya justru dapat menjadi pusat pertunjukan.
- MALAM TERAKHIR karya Laila Fajrianti
Malam Terakhir memiliki bentuk yang berbeda dari sebagian besar naskah lain dalam kumpulan ini. Naskah tidak hanya berbicara tentang sebuah cerita lokal. Ia memperlihatkan orang-orang yang sedang berusaha menciptakan pertunjukan dari cerita dan tradisi. Di dalamnya terdapat proses diskusi, riset, laptop, materi referensi, juknis lomba, dan pencarian bentuk pertunjukan. Bahkan pada bagian akhir, para tokoh menyadari bahwa malam itu merupakan batas terakhir pengumpulan naskah.
Sesungguhnya, teater memang tentang proses penciptaan. Inilah kekuatan utama Malam Terakhir. Biasanya proses mencari cerita terjadi sebelum penonton datang. Dalam Malam Terakhir, proses itu justru dapat menjadi peristiwa panggung yang dipertunjukan.
Para Pemain dapat membuka laptop, mencari informasi, membaca, berdebat, menonton video, mencari referensi, menolak sebuah gagasan, kemudian menemukan gagasan baru. Jika semua itu dimainkan dengan ritme yang tepat, penonton tidak hanya melihat hasil penciptaan. Penonton dapat melihat bagaimana proses penciptaan suatu karya.
Naskah ini sangat dekat dengan cara generasi muda bekerja hari ini. Riset dapat dilakukan melalui internet. Video dapat menjadi referensi. Layar dapat menjadi ruang informasi. Juknis dapat diproyeksikan. Percakapan dapat berlangsung bersamaan dengan pencarian data. Bahkan layar dapat menampilkan apa yang sedang dicari oleh tokoh. Namun multimedia harus memiliki fungsi dramatik. Jika hanya menjadi dekorasi, keunikannya hilang.
Tantangan
Naskah yang berisi proses diskusi sangat mudah berubah menjadi orang duduk dan berbicara. Karena itu, setiap perdebatan harus menghasilkan perubahan. Seseorang menemukan informasi. Orang lain menolaknya. Hubungan mereka berubah. Sebuah gagasan muncul. Gagasan tersebut mengubah bentuk pertunjukan. Dengan demikian, diskusi berubah menjadi tindakan.
Mengapa Malam Terakhir sangat menarik bagi remaja? Karena naskah ini sebenarnya mengajukan pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka: Bagaimana generasi sekarang menceritakan kembali tradisi lama? Apakah harus sama persis? Apa yang boleh diubah? Apa yang harus dipertahankan? Dan ketika tradis masuk ke panggung hari ini, siapa sebenarnya yang sedang berbicara: masa lalu atau generasi sekarang?
Serangkaian pertanyaan tersebut membuat Malam Terakhir memiliki kemungkinan menjadi pertunjukan yang tidak hanya bercerita tentang tradisi, tetapi juga mempertanyakan cara kita menceritakan tradisi.
Menutup Pembacaan: Naskah Bukan Pertunjukan
Dengan Bagian IV ini, seluruh naskah yang terdapat dalam kumpulan pilihan FTR 2026 telah kita bedah dari berbagai kemungkinan panggung. Dari rimba sampai rumah. Dari sungai sampai kerajaan. Dari ritual sampai media sosial. Dari hantu sampai persoalan keluarga. Dari tanah sampai hujan. Dari tradisi lama sampai layar digital.
Satu hal menjadi jelas adalah, naskah tidak pernah sama dengan pertunjukan. Naskah hanya menyediakan kemungkinan. Pertunjukan lahir ketika kemungkinan tersebut bertemu dengan: aktor, sutradara, ruang, cahaya, suara, musik, kostum, properti, waktu latihan, dan imajinasi kelompok.
Karena itu, sebelum memilih naskah, calon peserta FTR sebaiknya tidak hanya membaca sinopsis. Bacalah naskah sampai selesai. Bacalah keras-keras. Coba mainkan satu adegan. Lihat apakah aktor mendapatkan sesuatu untuk dimainkan. Bayangkan ruang panggungnya. Bayangkan penonton.
Kemudian tanyakan kepada kelompok masing-masing “Apakah kita ingin menjalani proses latihan untuk cerita ini?” Sebab memilih naskah pada akhirnya bukan hanya memilih cerita. Tetapi, setiap kelompok sedang memilih perjalanan artistiknya masing-masing.
Perjalanan itulah yang nantinya akan terlihat di atas panggung Festival Teater Remaja 2026.
Baca juga: Bagian V Memilih Naskah, Menemukan Panggung
